HTTP Status[404] Errno [0]

Qahhar Mudzakkar, Pejuang atau Pemberontak ?

12 August 2012 05:58
Qahhar Mudzakkar, Pejuang atau Pemberontak ?
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh: H.A.B.Amiruddin Maula

”Mohon maaf Petta Usu, dengan sangat terpaksa saya menanyakan hal yang saya tahu selama ini Petta Usu tidak mau menceritakan. Tapi saya mesti bertanya karena saya merasa mendapat titipan amanat dari beberapa anak Kahar Muzakkar yang kebetulan semuanya kenal dekat dengan saya, yaitu: Di manakah dimakamkan jenazah Kahar Muzakkar setelah tewas tertembak dalam operasi penumpasan pemberontakan DI/TII Sulawesi Selatan ?” (A.M.Fatwa Petta Lewa).

Menurut A.M. Fatwa, ada dua hal yang sangat tidak disukai Jenderal Jusuf, untuk dipertanyakan kepadanya, yaitu kebaradaan naskah asli Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) dan Lokasi Pemakaman Jenazah Kahar Muzakkar yang mati tertembak oleh Pasukan Siliwangi dalam operasi militer penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.
Kejelasan terhadap kedua hal tersebut dari Jenderal Jusuf memang sekian lama sangat ditunggu oleh publik, namun sampai akhir hayatnya beliau tetap bersikukuh untuk tidak menjelaskannya, sehingga kedua hal tersebut tetap menjadi misteri yang banyak mengundang spekulasi.
Terkait dengan Kahar Muzakkar, bukan hanya makamnya yang diperlukan kejelasan, tetapi juga peran dan pikiran-pikiran idiologisnya, agar masyarakat mendapatkan ruang penilaian secara objektif terhadap berbagai stigma yang seringkali dikaitkan dengan nama besar seorang Kahar Muzakkar yang dalam konotasi positif disebut sebagai pejuang, sedang dalam stigma negatif disebut sebagai pemberontak.

Hal tersebut terasa penting, bukan hanya karena ketokohan Kahar Muzakkar sangat fenomenal dan melegenda, tetapi juga karena nama besarnya  terikut-serta dalam agenda politik pilgub 2013 yang kini sedang dijelang di Sulawesi Selatan lantaran seorang putranya  kembali akan menguji elektabilitasnya setelah kandas memenangkan pertarungan dalam pilgub 2008 yang lalu.
Kali ini Ir. Aziz Qahhar Mudzakkar tidak lagi akan bertarung pada posisi Calon Gubernur, tapi lebih memilih untuk bertarung pada posisi Calon Wakil Gubernur  berpasangan Ir Ilham Arief Sirajuddin yang bersiap maju sebagai Calon Gubernur,  dengan tagline Semangat Baru.
Terlepas dari kedua hal tersebut, sesungguhnya yang jauh lebih penting adalah aspek kebanaran sejati terhadap faktor ”x” bagi Kahar Muzakkar yang mulanya adalah seorang komandan militer dalam pasukan griliya yang dikomandoi langsung oleh Jenderal Sudirman di Pulau Jawa, dengan pangkat Letnan Kolonel, lantas memilih hengkang dan masuk hutan lalu berperang melawan teman-teman seperjuangannya sendiri.
Dalam doktrin militer, pembangkangan terhadap perintah atasan adalah ”deserse” atau ”indisipleneer” yang konsekwensinya adalah pemecatan, tetapi bagi seorang Kahar Mudzakkar ia memilih memecat dirinya sendiri dengan cara menyerahkan tanda pangkatnya sebagai  protes atas ketidak hirauan atasannya terhadap gagasan-gasannya dalam rekrutmen anggota TRIPS (Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi).
Kahar Muzakkar di zamannya adalah seorang patriot pemberani yang kokoh memegang teguh prinsip hidupnya sehingga ia adalah sosok pemimpin yang disegani dan dihormati baik kawan maupun lawan-lawannya. Sebagai seorang pejuang kemerdekaan dengan semangat ”hidup ataoe mati”, telah menyandang pangkat perwira menengah ketika Republik Indonesia masih dalam usia balita, dan mendapat mandat dari Panglima Besar Jenderal Soedirman untuk membentuk Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS) bersama Mayor Andi Mattalatta selaku Wakilnya dan Mayor M.Saleh Lahade selaku Kepala Stafnya, tentulah semakin menggugah rasa keingin tahuan kita terhadap  alasan prinsip yang membuat dia lebih memilih  hidup di hutan sebagai pemberontak, ketimbang membina karier  militernya yang tentunya lebih menjanjikan hidup tenang dan relatif lebih nyaman ketika itu.
Aroma pencarian kebenaran sejati itu tersembur kuat dalam peluncuran buku bertajuk ”Memoar Brigjen Purn Andi Oddang Untuk Merah Putih”, ketika seorang  remaja bernama Andi Rio yang saya duga baru berusia ”sweet seven teen” bertanya pada kakiknya tentang benar tidaknya pemberontakan Kahar Muzakkar itu bermotif pertentangan idiologi atau karena rivalitas jabatan dalam karier militernya waktu itu.
Anak muda ini sepertinya sangat ingin mendengar penilaian sang kakek, apakah Kahar Muzakkar layak disebut sebagai pejuang, atau memang sudah semestinya disebut saja sebagai pemberontak.
Mendengar pertanyaan cucunya itu, Brigjen Purn Andi Oddang yang ingatannya masih sangat baik dalam usianya yang telah mencapai 84 tahun, tidak langsung menjawab dengan kalimat singkat tegas sebagaimana lazimnya dalam komunikasi militer, tetapi ia sangat santun, tenang dan dengan penuh ekspressi  menjelaskan pengalamannya secara detail lika liku perjuangannya dalam membela merah putih termasuk kebersamaannya dengan Kahar Muzakkar melakukan perang griliya di Pulau Jawa, yang kemudian setelah kembali ke Sulawesi Selatan dalam kariernya sebagai anggota militer pernah dua kali mendapat penugasan untuk mengantarkan surat rahasia kepada Kahar Muzakkar sebagai pimpinan DI/TII dalam missi diplomasi militer yang sangat berisiko terhadap keselamatan jiwanya.
Dia masih ingat ketika pertama kali dipilih oleh Mayor M.Jusuf Amir (Jenderal Jusuf) yang menjabat sebagai Komandan Garnizun Kota Makassar, untuk menyampaikan surat kepada Kahar Muzakkar yang sedang nginap  di Hotel Pension (terletak di Jl.Botolempangan) yang ternyata isinya meminta Kahar Muzakkar untuk keluar dari Kota Makassar 1 x 24 jam, tanpa menyebutkan alasannya.

Surat itulah yang menorehkan sejarah awal mula Letkol Kahar Muzakkar meninggalkan Kota Makassar dan memilih masuk hutan. Keberadaan Kahar Muzakkar di Makassar waktu itu  adalah untuk membicarakan masalah penyelesaian CTN (Cadangan Tentara Nasional) dengan Panglima Kolonel A.Kawilarang. Sebagai Komandan Resimen Persiapan Sulawesi waktu itu Kahar Mudzakkar mengusulkan agar CTN dilatih pada Depo Batalyon lalu diadakan seleksi.
Bagi yang memenuhi syarat, direkrut menjadi tentara sedang yang tidak lolos seleksi  dikembalikan ke masyarakat dan ditampung oleh pemerintah. Tetapi semua keiinginan Letkol Kahar Muzakkar ditolak mentah-mentah oleh Panglima Kawilarang, Dan yang lebih membuat Kahar Muzakkar merasa tidak senang ketika ia tahu dirinya akan diangkat menjadi Wakil dari Letkol Sukowati sebagai Komandan Resimen 23, sedang Sukowati sendiri adalah bekas anak buahnya ketika melakukan perang gerilya di Pulau Jawa. Begitulah kisahnya sehingga Kahar Muzakkar bersama beberapa bataliyon CTN  masuk hutan dan melakukan pemberontakan.
Sebagai seorang bangsawan, Andi Oddang pun  menutup kalimatnya dengan ungkapan yang  bersahaja, bahwa Kahar Muzakkar itu adalah seorang yang banyak jasanya terhadap negara, tetapi ketika kemudian dia memberontak tentulah hal itu baginya jalan yang terbaik untuk sebuah prinsip yang diyakininya. ***

H.A.B.Amiruddin Maula,

mantan Walikota Makassar,

Pemerhati Hukum dan Pemerintahan

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya