HTTP Status[404] Errno [0]

Politik Minyak JK

23 July 2012 17:35
Politik Minyak JK
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Husain Abdullah

HARI hari terakhir ini, rakyat Indonesia sedang galau, karena rencana kenaikan BBM yang terpaksa akan ditempuh pemerintah SBY untuk mengatasi devisit APBN.

Seperti biasa tiap kebijakan tidak populis pasti direspon dengan aksi unjukrasa mahasiswa dan juga buruh, tidak terkecuali di Jakarta tapi meluas ke seluruh Indonesia.

Aksi di Medan dan Makassar bahkan berlangsung panas. Kami marah BBM naik, tulis pengunjukrasa Makassar di perut sebuah mobil tangki ukuran 10 ribu liter.

Tak puas dengan itu, mereka membakar sebuah truk Coca Cola dan membagi tabung gas tiga kilo secara gratis. Selasa 27 Maret, mahasiswa turun lagi sesuai janjinya dan kini mereka seakan melengkapi paket Coca Colanya dengan sajian Mc Donald, setelah sejumlah pengunjukrasa merengsek masuk ke restoran cepat saji asal Amerika tersebut di Jalan Sultan Alauddin.

Ketika musim kampanye Pilpres 2009, iklan kampanye andalan SBY-Budiono, ada dua: “katakan tidak pada korupsi,” untuk menggambarkan kelak pemerintahannya dijamin bersih.

Iklan besutan FOX ini, menampilkan Andi Alifian Mallarangeng, Anas Urbaningrum dan Angelina Sondakh. Namun sayang karena tema ini jadi tidak relevan lagi dan cenderung bumerang bagi pemerintahan SBY.

Artinya iklan ini boleh dibilang gagal. Iklan lainnya adalah:  “diturunkan, diturunkan diturunkan lagi,” semacam jualan SBY kepada rakyat bahwa dirinya sukses dan pertama kali dalam sejarah Indonesia, menurunkan harga minyak.

minyak. Iklan ini juga bakal menuai kegagalan, jika saja pemerintah
akhirnya mengembalikan harga minyak ke harga Rp 6.000 seliter.
JK Pasang Badan

Pada era SBY-JK, pemerintah juga menaikkan harga BBM, bahkan sangat mencolok rata rata 125 persen. Tetapi unjukrasa yang terjadi tidak seheboh saat ini, demo kira-kira hanya berlangsung dua hari, sesudah itu rakyat kembali tenang dan bisa memahami. Kenapa bisa lebih tenang?

Ketika era SBY-JK, harga minyak dinaikkan penanggungjawabnya jelas, yaitu HM. Jusuf Kalla, yang akrab disapa JK. Pak JK mengambil alih tanggungjawab dan bahkan berada di garda depan sebagai bumper pemerintah. Dalam kontrak politik SBY-JK, kebetulan JK memang memegang tanggungjawab bidang ekonomi. Untuk kenaikan harga BBM, tentu tetap jadi domain SBY juga karena berimplikasi sosial-politik.

Namun setelah rapat lebih 50 kali tidak ada keputusan maka JK meminta
agar menyelesaikan masalah ini. Bola panas menaikkan BBM akhirnya di tangan JK dan JK pasang badan untuk itu. Bedanya dengan saat sekarang ini, tidak jelas siapa yang mau pasang badan dan terbuka menjelaskan kepada publik mengenai hal ini, tidak juga juru bicara presiden atau officer resmi pemerintahan. SBY
bahkan kini sedang melakoni perjalanan panjang ke Asia Timur, ke China
dan sekitarnya, untuk lawatan dagang serta menghadiri pertemuan tentang
energi nuklir.

Lalu rakyat dibelakang dibiarkan menyaksikan drama tarik menarik antara eksekutif dan legisltif. Pra-kondisi yang berbeda dan sepertinya pemerintah tidak punya strategi untuk mencapai puncak skenario yang pada akhirnya pemerintah harus memutuskan menaikkan harga minyak itu.

Pada era JK, jauh sebelum harga minyak dinaikkan, masyarakat sudah disiapakan dengan ajakan penghematan. JK menyerukan seluruh departemen agar berhemat, mengurangi biaya perjalanan dinas, listrik di kantor kantor pemerintah dan swasta dihemat, ukuran dingin AC diturunkan dari 18 derajat Celcius menjadi antara 25-27 derajat. Seluruh stasiun TV, oleh JK dilarang siaran 24 jam dan harus menghentikan tayangan tepat pada pukul 00.00.
Para pejabat bahkan dilarang menggunakan jas agar tidak kepanasan dan dianjurkan menggunakan batik produksi dalam negeri. Inilah yang dimaksud JK keadilan, susah sama-sama dan senang juga sama-sama.

Dengan pra-kondisi ini masyarakat lalu merasa ada usaha sungguh-
sungguh dari pemerintah untuk memperbaiki kondisi perekonomian. Keteladanan diciptakan sehingga masyarakat berempati. Bedanya dengan
sekarang, kita tidak menemukan komunikasi publik yang bisa mengundang empati serta keteladanan dari masyarakat untuk mendukung program pemerintah.

Komunikasi Politik JK

Hal penting yang tidak berjalan saat ini, adalah komunikasi politik. Sesama koalisi pun terjadi perbedaan sudut pandang soal harga BBM apalagi dengan PDIP yang nota bene partai oposisi bagi pemerintahan
SBY. Pada era SBY-JK, komunikasi politik JK boleh dikatakan licin dan luwes. Sekalipun JK Ketua Umum Golkar, namun ia menempatkan diri sebagai seorang negarawan dan mengayomi semua partai-partai.

Selain membuka komuniasi formal, juga menjelajahi partai-partai dengan
komunikasi informalnya. JK paling pandai membujuk kawan-kawannya di parlemen termasuk dari kalangan PDIP. Ia dengan mudahnya menelpon
Panda Nababan dan Emir Moeis. Kata pak JK sembari mengajarkan
praktek-praktek komunikasi politik:” …Panda Nababan paling sering
saya telpon. Dan ada rasa bangga dan penghormatan bagi Panda seorang
wapres menelponnya.”

Tapi kata pak JK itu penting untuk membuka komunikasi politik. Kita harus terbuka menjelaskan kesulitan yang dihadapi bangsa ini. Dan melihat situasi saat ini, maka bintang yang bisa berperan sebagai komunikator politik itulah yang tidak ada.

Sesudah pak JK menghubungi secara personal tokoh-tokoh politik, biasanya pak JK mengundang seluruh pimpinan media massa untuk berdiskusi dan memberinya bocoran informasi penting tentang kenegaraan yang off the record. Kata pak JK, wartawan paling senang mendapatkan informasi penting dari tangan pertama. Tapi dengan itu, pak JK mengajak seluruh media agar mengemban tanggungjawab dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah. JK membangun partisipasi publik lewat media. Itulah buah komunikasi politiknya; Partisipasi.

Ada Kepastian

Ketika JK menaikkan BBM, 120 persen, secara diam-diam ia tidak menyebutkan angkanya kepada presiden tetapi cuma memberinya hasil rapat kabinet bersama menteri-menteri secara utuh yang di di dalam sudah tercantum angka kenaikan fantastis. Belakangan SBY baru tahu jika kenaikan tersebut mencapai rata-rata 120 persen.

Angka ini sangat mengejutkan tentunya. Tapi suatu hal yang penting, bahwa rakyat langsung diberi kepastian dan tidak bertele-tele. Pak JK meyakinkan presiden agar tidak khawatir, dengan demo, karena dua hari lagi bulan puasa. Biasanya kata pak JK meyakinkan SBY, orang islam tidak akan demo pada bulan puasa dan sibuk mengurusi ibadahnya. Padahal dalam logika standard justeru bulan ramadhan sangat rentan menaikkan harga minyak karen bisa mengundang reaksi lebih besar. Tapi JK punya keyakinan dan positif thingking. Bahwa umat islam akan mengedepankan ibadahnya. Faktaya memang seperti itu, demo hanya dua hari selesai dan rakyat lalu sibuk ibadah.

Tapi pak JK memastikan dan bekerja keras dengan cepat membagikan Bantuan Langsung Tunai kepada rakyat miskin 120 ribu/bulan agar tidak menderita oleh kenaikan harga minyak. Saat akan membagi BLT, Kementerian Keuangan mendatangkan tim ahli dari Bank Dunia, untuk memberi masukan kepada JK soal berapa lama mereka bisa membagi BLT kepada 19 juta warga miskin. Saat itu, pihak Bank Dunia mengatakan sesuai best practice yang ada maka paling cepat 10 atau 12 bulan sudah bisa terbagi. Atas masukan Bank Dunia ini, JK langsung menyalami para konsultan tersebut, sambil berkata singkat terima kasih sudah datang memberi masukan. “Saya mau membaginya lebih cepat
bukan 10 bulan, target saya cuma enam bulan paling lambat sudah
selesai,” kata pak JK. Dan betul bukan lagi enam bulan, tapi hanya dalam
tempo tiga bulan saja JK berhasil membagi BLT kepada 19 juta warga
miskin.

Tidak cuma itu, JK pun dalam tempo singkat memberi terapi lebih dahsyat, yakni mengkonversi minyak tanah ke gas untuk 50 juta kepala keluarga di seluruh penujuru Indonesia. Hal yang belum pernah terjadi begitu singkatnya di seluruh dunia. Konversi ini, mengurangi beban belanja rumah tangga selain lebih bersih dan mudah didapat. Konversi sekaligus menghapus subsidi pemerintah triliunan rupiah pertahun dan mencipatakan penghematan besar yang dinikmati luas oleh rakyat.

Tapi kini sungguh menyedihkan nasib pemerintah saat ini, tapi lebih menyedihkan lagi nasib rakyatnya. Mungkin kalimat yang tepat untuk melihat potret buram bangsa ini, adalah ; jika ingin melihat kerusakan maka serahkanlah urusanmu kepada yang bukan ahlinya. Dan inilah buah yang menimpa kita semua, karena sepertinya bangsa ini telah diurus oleh yang bukan ahlinya. (*)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya