HTTP Status[404] Errno [0]

Professor yang Menutup Buku-nya ; Selamat Jalan Prof Achmad Ali

23 July 2012 17:22
Professor yang Menutup Buku-nya ; Selamat Jalan Prof Achmad Ali
Aidir Amin Daud
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Saya sedang bercerita di pinggiran lapangan tenis – tentang tiga kata sensor Socrates jika seseorang datang membawa kabar kepadanya: Kebenaran, Kebaikan, dan Kegunaan — ketika telepon saya berdering dengan kabar singkat: Prof Dr Achmad Ali (Prof AA) telah berpulang ke Rahmatullah.

Prof AA – adalah pribadi yang saya kenal sejak menjadi mahasiswa di Fakultas Hukum Unhas, 30 tahunan yang lalu. Beberapa bulan lalu, ia masih tegar membaca pidato untuk pernikahan putranya di Hotel Grand Clarion. Saya mencoba mengingat beberapa kilas balik buku kehidupan Prof AA.

****

Mendengar kabar duka itu, saya segera mengganti baju dan segera menuju ke bandara pagi itu juga. Tadinya saya berencana terbang ke Makassar siang hari untuk sebuah acara perkawinan, tetapi saya – sebagai mantan murid – merasa perlu ikut mengantar Prof AA ke pemakamannya. Alhamdulillah, saya bisa ikut melihat jasadnya turun ke liang dan menaburkan bunga digundukan tanah di Pattene, Maros.
Semua orang akan menemui akhir perjalanan hidupnya. Kita menyebutnya kematian. Dalam, “Setiap jiwa akan merasakan kematian?” (QS Ali ‘Imran [3]: 183). Maka seperti berita duka lainnya, kita hanya bisa mengambil hikmah atau setidaknya menyiapkan diri untuk menghadapi hal yang sama.

Maka sebagai mana pernah dituliskan orang, kematian dalam pandangan Islam bukanlah sesuatu yang buruk, karena di samping mendorong manusia untuk meningkatkan pengabdiannya dalam kehidupan dunia ini, ia juga merupakan pintu gerbang untuk memasuki kebahagiaan abadi, serta mendapatkan keadilan sejati.
“Mahasuci Allah yang di dalam genggaman kekuasaan-Nya seluruh kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu siapakah di antara kamu yang paling baik amalnya, dan sesungguhnya Dia Mahamulia lagi Maha Pengampun” (QS Al-Mulk [67]:1-2).
Maka sesudah sebuah kematian, orang bertanya tentang kebaikan dan hal yang tak baik dalam sebuah perjalanan hidup. Sebagai pribadi, Prof AA adalah pribadi yang baik. Setidaknya ia menjadi guru bagi begitu banyak orang. Sebagaimana pernyataan istri almarhum – Dr Wiwie Heryani – kepada setiap pelayat yang menyalaminya, ‘’Mohon dimaafkan Prof AA jika ada kesalahan di masa hidupnya,’’ maka manusia tidak pernah luput dari kesalahan.

Manusia memiliki dua ruang dalam hidupnya kebaikan dan keburukan. Maka kebaikan menjadi dominan, ketika keburukan tidak membesar. Sesungguhnya, semua orang ingin menjadi baik.
Ketika menjadi Redaktur Pelaksana Harian FAJAR, banyak orang mengeritik tulisan Prof AA yang terkesan kadang menyerang pribadi atau kebijakan seseorang atau institusi. Terjadi perdebatan di ruang redaksi dan sidang perwakilan pembaca. Maka saya dan teman-teman kala itu, membuat pengumpulan pendapat tentang halaman dan kolom-kolom opini yang ada di Harian FAJAR. Ternyata kolom Prof Dr AA lah yang paling digemari pembaca.

Mungkin karena masyarakat kita juga memang gemar untuk menyerang dan mengeritik pribadi seseorang secara terbuka.
Dan saya mendengar hingga tahun-tahun ini, kontroversi seputar tulisan almarhum kerap menjadi bahan diskusi Dewan Pembaca Fajar (DPF). Namun apapun, Prof AA telah begitu produktif menulis banyak buku dan artikel, baik di media lokal maupun nasional. Sesuatu yang belum tentu kita semua bisa melakukannya.
Namun terlepas dari kontroversi yang ada, tulisan almarhum kadang kaya dengan kepustakaan. Sebagai pribadi almarhum, mungkin menjadi salah satu pribadi yang memiliki koleksi buku pribadi terbanyak di negeri ini. Almarhum tidak segan-segan memesan buku terbaru yang dijual hingga harga jutaan rupiah. Ketika buku Transitional Justice (TJ) yang ditulis Neil J. Kritz  baru terbit, almarhum sudah memilikinya pada kesempatan pertama.
Saya masih mengingat Prof AA menunjukkan buku itu kepada Prof Hariskristuti (kini Dirjen HAM) dalam sebuah acara di Makassar, ia menyatakan heran buku itu bisa cepat tiba di tangan almarhum. Ketika berada beberapa bulan kemudian di New York Amerika, saya mencoba untuk mencari buku itu, ternyata TJ termasuk buku yang langka (karena harus dipesan dua minggu sebelumnya) dan mahal (senilai gaji saya sebulan kala itu). Prof AA benar-benar pribadi yang mencintai buku dan memburunya dengan begitu ketat.
Ketika Prof Hamid Awaluddin kembali dari Amerika Serikat, beliau bertanya kepada saya, mengapa saya dan beberapa dosen tidak ikut program S-2. Saya menjelaskan terlalu banyak hambatan psikologis sehingga teman-teman itu enggan berangkat sekolah. Padahal dekan kala itu Prof AA, membuat kebijakan dosen Fakultas Hukum Unhas harus mengikuti S-2 setidaknya di universitas di Pulau Jawa.

Prof Hamid kemudian menemui Prof AA dan menceritakan bahwa saya dan teman-teman itu harus diselamatkan dengan mengubah kebijakan itu. Maka Prof AA – sesuai pandangan Prof Hamid — untuk kemaslahatan dosen banyak, hari itu juga akhirnya mengubah kebijakan itu. Dan hasilnya, begitu banyak dosen Fakultas Hukum Unhas yang akhirnya bisa menyelesaikan S-2 dan S-3 mereka dan kini menjabat sebagai guru besar. Ini salah satu kebaikan beliau yang tentu menjadi amal hidupnya.
Sebagai manusia, Prof AA — yang dikelilingi begitu banyak orang dengan berbagai kepentingan — kadang menerima begitu banyak informasi yang kadang benar atau pun keliru. Sebagai pribadi, Proff AA kadang berada di ruang yang begitu penuh kearifan tetapi kadang juga sedang didominasi suatu emosi yang mungkin sedang tidak bijaksana.

Maka reaksi Prof AA, kadang terasa menyejukkan namun sesekali menimbulkan kesalahpahaman rekan, kolega, murid atau siapapun yang berinteraksi dengannya.
Kesempurnaan memang hanya milik Allah swt – sang pencipta yang tak pernah keliru. Prof AA hanyalah salah satu insannya, yang juga bagian dari mereka yang terus menerima cobaan dan takdirnya.

****

Saya ingin mengulang cerita tentang Socrates yang pernah saya dengarkan. Jika seseorang datang ke beliau, maka Socrates bertanya apakah yang hendak kau ceritakan itu kebenaran (dilihat dan disaksikan sendiri)? Jika orang itu berkata, saya juga hanya mendengarnya, maka Socrates melanjutkan pertanyaan keduanya: apakah itu tentang kebaikan atau keburukan seseorang?

Jika jawabannya tentang keburukan seseorang, maka Socrates akan bertanya lagi, apakah ia membei manfaat atau kegunaan kepadaku? Maka jika orang itu menyatakan bahwa itu hanya sebagai informasi, maka Socrates akan menjawab, tak perlu kau bercerita kepadaku, karena yang akan kau ceritakan hanya, sesuatu yang belum tentu benar, tentang keburukan tetapi memiliki manfaat.
Saya meyakini cerita ini menjadi relevan, ketika seseorang merasa Prof AA salah memahami satu duduk soal tentang dirinya. Mungkin Prof AA dengan kesibukan luar biasanya, kadang tidak sempat menggunakan sensor ala Socrates ini sehingga kadang mengeluarkan reaksi yang terasa kurang bijaksana baik ketika berinteraksi maupun dalam menuliskan kolom-kolomnya, dan ini menimbulkan kesalahpahaman berkepanjangan.

Namun sesungguhnya, ia adalah pribadi yang baik, setidaknya sejak mengenalnya tigapuluh tahunan lalu dan ketika ia melatih saya dan Prof Hamid, di kamar pribadinya di belakang Toko Hidayat Gunung Lompobattang Makassar.
Pagi kemarin, ia menutup buku panjang perjalanan hidupnya, yang begitu berwarna. Sebagai mahaguru karateka, sebagai professor hukum yang cukup menyita perhatian politik nasional (setidaknya ketika ia dinominasikan menjadi Jaksa Agung negeri ini) dan pandangan-pandangan keagamaannya yang dilakukannya setelah membaca banyak buku soal itu.

Ia bukan gurubesar biasa, dengan sejumlah karya-karyanya. Ia telah mendidik begitu banyak orang di negeri ini – sebagai pengajar di berbagai perguruan tinggi negeri ini. Sebagai manusia ia tentu bukanlah sesuatu yang sempurna, namun ia kini menuju ke Sang Maha Sempurna. Seyogyanyalah kita memaafkan almarhum, jika ada khilaf yang dibuatnya. Kita juga mendoakan ia sebagai muslim agar Allah swt mengampuni segala kesalahannya dan diterima seluruh amalan baiknya dan menjadi Khusnul Khotimah.
Sesungguhnya, kepergian Prof AA, kembali mengingatkan kita, bahwa dalam perjalanan menuju ke pemakaman, kita mengantarkan seorang professor yang telah menutup buku kehidupannya. Ketika lembaran-lembaran buku kehidupan kita, belum kita tahu kapan selesainya penulisannya. ***


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya