Mencari Polisi yang Cerdas

29 July 2012 16:53
Mencari Polisi yang Cerdas
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

MENCARI polisi yang cerdas, polisi Indonesia yang memiliki otak cemerlang sehingga tugas-tugasnya dapat berjalan bagus dan elegan di tengah semakin beragamnya peristiwa, dan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan polisi, memang tak semudah membalik telapak tangan. Meski demikian, negeri ini sesungguhnya sudah punya begitu banyak polisi yang cerdas, yang telah menjalankan tugas-tugas kepolisiannya dengan elegan di tengah pergulatan masyarakat. Namun jumlah mereka masih sangat sedikit di negeri ini.

Beberapa waktu yang lalu, sebuah kejadian yang mengehobkan berlangsung. Polisi di Tangerang, Banten, melakukan razzia celana pendek bagi kamum wanita, terutama pada remaja putri. Foto beberapa Polwan yang sedang merazzia celana pendek seorang remaja putri, akhirnya menjadi geger setelah terpublikasi di media.

Polisi Tangerang memberi alasan, bahwa mereka menegur adalah untuk menghindari tindak pornografi dan hal-hal yang tidak diinginkan. Misalkan mengundang aksi perkosaan, tentunya. Namun hal itu tetap menuai protes. Wakil Ketua Komnas Perempuan, Masruchah, mengatakan, polisi sebagai pelindung masyarakat seharusnya memposisikan diri sebagai pengaman, bukannya melarang dan berkata seolah remaja tersebut bisa menjadi penyebab tindak pornografi. Kalau main larang dengan alasan bisa mengundang nafsu, sama saja polisi melempar tanggung jawab kepada perempuan.

Kejadian di Tangerang ini, menantang pemikiran cerdas seorang polisi, bagaimana mengatasi kejahatan pemerkosaan dengan tidak melarang remaja putri memakai celana pendek karena terkait hak azasi. Konteksnya, ialah polisi bertugas sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat di bidang penegakan hukum, untuk menjaga keamanan masyarakat. Juga berfungsi sebagai abdi negara yang tugasnya mencegah terjadinya tindakan pelanggaran hukum, serta menangkap dan memusnahkan pelaku kejahatan.

Untuk tak berfikir rumit untuk seorang polisi berfikir cerdas, ada contoh kecil. Bahwa saat ini di Makassar sudah begitu banyak warung kopi (warkop) yang buka 24 jam. Eksesnya, muncul pula begitu banyak kejadian perampokan laptop milik para pengunjung warkop. Dan para pemilik warkop tak bisa berbuat apa-apa. Sebab ternyata memang mereka tak menyediakan tenaga keamanan khusus.

Atas kejadian ini, ada seorang kapolsek menyurati semua pemilik warkop di wilayahnya. Dia menghimbau agar semua warkop tutup paling lambat jam 00.00, mengigat ancaman perampok laptop yang makin marak. Namun warkop 24 jam tetap saja buka, dan aksi perampokan tetap saja ada.

Langkah seperti ini, tentu bukan langkah yang cerdas. Mestinya, sang kapolsek mengundang semua pemilik warkop yang buka 24 jam, membicarakan solusi dalam mengatasi ancaman kejahatan. Pemilik warkop menstinya diajak berfikir, agar masing-masing menyiapkan tenaga keamanan yang terlatih, dan menjadi mitra polisi. Tenaga keamanan yang telah mendapat pelatihan khusus di kepolisian, bagaimana menangani ancaman kejahatan dengan baik. Ini cara berfikir yang cerdas sebelum aksi kejahatan terjadi.

Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Mudji Waluyo, sebuah contoh polisi yang cerdas. Saya tak ingin memuji-muji, tetapi ini contoh yang baik, tatkala pemerintah memberi isayarat akan adanya kenaikan harga BBM ; di otak kapolda sudah tergambar bagaimana aksi demo pasti akan sangat marak. Maka sebelum itu, kapolda telah bergerak melalukan antisipasi, salah satunya dengan melaksanakan seminar tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi di tengah masyarakat, dan bagaimana mengatasinya.

Artinya, seorang Mudji Waluyo pantas diacungi jempol sebagai polisi cerdas, sebab dia sudah memikirkan bagaimana sebuah kejadian sebelum terjadi. Bukannya melarang masyarakat berdemo. Hasilnya memang ternyata, jajaran kepolisian di Polda Sulselbar sudah tak begitu kaget ketika mengahadapi demo BBM yang ternyata demikian kencang belum lama ini.

Bahwa seorang polisi yang cerdas, adalah polisi yang sudah memikirkan bagaimana potensi ancaman kejahatan telah diperhitungkan sebelum aksi kejahatan itu terjadi, yang tentunya sesuai dengan kondisi wilayahnya masing-masing.

Bahwa kemajuan sebuah kota seperti Kota Makassar dengan penduduk 1,3 juta jiwa, apalagi hanya dilayani polisi sebanyak 500 personil dengan geliat ekonomi yang makin kencang, diperlukan banyak polisi yang cerdas dalam memberikan layanan yang terbaik ; agar masyarakat mendapatkan rasa aman yang baik. Rasa aman yang diaktualisasikan dari jajaran kepolisian yang cerdas-cerdas.  Semoga ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya