HTTP Status[404] Errno [0]

Menghormati Bulan Puasa

05 August 2012 06:52
Menghormati Bulan Puasa
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Usdar Nawawi

Sejak diberlakukannya Perda Kepariwisataan di Kota Makassar, yakni Perda No.2 tahun 2002, yang kemudian kini telah direvisi menjadi Perda No.5 tahun 2011, setiap akan memasuki bulan suci ramadan, Walikota selalu mengeluarkan Surat Edaran, yang mengatur tentang tempat hiburan, panti pijat, salon lulur, rumah billiar dan rumah makan. Seluruh tempat hiburan dan panti pijat harus tutup selama bulan puasa. Rumah billiar diatur jam operasionalnya agar tidak mengganggu jam buka puasa dan jam makan sahur. Musiknya wajib bernuansa ramadan. Karyawannya juga dianjurkan memakai busana muslim. Sedang restoran dan rumah makan, wajib mengormati bulan suci ramadan dengan tidak secara demonstratif membuka rumah makan dan restoran mereka pada siang hari.

Ramadan tahun ini, 1433 masehi, atau tahun 2012, Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin kembali mengeluarkan surat edaran yang sama. Yang terlihat sungguh-sungguh menutup tempatnya, ialah usaha THM dan panti pijat. Mereka terlihat sangat patuh. Bila ditanya, dia akan menjawab ; ini sudah aturan dan bulan puasa wajib dihormati. Namun siapa yang tahu bila bila di balik itu tersimpan pikiran, bahwa tutupnya itu semata karena takut kena sanksi pencabutan izin. Takut diobok-obok ormas tertentu.

Sedang jenis usaha salon, dimana yang wajib tutup ialah salon lulur yang menerima tamu pria, masih ada satu dua yang berani buka. Mereka ini kemudian yang didamprat razzia Satpol PP bersama TNI dan Kepolisian. Walikota memang memerintahkan aparat terkait melakukan operasi di bulan puasa. Walikota sangat ingin kota ini kondusif selama bulan puasa, tidak dicemari dengan hal-hal yang berbau maksiat. Namun ternyata maksit di bulan puasa, justru semarak menggelinjang di hotel dan di tempat-tempat kost.

Soal rumah makan dan restoran yang dibuka secara demonstratif pada siang hari di bulan puasa, ini juga yang selama ini menjadi masalah. Bahkan tahun lalu, ada ormas yang mengobrak-abrik warung coto, lantas pimpinan ormasnya dipenjarakan, karena merusak. Tapi siapa yang sesungguhnya yang salah ? Ormasnya kah ? Atau pemilik warung cotonya ? Pemilik warung cotonya yang salah, sebab sudah dipandang dia tidak menghormati bulan suci ramadan, dengan membuka secara demonstratif warung cotonya. Tapi juga anggota ormasnya salah, sebab merusak barang-barang milik orang lain.

Terasa tidak enak memang bagi yang berpuasa, bila lewat di depan warung yang sedang terbuka lebar dan banyak orang yang makan disitu pada siang hari. Sungguh-sungguh mereka tak menghormati orang berpuasa. Maka itulah pemerintah melarang mereka membuka warung secara demonstratif. Tapi dilanggar juga. Sepertinya kalau melanggar adalah sebuah kebanggaan. “Coba lihat ini boss … warung biar buka lebar-lebar di bulan puasa, cuek saja tu soal edaran walikota …” mungkin di otak mereka seperti itu. Mereka tak menyadari betapa caranya mencari sesuap nasi, telah menodai makna dan ruh bulan puasa.

Yang mengeherankan ialah, justeru pasukan Satpol PP, Kepolisian, TNI dan tokoh masyarakat yang sebanyak 400 orang itu, yang ditugasi oleh Walikota, justeru kurang menggubris warung, rumah makan dan restoran yang buka secara vulgar. Mereka terlihat lebih rajin mengejar para PSK dan mucikari bahkan hingga ke lubang tikus sekalipun. Bahh !!!

Tapi itulah dinamika sebuah kota bernama Makassar. Kota yang sedang dikemas menuju kota dunia, dengan tetap mempertahankan konsep budaya kearifan lokal. Menghormati bulan puasa, sesungguhnya juga termasuk dalam konteks kearifan lokal. Bila kebetulan tidak puasa, janganlah makan di depan umum, karena hal seperti tidak arif dan bijaksana. Kearifan lokal juga sangat tidak sepaham dengan dunia maksiat, meskipun maksiat telah merupakan penyakit masyarakat yang sudah ada sejak zaman dulu, dan ada dimana-mana. Tetapi bila maksiat dibiarkan bekembang dengan pesat tanpa kendali, itu sudah pasti kita tak bisa mempertahankan kearifan lokal. Kearifan lokal yang kita bangga-banggakan ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya