Nojeng yang Cerdas, Cicang yang Kencang

23 July 2012 17:06
Nojeng yang Cerdas, Cicang yang Kencang
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

DUA putra bupati yang sama berada di bawah bendera kuning Partai Golkar, ternyata mendapat nasib yang sama. Yang berbeda ialah sikap keduanya dalam menerima keputusan DPP Golkar. Keduanya sama berada di level kedua hasil survey DPP. DPP Golkar pun menawari keduanya di posisi calon wakil bupati.

Nojeng kemudian menerima tawaran itu dan bersedia menjadi wakil dari Burhanuddin Baharuddin. Dan pasangan ini memang terlihat yang paling kuat di Pilbub Takalar. Ini pilihan cerdas yang diperlihatkan Nojeng, yang memang oleh ayahnya, bupati Takalar Ibrahim Rewa, dipersiapkan sejak lama sebagai penerus tahta kepemimpinan di Takalar. Dan bukan tidak mungkin Nojeng yang bernama resmi Natsir Ibrahim ini, akan loncat jadi bupati, bila ternyata kemudian Burhanuddin benar-benar tersangkut kasus Bansos. Ini pilihan cerdas yang diambil Nojeng, kata seorang pengamat di Makassar.

Bagi DPP dan DPD Golkar Sulsel, persoalan Takalar sudah beres. Nojeng sudah menghadap Syahrul, dan menyatakan siap jadi wakilnya Burhanuddin. Sebuah langkah politik yang cerdas, dewasa, dan sungguh strategis. Nunduk, tapi mungkin pada suatu saat nanti akan menanduk.

Banyak yang bilang, ini adalah settingan bupati Ibrahim Rewa, yang paham betul bagaimana menggenggam Takalar dengan sebaik-baiknya. Jangan karena mengejar tekukur yang terbang, lalu melepas burung dara yang sedang dijepit di ketiak. Ibrahim Rewa bersama putra mahkotanya tentu sangat aman di bawah rindang beringin. Jangan pernah melepas si burung dara.

Lain Bone Lain Takalar

Persoalan Bone, ternyata lain dengan Takalar. Persoalan Andi Irsan Idris Galigo alias Cicang di Bone. Cicang yang memang sejak lama sudah digadang-gadang oleh ayahnya untuk meneruskan tahta pemerintahan di Bone, menjadi amburadul gara-gara paman Cicang yang memenangkan survey cabup, Andi Fashar Padjalangi. Cicang berada di urutan kedua versi DPP Golkar. Survey itulah pegangan DPP, meskipun ada saja yang menyangsikan. Persoalannya, hasil survey bisa saja dibolak-balik. Di masyarakat rahasia yang namanya survey, akan sangat tergantung pada keinginan si pembiaya survey. Bahkan Capres Golkar sendiri, Ical, baru kemarin menyatakan ; mengenyampingkan hasil survey yang tinggi bagi JK. Itulah gelindingan politik.

Karena itulah agaknya, Cicang, yang tentu saja didukung sang ayah, tak percaya survey, yang dibuktikan secara tiba-tibanya terkumpul KTP dukungan rakyat Bone yang melimpah. Dan semakin menguatkan hati si putra mahkota untuk menolak tawaran DPP menjadi wakil dari sang paman, Andi Fashar Padjalangi.

Cicang rupanya punya sikap keras, kencang. Namun bukan bisa berarti tak cerdas. Disini Cicang memperlihatkan karakter seorang petarung dari kalangan anak muda. Entah nanti dia bisa menang di jalur perseorangan, atau akan keok di ajang pertarungan.

Yang menjadi persoalan kemudian bagi Golkar Bone ialah, bahwa Idris Galigo yang ketua Golkar di Bone, yang tentu dengan pikiran dan hati yang mendua, di antara putra mahkota dan beringin rindang. Bisa jadi, tubuh Idris ada di beringin, tapi jiwanya dapat diyakini adalah untuk kemenangan Cicang. Namun banyak perkiraan, Idris yang cerdas dan lihai, akan bermain dewasa, cantik, tapi sangat mungkin penuh dengan intrik politik. Kekuasaan di Bone tentu saja tak akan begitu mudah dilepas ke orang lain, meskipun orang lain itu adalah dari rumpun keluarga sendiri.

Gaya politik Idris Galigo, bergaya burung Bangau. Dia suka terbang cantik, dan sangat jitu bila menangkap ikan emas di didalam sungai. Dalam konteks politik hasil keputusan DPP, dia beda dengan gaya Ibrahim Rewa, yang memilih gaya Itik berenang. Kepala boleh tenang di atas air, tapi dua kaki dalam air menari-nari. Tak terlihat, tapi sungguh cantik. Bagi Ibrahim, kecantikan politik tak harus terlihat pada saat ini. Tapi lihatlah nanti pada suatu saat. Dan Idris Galigo memilih, yang juga menjadi pilihan buat putranya ; yakni sikap yang kencang, retorik, menantang, dan kalaupun menunduk, tatapannya akan tetap tajam lurus ke depan. Seperti itulah sepak terjang politik Idris Galigo selama ini. Seperti burung Bangau putih dengan bulu berkilau.

Namun yang dapat diyakini ialah, bahwa Ibrahim Rewa di Takalar akan tenang bersama si putra mahkota. Toh hitung-hitungan politik, paling tidak putranya akan menjadi pemimpin Takalar ke depan. Sebab seorang wakil bupati, ujung-ujungnya akan menjadi bupati juga, bila memang itu garis tangannya. Sedang Idris Galigo di Bone bersama sang putra mahkota, akan berjalan di atas bara politik yang sangat panas, di antara beringin sebagai kemestian partai, dan kemestian si putra mahkota untuk menjadi pelanjut kekuasaan di tanah Bone. Semoga saja di Bone dan Takalar akan berlangsung proses demokrasi yang sehat dan nyaman ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya