HTTP Status[404] Errno [0]

Buronan Penyuap Jaksa, Ditangkap Jaksa

18 July 2012 15:53
Buronan Penyuap Jaksa, Ditangkap Jaksa
Jusmin Dawi, si penyuap
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Jusmin Dawi, si penyuap

BugisPos.com — Koruptor kredit fiktif Bank Tabungan Negara Syariah Cabang Makasar senilai Rp44 miliar yang menjadi buronan penyuap tiga jaksa di Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan, Jusmin Dawi akan digiring ke Makassar usai diringkus tim intelijen Kejaksaan Agung.
“Saya sudah mendengar kabar kalau buronan kami itu sudah ditangkap oleh tim intelijen Kejagung di Jakarta dan rencananya, buronan itu akan segera digiring ke Makassar,” ujar Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan Andi Abdul Karim di Makassar, Selasa 17/7/12 seperti dikutip Antara News.

Dengan adanya penangkapan yang dilakukan oleh tim intelijen Kejagung ini, maka tim Kejati Sulsel akan segera menyiapkan berkas pemeriksaan Jusmin Dawi sebagai tersangka.

Mantan Asintel Kejati Sulselbar ini juga mengaku jika pemeriksaan ini akan dilanjutkan dengan menyiapkan sejumlah berkas untuk buronan lainnya, yakni H Tajang yang menjadi rekan dari Jusmin Dawi dalam memanipulasi berkas kredit BTN Syariah yang merugikan negara sebesar Rp44 miliar.

Koruptor yang diduga telah menyuap tiga jaksa serta seorang staf itu sudah dicopot oleh Kepala Kejati Sulselbar pada periode 2010 itu Adjat Sudrajat. Ketiga jaksa yang dicopot masing-masing, Aharuddin Karim, Andi Makmur dan Mukhtar Temba.

Mereka dicopot secara tidak terhormat karena terbukti melakukan skandal pemerasan terhadap para tersangka korupsi berdasarkan surat putusan dari Kejaksaan Agung (Kejagung) yang diterima Kajati Sulsel beberapa hari lalu.

Aharuddin Karim, Andi Makmur dan Mukhtar Temba dicopot dari jabatannya sebagai jaksa fungsional karena mereka juga terbukti melakukan pemerasan terhadap Direktur PT Aditya Reski Abadi (ARA) Jusmin Dawi sebesar Rp200 juta.

Jusmin Dawi adalah tersangka kasus korupsi kredit fiktif pengadaan kendaraan mobil dan motor di Bank Tabungan Negara (BTN) Syariah Cabang Makassar sebesar Rp44 miliar dengan total anggaran Rp66 miliar pada tahun anggaran (TA) 2008.

Kajati Sulsel Adjat Sudradjat kepada sejumlah wartawan mengungkapkan, pencopotan tersebut berdasarkan surat keputusan yang dikeluarkan Kejagung RI beberapa hari lalu setelah menolak pengajuan gugatan dan banding keempatnya ke Kejagung RI bulan Juni lalu.
“Mereka resmi dicopot karena mereka terbukti melakukan skandal pemeresan terhadap para tersangka dan terdakwa. Itu termasuk kualifikasi hukuman dan sanksi yang paling berat,” ujarnya.
Mengaku Diperas Jaksa

Jusmin Dawi bersama Syarifuddin, dijadwalkan menjalani sidang perdana di PN Makassar, Senin, 31 Januari 2011. Tersangka yang mengaku diperas penyidik Kejati Sulsel ini sudah buron selama satu tahun, namun sampai saat jadwal sidang tersebut tidak diketahui rimbanya.
Makanya, proses sidang terhadap tersangka dilakukan secara in absentia (tanpa dihadiri terdakwa) . Undang-undang tipikor menyebutkan bahwa dimungkinkan pemeriksaan in absentia dalam kasus korupsi.
Dalam kasus dugaan kredit fiktif BTN Syariah ini, tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3, jo Pasal 18 Undang-undang No.31 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Undang-undang No.20 Tahun 2001, tentang Pengubahan Undang-undang No.31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP, jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP.
Kedua tersangka tersebut diduga melakukan kredit fiktif sebesar Rp43.365.462.000 dan rekayasa kredit sebesar Rp834 juta. Dengan demikian, total nilai kerugian negara dalam kasus kredit fiktif itu mencapai Rp44.199.462.000.
Sedangkan jumlah nasabah yang bermasalah dalam kasus itu sebanyak 493 orang. Rinciannya, nasabah yang dinyatakan fiktif sebanyak 484 orang dan sembilan nasabah rekayasa. Kasus kredit fiktif di Bank BTN Syariah Cabang Panakkukang.
Dalam kasus tersebut, tersangka melalui perusahaan yang dipimpinnya, PT ARA merekayasa daftar nasabah yang akan mengambil pembiayaan mobil di BTN Syariah. Rekayasa tersebut dilakukan tersangka dengan cara memalsukan identitas pemohon kredit, khususnya menyangkut pekerjaan dan pendapatan setiap bulan.
Untuk memuluskan aksinya itu, tersangka menjadikan orang tidak mampu yang memiliki pendidikan rendah sebagai target untuk digunakan identitasnya. Warga yang memberikan identitas tersebut dibayar oleh PT ARA antara Rp500 ribu hingga Rp2 juta. Sebagai pembuktian kepada BTN Syariah, warga tersebut difoto dekat mobil sebagai pembuktian telah membeli mobil dengan cara kredit (una)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya