HTTP Status[404] Errno [0]

Tidak Perlu Menabur Bunga di Makam Tujua Karebosi

22 July 2012 18:40
Tidak Perlu Menabur Bunga di Makam Tujua Karebosi
Gambar Tujua Karebosi yang dilukis Achmad Fauzi 7/4/2009 ; Dari kanan : Makam Tujua Karebosi, Karaeng Tu Mabellayya (Raja Jin Karebosi yang ber kuasa sampai di Australia Utara), Karaeng Tu Mabbicarayya, Karaeng Tu Maccinika, Karaeng Bainea, Karaeng Tu Nipallanggayya, Karaeng Tu Apparumbu Pepeka, Karaeng Tu Angngerang Bosia

Gambar Tujua Karebosi yang dilukis Achmad Fauzi 7/4/2009 ; Dari kanan : Makam Tujua Karebosi, Karaeng Tu Mabellayya (Raja Jin Karebosi yang ber kuasa sampai di Australia Utara), Karaeng Tu Mabbicarayya, Karaeng Tu Maccinika, Karaeng Bainea, Karaeng Tu Nipallanggayya, Karaeng Tu Apparumbu Pepeka, Karaeng Tu Angngerang Bosia

BugisPos.com – Ternyata masih demikian banyak orang yang menganggap, bahwa tujuh tanda menyerupai kuburan yang ada di sisi selatan Lapangan Karebosi, adalah sebuah kuburan yang di dalamnya dikuburkan jasad manusia. Juga masih banyak orang yang datang ke lokasi tersebut dengan maksud berziarah, dimana menganggap bahwa yang dia ziarahi adalah kuburan manusia. Tiap bulannya begitu banyak peziarah yang datang, dengan tujuan ziarah mulai dari Kuburan Raja-raja Tallo, lalu ke Kuburan Sultah Hasanuddin di Gowa dan beberapa kuburan bersejarah lainnya, dan yang terakhir mereka ziarah ke Makam Kerajaan Tujua di Karebosi. Banyak di antara peziarah, membawa bunga yang harum, yang juga ditaburkan ke Makam Tujua Karebosi.

Pada abad ke-5, areal Lapangan Karebosi dan sekitarnya, masih tertutup laut. Karena proses sedimentasi dari sungai Jeneberang, akhirnya pada abad ke -7 areal ini berubah menjadi daratan. Sejak saat itulah Kerajaan Jin Tujua mulai menempati salah satu sisi daratan yang baru itu, yang kemudian masuk kedalam areal Karebosi, meskipun saat itu Kerajaan Tujua belum memperlihatkan tandanya kepada bangsa manusia. Seperti diketahui, bangsa jin (mahluk halus) leluasa bisa melihat manusia, tapi manusia tidak mudah melihat sosok bangsa jin. Namun dalam pandangan Islam, bangsa jin dan manusia sama-sama menyembah Allah SWT. Nabi bagi bangsa jin yang menganut agama Islam, juga tak lain nabinya adalah Nabi Mahmmad SAW.

Pada abad ke-10, berlangsung kemarau panjang di Gowa –Tallo (Makassar) dan sekitarnya, selama 7 tujuh tahun. Dan selama tujuh tahun itu pula terjadi pertikaian antar kelompok di daerah ini. Kemarau tersebut kemudian berakhir dengan turunnya hujan deras disertai halilintar dimana-mana, yang berlangsung selama tujuh hari tujuh malam. Pada hari ketujuh, hujan pun reda, petir yang menggelegar selama tujuh hari itu juga berhenti. Di langit sebelah barat terlihat pelangi yang terbentuk dari gerimis hujan dan cahaya matahari yang samar.

Di dekat sebuah lokasi genangan banjir yang airnya perlahan menyusut sebab sebagian mengalir ke laut, berkumpul sejumlah warga. Dari bekas genangan itu kemudian tiba-tiba muncul tujuh gundukan tanah yang berderet dari utara ke selatan. Jarak antara setiap gundukan tanah dengan gundukan tanah lainnya, sekitar satu meter. Dan dari masing-masing gundukan tanah itu kemudian muncul sesuatu menyerupai manusia yang mengenakan jubah berwarna kekuning-kuningan, disertai dengan bau kembang yang harum.  Dari gundukan tanah yang di tengah, adalah sosok wanita, sedang yang lainnya sosok laki-laki. Namun hanya hitungan dedik, ke tujuh orang berjubah itu pun menghilang. Dan gemparlah warga setempat, yang kemudian menyebar ke seluruh negeri.

Sejumlah orang pintar saat itu kemudian mendiskusikan kejadian tersebut, dan disimpulkan bahwa tujuh sosok manusia yang muncul dari tujuh gundukan tanah itu, tak lain adalah Anrong Bosi dalam bahasa Makassar (Induk Hujan) atau sejenis mahluk halus yang telah mendatangkan hujan setelah kemarau selama tujuh tahun. Lantas tempat ke tujuh gundukan tanah itu pun diberi nama Kanrobosi (Anrong Bosi) yang kemudian pada perjalanannya dari abad ke abad berubah nama menjadi Karebosi.

Sejak saat itulah masyarakat sering datang ke lokasi tujuh gundukan tanah itu berziarah sambil membawa bunga. Ada juga yang datang melepas hewan karena nazarnya tercapai, dan banyak pula yang datang ziarah dengan tujuan minta jodoh, kesembuhan dari sakit, rezeki, dan lain-lain. Kegiatan ziarah ke tempat tersebut bahkan sampai sekarang di tahun 2012 ini, setiap hari tetap saja ada yang datang berziarah, dan tak lupa membawa bunga.

Di zaman kerajaan Gowa yang dimulai pada abad ke-13, Â areal Lapangan Karebosi dijadikan sawah pangnganreang oleh Kerajaan Gowa, dengan tetap memelihara dan menghormati makam tersebut. Dan dalam proses perjanalannya kemudian, lahan ini dijadilan alun-alun upacara kerajaan. Tempat pertemuan raja-raja di wilayah kerajaan Gowa-Tallo. Pada zaman Belanda, areal ini tetap dipelihara sebagai areal alun-alun. Belanda sendiri tak berani membongkar ke tujuh gundukan tanah itu.

Di zaman Walikota HM Dg.Patompo, makam ini pernah dibongkar dan diratakan dengan tanah, tetapi kemudian muncul kembali setelah seorang pengusaha Malaysia keturunan Bugis mendapat mimpi, agar datang memperbaiki kembali makam itu. Zaman Walikota Soewahyo juga makam itu pernah diratakan dengan tanah saat lapangan diperbaiki untuk tempat latihan anak-anak PSM. Kemudian seorang warga Tionghoa di Makassar diberi mimpi agar berbaik hati dapat memperbaiki makam yang diratakan dengan tanah tersebut. Makam itu pun ditata kembali.

Terakhir Walikota Ilham Arief Sirajuddin tidak berani membongkar makam tersebut, lalu minta Hasan Basri selaku pemilik PT Tosan yang merevitalisasi Lapangan Karebosi, agar menata ke tujuh makam itu sebaik-baiknya. Dan Hasan Basri melakukannya dengan baik. Bahkan sebelum Lapangan Karebosi direvitalisasi, dilakukan ritual zikir di lokasi makam. Tujuannya, minta agar pengerjaan revitalisasi Karebosi tidak terganggu oleh mahluk halus Kerajaan Tujua yang selama ini menguasai Karebosi.

Tujuh makam tersebut, bukan kuburan seperti disangka banyak orang ; tetapi merupakan tanda (makam) ; yang berjejer dari utara ke selatan, masing-masing merupakan tanda atau tempat Karaeng Tu Mabellayya (Raja tertinggi di antara tujuh raja Karebosi, dan berkuasa di dunia gaib sampai ke daratan Australia Utara), Karaeng Tu Mabbicarayya, Karaeng Tu Maccinika, Karaeng Bainea, Karaeng Tu Nipallanggayya, Karaeng Tu Apparumbu Pepeka, dan Karaeng Tu Angngerang Bosia.

Ke tujuh Raja Jin Karebosi di bawah perintah Karaeng Tu Mabellayya ini, menjadikan tujuh makam itu sebagai tempat pertemuan kerajaan. Mereka tidak setiap saat berada disitu, namun ratusan ribu bangsa jin yang menjaga makam Tujua ini sepanjang masa. Nanti ada agenda penting, barulah ke tujuh Raja jin ini kumpul di Makam Tujua untuk mengambil suatu keputusan.

Karaeng Tu Mabbicarayya selaku Juru Bicara Kerajaan Tujua Karebosi berpesan, agar setiap orang yang datang ziarah ke Makam Tujua, jangan membawa bunga. Sebab yang ditaburi bunga itu adalah kuburan orang mati, sedang makam Tujua Karebosi bukan kuburan, melainkan hanya berupa tanda. Tujua Karebosi menganjurkan agar peziarah yang datang, cukup membaca surah Al Fatihah ke masing-masing makam. Juga jangan meminta macam-macam saat berziarah karena Tujua Karebosi bukan Tuhan. Mereka juga mahluk ciptaan Tuhan yang wajib menyembah Allah SWT. Aktifitas Kerajaan Tujua Karebosi ialah menyebarkan Syiar Islam di kalangan bangsa jin, mulai dari Asia Tenggara hingga Australia Utara. Dan agaknya, kolaborasi antara manusia dan bangsa jin di zaman kerajaan Gowa-Tallo serta kerajaan di tanah Bugis, semakin dapat dipercaya adanya, sebab daerah-daerah taklukan orang-orang Bugis-Makassar, juga sampai menjelajah ke Asia Tenggara hingga ke Australia Utara, sama dengan daerah taklukan Tujua Karebosi dalam konteks dunia gaib. Tujua Karebosi juga tidak mengisyaratkan membantah anggapan ini (Usdar Nawawi)


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya