HTTP Status[404] Errno [0]

Benteng Panynyua, Karya Besar Kerajaan Gowa

25 July 2012 15:47
Benteng Panynyua, Karya Besar Kerajaan Gowa
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos.com – Kota Makassar yang kini berpenduduk kl 1,3 juta jiwa, memiliki kekayaan objek wisata budaya dan sejarah. Salah satu peninggalan sejarah yang kini bahkan tampil semakin bagus, ialah Benteng Ujungpandang, yang terletak di Jl.Ujungpandang, berhadapan dengan laut Makassar.

Benteng ini juga sering disebut Fort Rotterdam. Dan oleh karena benteng peninggalan Kerajaan Gowa ini bentuknya seperti seekor penyu yang sedang berjalan menuju ke laut bila dilihat dari atas, maka benteng ini juga sering disebut Benteng Panynyua (Benteng berbentuk Penyu).

Benteng Panynyua, sesungguhnya adalah sebuah karya besar dari latar sejarah kerajaan Gowa. Banyak benteng yang dibangun oleh raja-raja yang pernah ada di Indonesia, namun banyak yang sudah tak punya bekas apapun. Hilang tanpa bekas, namun Benteng Panynyua, nyaris tak lekang oleh perjalanan sejarah. Dia dia menjadi saksi sejarah sepanjang masa bagi kronologi perjalanan sejarah Kota Makassar.

Dalam catatan sejarah, seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng ini sebagai “the best preserved Dutch fort in Asia”. Pada awalnya benteng ini disebut Benteng Jumpandang (Ujung Pandang). Benteng ini merupakan peninggalan sejarah Kesultanan Gowa. Kesultanan ini pernah berjaya sekitar abad ke-17 dengan ibukota Makassar.

Kesultanan ini sebenarnya memiliki 17 buah benteng yang mengitari seluruh ibukota. Hanya saja, Benteng Fort Rotterdam merupakan benteng paling megah di antara benteng benteng lainnya dan keasliannya masih terpelihara hingga kini.

Benteng ini dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-X yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada awalnya bentuk benteng ini adalah segi empat, seperti halnya arsitektur benteng gaya Portugis. Bahan dasarnya campuran batu dan dan tanah liat yang dibakar hingga kering. Pada tanggal 9 Agustus 1634, Sultan Gowa ke-XIV (I Mangerangi Daeng Manrabbia, dengan gelar Sultan Alauddin) membuat dinding tembok dengan batu padas hitam yang didatangkan dari daerah Maros. Pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang. Benteng ini pernah hancur pada masa penjajahan Belanda. Belanda pernah menyerang Kesultanan Gowa yang saat itu dipimpin Sultan Hasanuddin, yaitu antara tahun 1655 hingga tahun 1669.

Tujuan penyerbuan Belanda ini untuk menguasai jalur perdagangan rempah rempah dan memperluas sayap kekuasaan untuk memudahkan mereka membuka jalur ke Banda dan Maluku. Armada perang Belanda pada waktu itu dipimpin oleh Gubernur Jendral Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Selama satu tahun penuh Kesultanan Gowa diserang, serangan ini pula yang mengakibatkan sebagian benteng hancur.

Akibat kekalahan ini Sultan Gowa dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Gubernur Jendral Speelman kemudian membangun kembali benteng yang sebagian hancur dengan model arsitektur Belanda. Bentuk benteng yang tadinya berbentuk segi empat dengan empat bastion, ditambahkan satu bastion lagi di sisi barat. Nama benteng kemudian dinamakan Fort Rotterdam, yang merupakan nama tempat kelahiran Speelman. Sejak saat itu Benteng Fort Rotterdam berfungsi sebagai pusat perdagangan dan penimbunan hasil bumi dan rempah rempah sekaligus pusat pemerintahan Belanda di wilayah Timur Nusantara (Indonesia).

Arsitektur Benteng Dinding benteng ini kokoh menjulang setinggi 5 meter dengantebal dinding sekitar 2 meter, dengan pintu utama berukuran kecil. Jika dilihat dari udara benteng ini berbentuk segi lima seperti penyu yang hendak masuk ke dalam pantai. Karena benteng ini bentuknya mirip penyu, kadang juga benteng ini juga dinamakan Benteng Panynyua (Penyu). Benteng ini mempunyai 5 Bastion, yaitu bangunan yang lebih kokoh dan posisinya lebih tinggi di setiap sudut benteng yang biasanya ditempatkan kanon atau meriam di atasnya.

Wisata Sejarah Salah satu obyek wisata yang terkenal disini selain melihat benteng serta museum Lagaligo adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap ditanah Jawa. Perang Diponegoro yg berkobar diantara tahun 1825-1830 berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai.

Pangeran Diponegoro kemudian ditangkap dan dibuang ke Menado, lantas tahun 1834 ia dipindahkan ke Fort Rotterdam. Dia seorang diri ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh. Diruang itu ia disedikan sebuah kamar kosong beserta pelengkap hidup lainnya seperti peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur. Banyak orang yang kemudian meyakini bahwa Diponegoro wafat di Makassar, lalu ia dikuburkan disitu juga. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan, bahwa mayat Pangeran Diponegoro tidak ada di Makassar. Begitu ia wafat Belanda memindahkannya ke tempat rahasia agar tidak memicu letupan di antara pengikut fanatiknya di Jawa atau di Makassar.

Karena letaknya di tengah Kota Makassar, benteng ini mudah diakses. Bisa menggunakan taksi, angkutan kota, atau fasilitas pengantaran hotel. Tarif Pengelola tidak mengenkan tarif kepada setiap pengunjung yang masuk ke benteng ini.

Setiap hari Benteng Panynyua ini ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun wisatawan mancanegara. Benteng ini juga menjadi pusat kesenian di Makassar, yang hampir setiap hari digunakan sebagai tempat latihan teater, seni lukis, tari, dan lain sebagainya (***)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya