HTTP Status[404] Errno [0]

Datuk Paggentungang, Sembahyang di Bawah Daun Pisang

28 August 2012 01:50
Datuk Paggentungang, Sembahyang di Bawah Daun Pisang
Makam Datuk Paggentungan
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Makam Datuk Paggentungan

BugisPos — Desa Tamarunang Kec. Somba Opu, Gowa. Poros Malino 4 km dari Sungguminasa, terdapat makam ulama besar Sulawesi Selatan yang hidup pada abad ke 16. Para peziarah yang datang ke makam ini, cukup banyak berasal dari berbagai daerah. Itulah makam Datuk Ri Paggetungang.

Makam Datuk dikelilingi sejumlah makam lainnya yang merupakan makam keturunannya. Bangunan permanen yang menaungi makam Datuk berwarna putih beratap genteng merah, luas bangunan berukuran 5 x 7 m2.

Datuk bernama asli Srinaradireja bin Abd. Makmur. Tapi lebih terkenal dengan I Dato (Datuk) Ri Paggentungang. Sang Wali hidup di zaman raja Gowa ke 14. I Mangarangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin, yang merupakan Raja Gowa yang pertama memeluk agama Islam pada hari Jumat 22 September 1660, dan diislamkan oleh Khatib Tunggal Abdul Makmur (Datuk Ribandang), ulama yang berasal dari Kota Kahu, Minangkabau.

Di dalam Makam terdapat pula dua makam yag bersebelahan, makam tersebut merupakan ajudannya bernama Karaeng Bau. Dan makam yang satunya lagi adalah makam Karaeng Subhan, surona atau pelayan Datuk.

H.Majja (69) juru kunci makam yang masih keturunan Datuk, dia meneruskan tugas ayahnya, H.Genda yang menjadi juru kunci makam Datuk. Selain itu ada pula pengurus makam lainnya, Dg. Pa’go (79), Imam Lingkungan Tamarunang, Dg. Unjung dan Dg Ramma, petugas kebersihan makam dan Dg.Lili pembaca doa.

Mereka inilah orang-orang yang tulus dan ikhlas mengurus makam Datuk. Mereka pantang meminta sedekah dari para peziarah. Kalaupun terkumpul hasil sedekah, disisihkan sebagian untuk pemeliharaan makam. Tujuannya agar para peziarah dapat merasa tenang berziarah. Mereka juga menerima baik Wartawan BugisPos dengan sukacita yang bertandang ke makam Datuk.

H.Majja meyakini, selama 25 tahun menjadi juru kunci makam, tidak pernah sedikitpun mendapat bantuan dari pemerintah setempat untuk pemeliharaan makam. Padahal makam ini termasuk situs sejarah yang pantas diperhatikan dan dipertahankan keberadaannya.

Para peziarah datang dengan berbagai tujuan dan niat. Bahkan banyak juga yang sampai bernazar. Jika tujuannya berhasil mereka akan kembali dengan menyembelih kambing bahkan sampai menyembelih sapi. Yang datangpun bukan cuma masyarakatawam, tapi para caleg-caleg, pejabat pemerintah dan bahkan sampai calon bupati atau walikota. Ini juga mungkin ada kaitannya dengan pesan Datuk kepada anak-cucunya. “Jika suatu waktu kalian menemui kesusahan, maka ingatlah aya” Pesan inipun pernah dikatakan kepada muridnya, Syekh Yusuf yang masih usia 18 tahun, sewaktu akan berangkat ke Mekah, ujar sang juru kunci makam.

Datuk datang ke Sulsel, untuk mencari ayahnya, Datuk Ribandang. Lalu dia diajak sahabatnya, Lo’mo Ri Antang untuk menetap di daerah ini, agar bisa bersama-sama melanjutkan tugas Datuk Ribandang yang telah meninggal

Guru Syekh Yusuf

Sebelum Syekh Yusuf berangkat ke Mekah, lebih dulu memperdalam ilmunya pada Datuk dan Lo’mo. Dia belajar ilmu hakiki pada dua ulama besar tersebut.

Sekali waktu, Datuk sepakat dengan Lo’mo bertemu Syekh Yusuf, untuk merencanakan perjalanan memperdalam ilmu pada wali-wali yang ada di Mangkasarak (Makassar).

Datuk berkata ; “Cucunda Yusuf, saya sudah dengar kesempurnaan ilmumu. Tapi biarpun begitu, baiknya kita bertiga mengunjungi dan menuntut ilmu pada wali-wali di tanah Mangkasarak” jawab Yusuf, baiklah kalau nenek menghendakinya.

Setelah persediaan sudah cukup, dan ditetapkan waktu yang baik, perjalanan pun dimulai. Pertama mereka menuju gunung Bulusaraung. Dari sana mereka lanjut ke gunung Latimojong, kemudian langsung menuju ke gunung Bawakaraeng. Di gunung Bawakaraeng, mereka bertemu dengan wali-wali. Lalu Yusuf wali-wali ; “Hai, Yusuf, sudahkah engkau dari gunung Bulusaraung dan Latimojong, lalu engkau tiba disini ?” Yusuf menjawab “Benarlah demikian sudah semua saya kunjungi. Sekarang saya berharap dianugrahi ilmu barang sedikit”.

Dan belajarlah ketiga ulama itu kepada wali-wali tersebut. Tiada berapa lama, maka sepakatlah wali-wali dan berkata : “Cukuplah sudah ilmu pengetahuanmu di tanah Mangkasarak, dan sebaiknya kamu berkunjung ketanah suci, naik haji untuk menguji tentang kecukupan ilmumu itu dan menguji pendapatmu”. Selesai wali-wali itu berkata, maka ketiganya mohon diri pulang ke negeri Gowa.

Ada cerita yang melegenda di masyarakat tentang ketinggian ilmu I Datuk Paggentungang. Menurut H.Majja, pernah suatu waktu seorang ulama datang menemui Datuk, setelah keduanya selesai mengobrol tibalah waktu shalat. Saat itulah ada kejadian yang tak lazim saat keduanya melaksanakan shalat. Ulama itu sembahyang di atas daun pisang, sedangkan Datuk justereu sembahyang di bawah daun pisang.

Datuk menyebarkan agama Islam di kerajaan Gowa-Tallo dengan memberikan wejangan dan nasihat kepada masyarakat. Datuk bersama sahabatnya I Lomo Ri Antang, tidak bisa dipisahkan dalam hal penyebaran agama Islam dikerajaan Gowa-Tallo sepeninggal Datuk Ri Bandang (zardi/awing)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya