HTTP Status[404] Errno [0]

Promosi Sulsel di Singapura Jadi Tertawaan

04 August 2012 04:41
Promosi Sulsel di Singapura Jadi Tertawaan
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Koordinator Regional DPP ASITA Nico B. Pasaka mengungkapkan bahwa promosi pariwisata Sulawesi Selatan di Singapura dengan cara “membranding” taxi lokal, menjadi bahan tertawaan warga Singapura dan wisatawan mancanegara.

Sebab, alat promosinya tepat, tetapi bahan promosinya dinilai salah sehingga tidak membuahkan hasil efektif sebagai sarana promosi pariwisata, kata Nico Pasaka di Makassar, Kamis 2/8/12

Itu terjadi karena promosi pariwisata Pemprov Sulsel dengan cara membranding 100 unit taksi di Singapura dilakukan dengan penonjolan wajah Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo pada tahun 2010 dengan tulisan “Visit South Sulawesi 2012”.

“Hampir tidak ada yang mengenal wajah Gubernur Sulsel di Singapura, kecuali dokter dan paramedis yang pernah merawat Gubernur Syahrul Yasin Limpo di salah satu rumah sakit di Singapura,” ujarnya seperti dirilis Antara News.

Kalau dokter dan paramedis tersebut ditanya kenal wajah branding taxi tersebut, pasti menjawab kenal, itu salah satu pasien kami dari Indonesia, sedangkan warga lainnya mengaku tidak kenal.

Berbeda kalau Singapura adalah daerah pemilihan (Dapil) Gubernur Syahrul Yasin Limpo, maka itu sangat tepat untuk menjadi program promosi, pencitraan dan sosialisasi agar semakin populer untuk tujuan politik.

Menurut Nico Pasaka, alat promosinya membranding taxi itu sudah tepat, namun bahan promosinya focus wajah Gubernur, itu yang tidak tepat, harusnya wajah putri pariwisata, obyek wisata yang menjadi destinasi seperti rumah adat Toraja Tongkonan, perahu tradisional Phinisi, Kuburan Batu dan lainnya menjadi fokus penonjolan gambar branding tersebut.

Kalau wajah Gubernur, paling tepat Balihonya dipasang di bandara Singapura, Jakarta dan Makassar dengan kalimat “wellcome to South Sulawesi” dan focus gambarnya adalah Gubernur.

Promosi yang dilakukan Pemprov Sulsel dengan membranding taxi terbukti tidak efektif sebab tidak mampu mendongkrak arus kunjungan wisatawan Singapura dan Asia yang mengunjungi Singapura dan melanjutkan perjalanan ke Sulsel.

Terbukti tingkat isian tempat duduk (load factor) penerbangan Garuda Singapura-Makassar sesuai laporan Wakil Direktur Region Indonesia Timur Garuda Indonesia Rosyinah pekan lalu kepada Gubernur Syahrul Yasin Limpo hanya 30 persen, sedangkan Makassar-Singapura 50-60 persen.

Garuda akan menambah rute baru penerbangan domestik di KTI agar tingkat isian Makassar-Singapura meningkat, namun menurut Nico Pasaka, cara itu kurang ideal.

Harusnya Pemprov, Garuda dan industri pariwisata bersatu melakukan promosi pariwisata yang benar dan dengan tujuan yang benar agar bermanfaat maksimal bagi perkembangan sektor pariwisata Sulsel.

Bila promosi dirancang untuk keuntungan pihak tertentu, maka jangan harap sektor pariwisata Sulsel mampu berkembang maksimal, sekalipun potensi obyek wisatanya menarik, ujarnya.

Dia mencontohkan, promosi bersama yang dilakukan penerbangan Garuda dan Pemprov di Singapura yakni membawa 50 persen staf pemprov dan 50 persen penjual tiket pesawat. Harusnya 20 persen penjual tiket pesawat, 40 persen penjual paket wisata dan 40 persen staf pemprov yang berkaitan dengan pariwisata, agar tidak terkesan aji mumpung pergi jalan-jalan ke luar negeri.

Kepada Gubernur Sulsel dan Kepala Dinas Pariwisata Sulsel, pihaknya mengimbau saatnya sekarang menggunakan pakar atau tokoh pariwisata untuk kegiatan promosi yang didahului riset pasar, agar hasilnya efektif, kecuali bila ada maksud lain hanya untuk memanfaatkan dana APBD yang besar dengan hasil yang tidak jelas, ujar Nico Pasaka yang juga Ketua MTB (Makassar Tourism Board) (una)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya