HTTP Status[404] Errno [0]

Jangan Sampai Mengorbankan Seseorang yang Tidak Bersalah

05 August 2012 06:32
Jangan Sampai Mengorbankan Seseorang yang Tidak Bersalah
Muslim
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos — Â Kalau di Kepolisian, namanya Reskrim, di Kejaksaan namanya Aspidsus dan Aspidum, maka di institusi Bawasda yang kini kembali bernama Inspektorat di Pemprov maupun di Kabupaten/Kota, namanya Auditor. Mereka inilah yang ditugaskan negara dalam memeriksa perkara seseorang, sesuai tupoksinya masing-masing.

Bila seorang PNS melakukan kesalahan dalam menjalankan tugasnya, misalnya korupsi atau menyalahgunakan wewenang, atau melanggar aturan kepegawaian lainnya, maka biasanya Auditor Bawasda yang melakukan pemeriksaan. Hasilnya, diserahkan ke Walikota, Bupati atau Gubernur untuk diputuskan. Demikianlah kerja Inspektorat.

Institusi ini adalah ujung tombak pimpinan daerah dalam penegakan hukum dan disiplin pegawai. Bila sebuah kasus sudah semestinya diserahkan ke Polisi atau Jaksa, maka pimpinan daerah akan menyerahkannya, untuk diproses hukum secara pidana lebih lanjut.

Di Pemkot Makassar, dalam setiap tahun sejumlah kasus ditangani Inspektorat. Kasus heboh yang membawa tersangkanya ke balik jeruji besi, adalah kasus Ashari di KPU Kota Makassar. Ashari, oleh Inspektorat ditemukan bukti, dia menyimpan dana KPU Rp8 miliar di rekening pribadinya. Maka, kasusnya pun dilimpahkan ke Polisi untuk diproses ke Pengadilan. Yang memeriksa Ashari, ialah Drs.Muh.Muslim, Auditor senior di Inspektorat Makassar.

Mus, panggilan akrab Muslimin, kepada Wartawan BugisPos Oline bertutur ; “Dalam menjalankan tugas mesti dengan seni”. Mus berprinsip, dalam memeriksa seseorang, jangan sampai mengorbankan orang yang ternyata tak bersalah. Seorang Auditor, bagi Mus, bukan mencari-cari kesalahan orang, tetapi menegakkan aturan dengan benar. Motto Perum Pegadaian bagi Mus ada benarnya, menyelesaikan masalah tanpa masalah. Memang akan bermasalah, bila menghukum orang yang tak punya cukup bukti pelanggaran.

Inspektorat adalah polisinya pegawai. Artinya, institusi ini mesti ditakuti. Namun pengalaman Mus, dia tak pernah merasa sebagai polisinya pegawai. Faktanya, semua orang yang dia periksa, tak ada yang menyimpan dendam padanya. Kiat Mus dalam memeriksa, menjunjung tinggi praduga tak bersalah, maka diapun dihargai oleh para ‘tersangkanya’. Bagi Mus, mestinya Inspektorat mengedepankan unsur pembinaan.

Mus, jadi pegawai Inspektorat di Majene tahun 1985, dan menjadi pemeriksa selama 4 tahun. Kemudian pindah ke Inspektorat Makassar. Tahun 2004-2009, dia menyandang posisi Auditor Ahli Madya. Total 32 tahun dia menjadi ‘tukang periksa’

Ketika Mutasi Jilid I yang lalu, Mus ternyata harus menanggalkan keahiannya sebagai pemeriksa, karena pemerintahan IASmo memberinya tugas baru, yakni sebagai Sekretaris Dinas PU Kota Makassar. “Capek ya jadi pemeriksa” seloroh seorang Wartawan yang jadi sahabatnya sejak lama. Tapi kemudian Mus dikirim kembali ke Inspektorat dengan jabatan Sekretaris Inspektorat. Kabar yang merebak, Mus dipersiapkan menjadi Kepala Inspektorat Makassar ke depan. Yang pasti, bahwa Mus kini kembali jadi tukang periksa.

Mus, putra Bone yang lahir 14 Desember 1957 di Makassar. Tamat di SD Labuang Baji, SMP 3 dan SMA 2 di Makassar. Alumni Sospol Unhas tahun 1984. Dia mempersunting wanita cantik, Farida Karim,SE,MM, pegawai dan pengajar di AKPAR Makassar. Pasangan bahagia ini, dikarunia tiga putra, yakni Moh.Fadel Kurniawan, Moh.Fuad Anugrawan, dan Moh.Fiqhi Darmawan. Dalam memberikan nama pada anak-anaknya, tercermin Mus seorang ayah yang bijak dan penyayang. Bagi Mus, anak adalah buah hati yang mesti dijaga dan dipelihara sebaik mungkin. Mereka adalah penerus keturunan yang mesti lebih baik dari kedua orang tuanya. Melahirkan anak-anak yang kelak menjadi terhormat, adalah dambaan setiap orang tua (una)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya