HTTP Status[404] Errno [0]

Apa Kata Bakal Calon Walikota Makassar ?

23 July 2012 17:19
Apa Kata Bakal Calon Walikota Makassar ?
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Aswar Hasan

Menjadi walikota bukanlah hal yang mudah. Khususnya jika yang kita maksud adalah wali kota yang dapat memenuhi harapan masyarakat. Maka dalam pada itu, setidaknya diperlukan tiga syarat dasar dan tiga syarat penentu tentang siapa dan bagaimana seharusnya sang bakal calon menjadi Walikota Makassar ke depan.

Pemilihan Walikota Makassar masih sekitar setahun. Pastinya, setelah Pemilihan Gubernur Sulsel. Tetapi sekarang sudah ramai tersebar baliho dengan aneka gaya dan jargon. Sosialisasi dan konsolidasi para kandidat pun ramai di berbagai media massa.
Dalam pada itu, Celebes TV sebagai salah satu TV berita lokal melalui program Celebes Informal Meeting mengundang para bakal calon untuk ikut berbincang dalam acara yang dikemas secara live dengan mengetengahkan tema: “Makassar mau dibawa kemana”. Ada sembilan bakal calon yang hadir dan semuanya mengemukakan sejumlah persoalan Kota Makassar berikut konsep solusinya.
Berbicara tentang Makassar mau dibawa kemana, berarti kita memersoalkan visi, misi, dan program. Sebuah visi berarti cakrawala atau pandangan terjauh seseorang ke depan, berupa cita-cita dan bukan angan-angan atau impian yang tak berpijak pada kondisi objektif (situasi empiris).
Visi seorang kandidat Walikota Makassar tentang mau dibawa kemana Makassar, dapat saja berbeda antara satu dengan lainnya. Kata filsuf Konrad Adenauerr bahwa kita semua hidup di bawah kolong langit yang sama, tetapi tidak semua orang punya cakrawala atau cara pandang (visi) yang sama.
John C Maxwel membagi sikap pendirian seseorang tentang visi dalam empat kategori, yaitu: Pertama, orang yang memang tidak memiliki visi sehingga hidupnya laksana seorang musafir yang entah hendak menuju kemana. Kedua, orang yang memiliki visi tetapi ia sendiri tidak terobsesi mengejarnya. Kelompok inilah yang kemudian menjadi bagian terbesar karena hanya menjadi pengikut.
Ketiga, orang yang memiliki visi dan mengejarnya untuk kepentingan diri sendiri, karena ingin berprestasi. Keempat, orang yang memiliki visi secara pribadi yang terkait dengan kepentingan orang banyak dan terobsesi merealisasikannya dengan melibatkan (demi membantu) orang lain. kelompok terakhir inilah yang dapat disebut sebagai pemimpin.
Seorang pemimpin dengan visinya tersebut, tentu harus bisa meraihnya melalui misi berupa langkah konkrit dengan menjabarkannya secara detil rasional obyektif dalam bentuk program, berdasarkan kondisi permasalahan yang harus diselesaikan.

15 Soal
Menjadi pemimpin memang seharusnya mampu mengidentifikasi sejumlah persoalan dan dapat membuktikan bahwa ia dapat menyelesaikannya, sehingga keadaan menjadi jauh lebih baik.
Dalam identifikasi penulis terhadap wacana yang berkembang dari sembilan bakal calon Wali Kota yang tampil di forum Celebes Informal Meeting, terdapat lima belas persoalan yang menurut mereka perlu dibenahi manakala terpilih menjadi Walikota Makassar. Kelima belas persoalan tersebut adalah: 1. Kemacetan, 2. Kebersihan, 3. Banjir, 4. Pelayanan publik, khususnya kesehatan, 5. Daya serap angkatan kerja (khususnya sarjana), 6. Kualitas pendidikan, 7. Perbaikan sarana dan prasarana infrastruktur, 8. Tata ruang agar tidak terkesan Makassar sebagai Kota Ruko, 9. Membenahi citra kota yang telah terstigma sebagai Kotanya para demonstran yang anarkis (destruktif), 10. Kualitas dan mentalitas SDM aparatur yang belum berkontribusi pada pembangunan secara efektif dan efisien, 11. Belum terbangunnya sistem dan tegaknya aturan sebagai sistem norma dan budaya yang positif, 12. Belum terlibatnya stake holder secara merata dalam konteks partisipasi publik, 13. Masih terjadinya kebocoran anggaran dan alokasi yang belum maksimal berpihak pada belanja publik, 14. Belum terbangunnya sens of belongingness yang menumbuhkan rasa cinta terhadap Kota Makassar, 15. Pentingnya mengedepankan kepemimpinan yang berketauladanan, sehingga dapat dicontoh oleh aparat dan masyarakat Kota Makassar.
Kelima belas pokok soal tersebut, merupakan kompilasi pandangan dari sembilan bakal calon yang telah tampil mengemukakan konsep dan solusinya masing-masing. Pertanyaannya kemudian, siapakah diantara mereka yang paling kapabel dan bergaransi untuk bisa mengatasi kelima belas pokok persoalan tersebut? Untuk mendapatkan gambaran sosok solusinya, tentu tidak mudah. Setidaknya, diperlukan sejumlah prasyarat.

Syarat Penentu
Menjadi walikota bukanlah hal yang mudah. Khususnya jika yang kita maksud adalah wali kota yang dapat memenuhi harapan masyarakat. Maka dalam pada itu, setidaknya diperlukan tiga syarat dasar dan tiga syarat penentu tentang siapa dan bagaimana seharusnya sang bakal calon menjadi Walikota Makassar ke depan.
Tiga syarat mendasar tersebut, adalah: Pertama, apakah ia memiliki kapasitas yang meliputi kapasitas intelektual dan kapasitas material. Kapasitas intelektual mencerminkan tingkat kecerdasan dalam memahami persoalan dan menemukan solusinya. Sementara kapasitas material, meliputi kemampuan daya dukung ongkos politik (bukan money politics) yang dia miliki dalam menghadapi proses Pemilukada, khususnya dalam menggerakkan mesin politiknya untuk mengatasi kompetitornya.
Syarat kedua, adalah apakah sang calon bergaransi integritas yang tinggi? Artinya, sejauhmana ia dapat dipercaya sebagai pemimpin yang amanah. Dan syarat yang ketiga, adalah apakah yang bersangkutan memiliki track record (rekam jejak) berupa pengalaman kepemimpinan yang mumpuni untuk kompatibel sebagai Wali Kota Makassar ke depan.
Ketiga syarat mendasar tersebut, merupakan domain ideal. Artinya, secara real belum menjamin yang bersangkutan berpeluang secara menentukan untuk menjadi Wali Kota Makassar ke depan. Olehnya itu, diperlukan syarat penentu.
Syarat penentu untuk menjadi Walikota Makassar kedepan, setidaknya juga akan ditentukan oleh tiga syarat utama, yaitu: Pertama, apakah ia populer dan sejauhmana masyarakat mengenalnya. Untuk hal ini, para Master Campaign biasanya menyarankan memperkenalkan diri lewat baliho sebanyak-banyaknya dan semenarik mungkin, atau melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat dalam acara massal yang sifatnya menolong dan menarik simpatik.
Kedua, apakah masyarakat tidak resisten dengan sang kandidat karena sejumlah masalah yang menderanya. Dengan kata lain apakah masyarakat dapat menerimanya dengan sepenuh hati (acceptabilitas).
Ketiga, setelah menjadi populer, dan dapat diterima oleh masyarakat, maka sejauhmana ia mampu meyakinkan masyarakat pemilih bahwa diantara sejumlah calon, ia layak dipilih (elektabilitas).
Akhirnya, siapakah yang nantinya dipilih oleh masyarakat menjadi Walikota Makassar ke depan? Rasanya masih terlalu jauh untuk memprediksinya. Entahlah kalau menurut paranormal atau dukun politik. Tapi saya sarankan, kalau Anda sebagai calon, sebaiknya jangan mendekatinya, karena itu perbuatan yang amat dimurkai Tuhan. Ketahuilah bahwa politik itu adalah power, hitung-hitungan, taktik dan strategi, adu daya tahan dan spirit fighting. Olehnya itu, bekerjalah mulai sekarang sesuai kaidah yang telah penulis bentangkan. Tetapi jangan lupa, berdoa kepada Allah SWT.***

Aswar Hasan adalah Dosen Komunikasi Politik Unhas Makassar

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya