HTTP Status[404] Errno [0]

Lelaki Misterius dari Karebosi, Obati Putri HZB Palaguna

18 July 2012 15:32
Lelaki Misterius dari Karebosi, Obati Putri HZB Palaguna
Karebosi sebelum direvitalisasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Karebosi sebelum direvitalisasi

BugisPos.com — Kisah-kisah mistik tentang Karebosi memang bukanlah cerita dadakan. Berbagai kisah menyertai tanah lapang di jantung kota Makassar tersebut muncul sejak lama. Mungkin seusia dengan zamannya. Tentu banyak yang mengandung kebenaran, namun juga tidak tertutup kemungkinan ada yang meleset, bahkan jauh dari kisah yang pas.

Itulah Karebosi. Legenda yang tak kering dari misteri. Tersebutlah misalnya kisah seorang lelaki misterius yang mengaku bernama Umara. Lelaki tua itu datang ke Balikpapan-Kalimantan Timur di awal tahun 1970-an menemui seorang prajurit TNI (ABRI ketika itu), HZB Palaguna.

“I nakke minne anak, suroanna Tuanta Salamaka. Riwattunna tallasa inji, nakke akkumpulu ri Karebosi. Nia kamara anjoeng. Nia’ ero kuappauwangngiko,” begitu Umara berkata dalam bahasa Makassar kepada Zainal Basri Palaguna, yang artinya ; Sayalah ini anak, suruhannya Tuanta Salamaka (Syekh Yusuf). Sewaktu masih hidup, saya berkumpul di Karebosi. Ada kamar disana (Karebosi). Ada yang saya mau sampaikan ke kamu (Palaguna).

Penggalan kalimat tersebut sekaligus memaknakan keberadaan Karebosi dengan segala misterinya. Umara dalam penggalan kisah HZB Palaguna, seperti yang ditulis dalam buku bertajuk “Jangan Mati Dalam Kemiskinan”, Roman Biografi HZB Palaguna, itu telah memantik sebuah mitos besar akan kebesaran Karebosi. Umara dipandang sebagai anak suruhan dari Tuanta Salamaka, yang pernah bersama-sama bermukim di Karebosi.

Kedatangan Umara seperti dikisahkan dalam buku setebal 363 itu, lebih mengapungkan makna supranatural yang sangat kental, dan memang dipercaya memiliki banyak kelebihan bahkan kerap dikeramatkan. Pengakuannya yang menyebut pernah tinggal di Karebosi sekaligus berarti Karebosi bukanlah tempat biasa, melainkan sebuah lokasi yang mengandung sejuta misteri.

Simak saja misalnya cerita tersebut. “Saya disuruh dari Makassar untuk melihat anak Bapak yang sakit di sini,” ujar Umara setengah pelan namun tegas sehingga membuat HZB Palaguna terkesima. Basri terkaget dan isterinya, Normi, tidak bisa menyembunyikan keheranannya bercampur rasa takut.

Bukan apa-apa. Umara, orang yang barusan saja menginjak rumahnya. Tapi mengapa sampai mengetahui bila si buah hati Palaguna itu jatuh sakit ? Padahal sebelumnya tidak pernah ada komunikasi di antara mereka. Memang ketika itu, anak pertama pasangan Palaguna-Normi bernama Rini dalam keadaan sakit keras. Sudah kesana kemari pergi berobat, namun penyakitnya semakin parah.

“Bila saya memegang anakmu, empat hari kemudian penyakitnya akan pergi dan ia sembuh. Ia akan bisa berdiri,” begitu kalimat yang keluar dari mulut Umara dan didengar baik-baik oleh Palaguna. Tidak lama berselang, Umara malah memerintahkan kepada Basri Palaguna untuk mengambil badik yang ada di atas lemari dan biasa ia raut-rautkan sarungnya lalu dibersihkannya. Umara ingin melihat badik itu.

Bagi Basri, ucapan Umara itu makin membuatnya penasaran. Ini misteri. Bukankah badik itu tidak pernah diperlihatkan, telebih lagi kepada Umara yang baru saja dikenalnya. Dia tersontak. “Bagaimana mungkin dia tahu keberadaan badikku,” desah Basri membatin.

Kendati berkali-kali membantah tidak menyimpan badik tersebut, namun Umara tetap memaksa. “Tolong ambilkan badik itu,” katanya lagi-lagi dalam bahasa Makassar.

Tidak hanya sampai di situ. Rasa takjub Basri kian menjadi-jadi tatkala Umara menyebut tiga dukun yang ada di rumah Basri. Padahal tak sekalipun Basri pernah memberi tahu kalau di ruamahnya ada dukun yang dipanggil untuk menyembuhkan sakitnya Rini. Seketika tiga dukun perempuan itu keluar dan berteriak histeris dan jatuh pingsan.

Anehnya, Rini kecil tiba-tiba sudah bisa bergerak seketika Umara duduk bersimpuh di dekatnya. Umara menyampaikan doa dengan mulut yang komat-kamit.

Rini yang kemudian ditakdirkan menjadi dokter itu menangis dengan suara lantang. Padahal, berhari-hari tak pernah terdengar suaranya. Tak cuma bersuara, tapi Rini kini malah sudah bergerak.

Sesuai ajakan Basri, Umara akhirnya menginap. Banyak keanehan menyertai kedatangan tamu yang mengaku dari Makassar dan pernah menetap di Karebosi ini. Misalnya ketika Basri mendengar suara seperti orang yang sedang mandi, air mengguyur ke lantai. Namun alangkah kagetnya ketika lelaki itu keluar, tubuhnya kering. Tidak basah.

Keesokan harinya Umara pamit minta pulang. Basri mengantarnya ke Pelabuhan. Seorang nakoda mengenal lelaki itu. Umara rupanya menumpang di kapal itu dari Makassar. “Motere’ ma’ anne,” ujar Umara kepada nakoda tersebut.

Kepada Basri, nakoda itu bercerita bahwa pria itu ikut di perahunya sejak di Pelabuhan Poetere. Nakoda itu sebenarnya enggan mengabulkan permintaannya. Disuruh turun, tidak mau. Karena setengah memaksa, akhirnya diikutkan juga.

Keanehan terlihat ketika jelang tiba di Kalimantan, perahu diterjang angin kencang hingga oleng. Semua orang diikat di perahu agar tidak sampai terjatuh. Tetapi lelaki itu jalan saja di atas perahu. Dia mengangkat tangannya dan berdoa. Badaipun reda. Nakoda itu heran. Siapa pria aneh ini?

Ketika ingin mencukur jenggot dan cambangnya, pisau yang digunakan tidak mempan. Malah tidak tercabut ketika anak buah kapal mencabutinya.

Kepada Basri, Umara pernah berkata: “Punna kuciniko, teaiko tau berani. Si ke’de’ji baraninu. Tena nubarani mae angngolo ri Karaeng Alla Taala. Ikau sangnging barani linoji, kabaraniannu tekkulleai ni pake”. (Kalau saya lihat kamu, kamu bukan orang berani. Hanya sedikit keberanianmu. Kamu tidak berani menghadap Allah SWT. Kamu semata berani dunia saja, keberanianmu tidak bias dipakai)

Sepintas kalimat di atas menunjukkan ketinggian pengetahuan supranatural yang dimiliki seorang Umara. Tak sampai menunjukkan keakuannya, melainkan bersandar pada kekuasaan sang pencipta Allah SWT. Kalimat yang kerap digunakan oleh orang-orang arief billah, orang-orang yang sempurna keimanan dan ketaqwaannya. Orang seperti itu kerap disebut wali.

Selain membutkikan bahwa Rini kemudian sembuh dalam waktu singkat, kalimatnya yang mengatakan bahwa Basri akan balik memimpin Sulawesi Selatan, kemudian juga terbukti.

Itulah sosok misterius seorang yang mengaku bernama Umara. Sayangnya, meski kalimatnya terbukti benar, tapi Basri tak pernah bisa bertemu dengan Umara lagi. Hanya sekali itu saja, sewaktu masih di Balikpapan.

Penggalan kalimat dari episode kisah Umara dengan HZB Palaguna itu

bukanlah sekadar cerita biasa melainkan penuh muatan makna. Paling

tidak menggambarkan betapa besar keterkaitan antara Karebosi yang

tak lekang dari kisah-kisah penuh misteri (usman nukma)

Â

Â

Â

Â

Â

Â

Makam Tujua Karebosi sebelum Karebosi direvitalisasi (dok-MITOS)

Â

Â

Â

Â

Â

Â

Â

Â

Bagian Sembilan

Â

Yang Aneh-aneh

di Karebosi

Bagian Sembilan

Â

Yang Aneh-aneh

di Karebosi

P

eristiwa aneh-aneh yang terjadi di Karebosi, sudah menjadi hal biasa sepanjang sejarah. Seandainya kejadian demi kejadian dibukukan, maka sudah ratusan jilid buku bisa diterbitkan.

Fuoda Ntsama, pemain sepak bola asal Afrika yang dikontrak PSM, saat berlatih di Karebosi, tak sengaja buang air kecil di salah satu makam Tujua. Saat kembali ke lapangan, kakinya sedikit terkilir. Anehnya, cedera ringan itu tak bisa disembuhkan, Dia pun gantung sepatu seumur hidup. Itu cerita Abdul Haris, manajer lapangan PSM, seperti dikutip Majalah TABIR Jakarta edisi 5-2009.

Tugas Haris setiap jadwal latihan malam PSM, ialah memastikan semua pintu lapangan sudah terkunci sebelum lampu dipadamkan. Pemain dan yang lainnya sudah duluan pergi. Tinggallah Haris sendirian. Saat-saat seperti itulah keanehan seringkali bermunculan.

Antara lain keanehan dimaksud, ialah sering munculnya sejumlah Kuda berpacu keliling lapangan, lalu menghilang di tempat pertama mereka muncul, itu sudah biasa. Pokoknya, setiap selesai PSM latihan, lampu dimatikan, maka ada-ada saja bentuk keanehan yang muncul, terutama pada malam Jumat dan Senin.

Abd.Kadir Majid (65), sudah 30 tahun jadi penjaga Makam Tujua. Dia menggantikan tugas Dg.Naba, yang meninggal tahun 1969. Kadir selama jadi penjaga disitu, yang hidup atas sedekah para peziarah, telah melihat setumpuk peristiwa aneh. Macam-macam keanehan yang terjadi di sekitar makam. Tapi yang paling sering dia saksikan, ialah kemunculan tujuh orang yang kerap berpakaian adat Bugis Makassar. Yang selalu berposisi di tengah, adalah seorang wanita yang suka memakai baju bodo. Selain itu, ayah 5 anak ini juga sering menyaksikan sekelompok kuda mengelilingi lapangan Karebosi di malam hari. Juga, tak jarang dia mencium bau kembang, atau suara orang yang sedang bicara, padahal di tempat itu sudah tak ada orang lain selain dirinya.

Lelaki asal Bantaeng yang tinggal di Sungguminasa ini kepada penulis menjelaskan, para peziarah yang datang, biasanya lebih dulu ziarah ke makam Datu Museng, lalu ke makam Raja Tallo, dan terakhir ke Makam Tujua Karebosi. Mereka umumnya datang berdo’a dan menabur bunga. Ada juga peziarah tertentu yang datang melepas hewan, seperti ayam atau kambing. Mereka datang memenuhi nazar.

Istana Kerajaan Tujua

Â

Herman (21), lulusan SMU 8 Makassar yang tinggal di Jl.Dangko, atas petunjuk jin bersorban, dia disuruh ziarah ke makam Tujua sebelum petang, pada tanggal 22 Maret 2009.

Ketika Herman tiba di Karebosi menjelang magrib, dia tiba-tiba menyaksikan sebuah istana besar berwarna kuning keemasan. Istana itu terlihat seperti bentuk

bangunan istana dalam cerita dongeng seribu satu malam. Sesungguhnya itu adalah istana Kerajaan Tujua, yang hanya bisa dilihat pada saat penglihatan gaib seseorang sedang terbuka.

Kedatangan Herman ke Tujua, adalah proses lanjutan sesudah dia disekap oleh mahluk halus di Bontonompo beberapa waktu sebelumnya.

Sekarang, Herman telah menjalani profesi sebagai ‘orang pintar’ atau dukun, yang telah cukup banyak menyembuhkan berbagai penyakit, terutama bagi masyarakat yang kurang mampu.

Agaknya, mahluk halus yang membimbing Herman sehingga akhirnya dia menjadi dukun, ada kaitannya dengan Kerajaan Jin Tujua Karebosi.

Banjir

Â

Tatkala terjadi banjir di Karebosi Link tahun 2008, seluruh kios yang ada di areal underground, terendam air sampai batas lutut. Penyebabnya, pertemuan saluran air yang dari arah Jl.G.Bulusaraung menuju Jl.A.Yani, sementara dikerjakan, lalu tiba-tiba turun hujan deras. Pintu air ke saluran Jl.Achmad Yani dalam keadaan sempit. Hal ini karena soal teknis. Maka air selokan yang tiba-tiba sangat deras, membobol ke samping mencari daerah rendah, dan masuklah ke underground, kawasan kios bawah tanah Karebosi Link. Ketika peristiwa itu, demikian banyak suara aneh terdengar di antara teriakan panik para pengunjung dan pelayan kios.

Sebetulnya, hal itu adalah hasil kerja dunia gaib yang ada di Kerajaan Tujua Karebosi. Para pekerja dipengaruhi secara gaib agar melalaikan tumpukan tanah yang menyumbat pintu selokan yang mengarah ke Jl.Achmad Yani. Lalu Karaeng Tu Angngerang Bosia mengerahkan hujan yang tiba-tiba sangat deras, lalu terjadilah air bah dari selokan Jl.Gunung Bulusaraung.

Hal ini dilakukan, hanya sebagai peringatan saja. Pesan Kerajaan Tujua kepada pengelola Karebosi, bahwa jangan pernah menjadi sombong dan angkuh atas apa telah dilakukan, dan yang akan dilakukan ke depan di Lapangan Karebosi. Sebab kesombongan bisa menimbulkan marah-bahaya.

Karaeng Tu Mabbicarayya mengatakan, pihak Kerajaan Tujua sesungguhnya sangat senang dengan Revitalisasi Karebosi. Sebab, antara lain, kelompok waria yang mengotori lapangan selama ini dengan perbuatan maksiat, sudah tidak ada. Tapi kepada pengelola diingatkan, agar senantiasa menghormati Kerajaan Tujua, seperti yang dilakukan saat-saat sebelum revitalisasi dikerjakan, yakni berzikir. Katanya, biasanya manusia kalau sudah berhasil melakukan sesuatu, maka langkah permulaannya selalu dilupakan. Itulah yang biasanya melahirkan bencana.

Mushallah

Mushalla yang dibangun di bagian barat lapangan Karebosi, rupanya tidak dibuka setiap saat. Sehari-hari mushalla ini dalam keadaan terkunci.

Wartawan Majalah MITOS, Arwan dan Ali, bertandang ke mushalla ini pada 30 Agustus 2009, untuk mengambil gambar. Disana mereka ternyata didatangi Kerajaan Tujua. Agaknya ada alam gaib rahasia terungkap disitu. Saat sore mereka tiba di Karebosi, mereka disambut oleh Tujua dengan sebuah tanda, berupa sekilas cahaya kuning samar. Cahaya itu terlihat turun dari langit. Selanjutnya, mereka didekati, lalu Tujua mengirim salam kepada semua awak redaksi Majalah MITOS. Maka sibuklah Arwan dan Ali mengirim sms ke semua awak redaksi.

Fenomena kedatangan Tujua dari langit, semakin memberi keyakinan, bahwa Tujua tidak selalu bersemayam di makam tersebut. Mereka sering bepergian sesuai kompetensinya masing-masing. Namun Makam Tujua pada setiap saat dijaga ratusan ribu jin mengawal.

Agaknya, Kerajaan Tujua mengingatkan kepada pengelola Lapangan Karebosi, agar mushalla Nurul Hikmah II yang dibangun itu, supaya dibuka setiap waktu, agar dapat dipergunakan oleh masyarakat umum melaksanakan shalat. Percuma membuat mushalla disitu kalau tidak untuk dipakai setiap waktu. Jangan hanya sebatas kepentingan shalat id saja baru mushalla ini digunakan. Dikatakan, agar pengelola menugaskan karyawan disitu melayani orang yang mau shalat. Itu tidak akan merugikan pihak pengelola dari segi bisnis. Agaknya, penekanan Tujua ini cukup serius, dan perlu disikapi Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin dan PT Tosan Permai Lestari. Agaknya, hal ini bukan sesuatu yang aneh. Logika dunia gaib, sama saja dengan logika manusia. Mushalla ini jangan hanya dipakai sebatas jadi podium shalat id.

Â

Pohon Besar

Di tepi Lapangan Karebosi sebelah utara, yakni dekat dengan sisi Jl.Achmad Yani, terdapat pohon tua yang besar dan rindang. Daunnya sangat lebat pada musim hujan, namun daun-daunnya berguguran pada masa musim kemarau.

Di bawah pohon yang rindang ini, selama lapangan belum direvitalisasi, senantiasa ramai dikunjungi masyarakat. Di tempat ini memang hamper setiap hari dijadikan lokasi strategis bagi para penjual obat kaki lima.

Di areal ini juga terdapat sejumlah kios makanan dan minuman, termasuk warung makan yang menjual sup dan ikan bakar, coto, pallu basa, pallu’mara, dan sejumlah makanan khas Bugis Makassar.

Pada suatu waktu, ada seorang lelaki membawa gergaji listrik menuju pohon tersebut. Sesampai didekat pohon, lelaki tersebut beraksi dengan penebang pohon tersebut dengan gergaji.

Namun apa yang terjadi, baru saja gerhajinya melengket ke pohon. Lelaki itu tiba-tiba pingsan tidak sadarkan diri.

Masyarakat yang menyaksikan peristiwa tersebut ada yang berkomentar, bahwa lelaki tersebut ditegur oleh sang penunggu pohon. Penunggu pohon itu marah bila ada yang mencoba menebang pohon tempat tinggal mereka.

Dalam cerita rakyat berkembang di masyarakat tentang setan Sumiati, ada yang mengatakan, bahwa meninggalnya Sumiati akibat gantung diri di pohon

tersebut. Entahlah. Sekarang, pohon dari jenis kayu korek ini, masih terpelihara. Dan yang terdapat di bawah pohon tersebut sekarang ini setelah revitalisasi, ialah sebuah bangunan yang diberi nama Pondok Catur, yang sekaligus berfungsi sebagai Warung Kopi milik PT Tosan Peremai Lestari.

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya