HTTP Status[404] Errno [0]

Oknum Perwira Polda Sulsel Jadi Tersangka Narkoba

13 August 2012 14:07
Oknum Perwira Polda Sulsel Jadi Tersangka Narkoba
Berbagai jenis obat-obatan terlarang jenis narkotik dan perangkatnya yang beredar di pasaran illegal
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Berbagai jenis obat-obatan terlarang jenis narkotik dan perangkatnya yang beredar di pasaran illegal

Bugis Pos — Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sulsel, menetapkan oknum perwira Polda Sulsel, AKP Aulia Nasution, dan tiga rekannya sebagai tersangka. Mantan Kasat Narkoba Polres Sidrap ini, dinilai terbukti terlibat dalam peredaran narkotika lintas kabupaten.
Penetapan status keempat orang tersebut sebagai tersangka setelah tim penyidik melakukan pemeriksaan secara intensif. Pemeriksaan dilakukan selama 3×24 jam. “Mereka sudah kami tetapkan sebagai tersangka,” papar, Kepala BNNP Sulsel, Kombes Pol Richard Nainggolan, Sabtu, 11 Agustus kepada wartawan Fajaronline.

Mantan Kapolres Luwu Timur ini mengatakan, selama pemeriksaan, pihaknya telah mengumpulkan bukti-bukti yang dianggap cukup untuk menjerat keempatnya. “Sudah memenuhi,” paparnya, saat dihubungi melalui ponselnya, malam tadi.

Kendati demikian, Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulsel belum berkata puas. Mereka masih tetap menelusuri peredaran narkoba di Sulsel. Baik, jaringan keempat orang tersebut maupun pihak-pihak lainnya yang menjadi kontak atau penghubung mereka.

“Itu semua masih kembangkan. Untuk pasal, terhadap pelaku yang di persangkakan, yaitu, pasal 112 ayat 1 dan 114 ayat, 1 dan 2, 132 ayat 1 Undang-undang nomor 35 tahun 2009, tentang, narkotika,” bebernya, melalui pesan singkatnya.

Dalam undang-undang tersebut, Pasal 112 ayat 1, berbunyi setiap orang menyimpan, menguasai, atau menyediakan, narkotika golongan I bukan tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat empat tahun dan paling lama 12 tahun penjara, dan denda Rp800 juta dan maksimal Rp8 miliar.

Sedangkan, untuk Pasal 114 ayat 1, berbunyi, setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual membeli, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan narkotik golongan I (satu), dipidana dengan penjara, seumur hidup atau pidana penjara minimal 5 tahun, dan denda paling sedikit Rp1 miliar dan maksimal Rp10 miliar.

Adapun, ayat 2 pasal 114, berbunyi, dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menjadi perantara dalam jual beli, menukar menyerahkan, atau menerima narkotika golongan I, dipidana dengan penjara paling singkat enam tahun dan maksimal 20 tahun.

Terakhir, pasal 132 ayat 1, berbunyi, percobaan atau pemufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana narkotika dan prekusor narkotika sebagaimana dimaksud dalam pasal-pasal (sebelumnya) pelaku dipidana dengan pidana penjara yang sama sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal-pasal tersebut.

Diberitakan sebelumnya, penangkapan keempat tersangka tersebut dilakukan awal Agustus. Tim dari Direktorat Narkoba Polda Sulsel, terlebih dulu menangkap, Dg Tompo dan Sadad, di sebuah gang yang terletak di samping kantor Kejaksaan Tinggi Sulsel.

Rumah tersebut diketahui merupakan milik Dg Tompo. Untuk melancarkan bisnis haramnya, Dg Tompo, menjadikan rumah tersebut sebagai rumah kos. Empat hari pasca penangkapan kedua tersangka dengan barang bukti delapan gram sabu-sabu, seorang tersangka, Sadad, mulai buka suara.

Sadad, dihadapan penyidik mengaku jika barang haram tersebut dibeli di Lancirang, Kabupaten Sidrap. Saat itu dia bersama oknum perwira Polda Sulsel, AKP Aulia Nasution. Di lokasi itu mereka membeli 10 gram narkotika jenis sabu-sabu. Mendapatkan informasi tersebut, petugas menjemput alumni Akpol 2006 itu di ruangannya di Subdit II Fismondev Direktorat Reskrimkhus Polda Sulsel.

Pengembangan dari penangkapan tersebut terus dilakukan. Tim penyidik memburu seorang bandar yang diketahui bernama Sudirman alias Sudi, yang sebelumnya disebut Mister D. Penangkapan tersebut membuahkan hasil. Sudirman diciduk di Lancirang, Kabupaten Sidrap, tanpa perlawanan.

Terpisah, tiga orang petinggi BNN mulai mengambil data dan berkas pemeriksaan, AKP Aulia Nasution, cs.

Kabag Tata Usaha BNNP Sulsel, Jamal, ketika dikonfirmasi, menegaskan, ketiga orang dari BNN pusat itu, telah mengambil data-data. Data ini diperlukan untuk memantau pergerakan jaringan-jaringan yang ada di daerah ini.

“Sejumlah data-data dan bukti awal lainnya sudah diambil untuk dianalisa. Jaringan-jaringan itu terus dipantau. Nanti kita lihat saja perkembangannya ke depan,” papar Jamal, malam tadi.

Kedatangan petinggi BNN ini diharapkan dapat memberikan angin segar dalam pengejaran dan pengungkapan kasus tersebut. Pasalnya, sejauh ini penanganan kasus narkoba tidak pernah tuntas sampai ke akar-akarnya.(gafar)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya