HTTP Status[404] Errno [0]

Arah Baru TVRI

10 September 2012 00:55
Arah Baru TVRI

Oleh : N Syamsuddin Ch Haesy

Televisi Republik Indonesia (TVRI) baru saja memperingati ulang tahun yang ke-50. Sejak diresmikan Presiden Soekarno pada 24 Agustus 1962 –, TVRI merupakan suar lompatan bangsa dalam merespon perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

TVRI merupakan ikon dan sekaligus penanda utama kesiapan Indonesia memasuki abad ke 20 dan kemudian abad ke 21.

Sejak memasuki millenium baru di penghujung dekade 90-an, TVRI nyaris kehilangan daya. Berkembangnya pertelevisian swasta yang fokus pada komersialitas bisnis penyiaran, membuat TVRI berlari terengah-engah. Lalu menjadi korban ketidakseriusan negara menegaskan strategi kebudayaan.

Ironis memang, ketika Indonesia memasuki era informasi (dan kini bergerak cepat ke era konseptual) yang berpijak pada kreativitas dan inovasi, TVRI justru tertinggal jauh di belakang. Tak lagi sempat menjadi mainstream penyiaran. Bahkan, dalam banyak hal termarginalisasi oleh lambatnya pembaruan infrastruktur penyiaran.

Bahkan, dari sudut pandang suprastruktur, TVRI cenderung terjebak pada rutinitas yang dibekap kuat oleh stagnansi.

Perkembangan status badan hukum kelembagaan TVRI mencatat bagaimana negara (termasuk kita) memperlakukan salah satu agen transformasi peradaban, ini “tak putus dirundung malang”.

Sejak menjadi bagian dari Yayasan Gelora Bung Karno, Yayasan TVRI, Direktorat Televisi, Perusahaan Jawatan (Perjan) TVRI, PT TVRI (Persero), dan akhirnya Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI, boleh jadi menandai hikmah, “sengsara membawa nikmat” untuk menuju “rumah masa depan” yang jauh lebih baik.

Saya lega, ketika dalam peringatan 50 Tahun TVRI, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara eksplisit menegaskan responsibilitas (tanggung jawab) pemerintah mendukung pergerakan TVRI menuju arah barunya sebagai garda depan transformasi Indonesia. Tegas, Presiden SBY mendorong TVRI, mengambil posisi sebagai agen pembangunan dan menjaga keseimbangan dalam penyampaian informasi pada masyarakat.

Secara aksentuatif dan fokus, Presiden SBY menegaskan posisi TVRI sebagai agen pembangunan. Karena itu, pelopor lembaga penyiaran televisi di Indonesia, ini merupakan bagian dari upaya bersama memajukan kehidupan bangsa dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Poin penting penegasan Presiden SBY, ini memberi makna mendalam tentang perlunya mengembalikan lembaga penyiaran sebagai medium peradaban. Tak semata-mata sebagai institusi bisnis.

Dalam konteks, itu sangat tepat, ketika Presiden menegaskan, bahwa TVRI harus cukup arif memposisikan diri sebagai pemelihara keseimbangan dinamika masyarakat. Penguat utama konsolidasi dan transformasi demokrasi melalui politik penyelenggaraan penyiaran yang adil dan berimbang. Posisi ini tidak menuntut TVRI menjadi corong pemerintah. TVRI harus terbuka, konstruktif, solutif, dan edukatif dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat.

Sebagai medium transformasi Indonesia berbasis kemandirian politik, daya saing ekonomi, dan peradaban unggul, TVRI dengan sendirinya mesti memainkan peran sebagai praercursor (pelopor) berkembangnya demokrasi yang dewasa, sehat, dan beradab. Antara lain dengan mengembangkan pikiran-pikiran kritis, cerdas, arif, dan santun. Pikiran-pikiran, yang dapat diharapkan mendorong kesadaran baru: Indonesia rumah peradaban ideal untuk seluruh rakyatnya.

Fasilitator Perubahan

Sebagai garda depan transformasi Indonesia yang mengemban fungsi sebagai agen perubahan untuk menempatkan Indonesia sesanding (equal dan equit), dengan sendirinya TVRI mesti menegaskan kembali format pelayanannya. Khasnya sebagai fasilitator dan katalisator perubahan bangsa.

Dengan begitu, TVRI dapat menjadi potret obyektif dan konkret yang menjadi referensi lain dari realitas model tata kelola penyiaran yang cenderung deformatif. Secara eksplisit, Presiden SBY menegaskannya dalam bahasa terang: “Wartakan kepada rakyat Indonesia berbagai prestasi dan keberhasilan yang kita capai, termasuk saat ini, kita makin diperhitungkan bangsa-bangsa lain di berbagai bidang, karena kemajuan dan peran internasionalnya”.

Esensi dari pesan Presiden SBY, itu adalah upaya strategis TVRI memainkan kembali peran penting memelihara keseimbangan informasi. Hal ini merupakan ruang manifestasi dari konsistensi TVRI dalam mengartikulasikan kemerdekaan media, sesuai dengan konstitusi dan peraturan perundang-undangan. Landasan hukum yang tak lagi memberikan peluang kepada pemerintah atau siapapun juga, melakukan sensor dan pembredelan terhadap konten pemberitaan atau siaran televisi.

Arah baru TVRI sebagai rumah masa depan transformasi Indonesia, secara operasional pun menarik. Elprisdat (Ketua Dewan Pengawas) dan Farhad Syukri (Direktur Utama) dalam dialog singkat malam, itu menggambarkan “suasana batin” perubahan dan pembaruan TVRI.

Paling tidak dalam merespon harapan Presiden SBY, bahwa di tengah persaingan yang makin ketat, TVRI harus meningkatkan kemampuan di segala lini. Salah satunya adalah perubahan mendasar konten siaran, yang akan membuat TVRI dapat merebut kembali hati para pemirsa televisi Indonesia — yang mulai boring dengan siaran televisi belakangan hari.

Dalam konteks teknologi, saya melihat, arah baru TVRI sudah tepat memberi jalan bagi pembenahan substantif layar penyiaran. Artinya, di era televisi digital saat ini, TVRI berpeluang besar menjadi garda terdepan.

Langkah strategis pembenahan layar (yang dengan sendirinya akan diikuti oleh pembenahan sumber daya manusia dan teknologi), merupakan pintu utama untuk memenangkan persaingan dengan lembaga penyiaran televisi komersial.

Dalam konteks peran dan tanggung jawab yang mengemban fungsi sebagai identitas nasional, pemersatu bangsa, dan pembentuk citra positif bangsa kita di dunia internasional, tentu TVRI tak bisa “dilepaskan” melangkah sendiri. Seluruh stakesholder bangsa ini, mesti memberikan dukungan kuat dengan format yang diisyaratkan oleh undang-undang.

Khasnya dukungan dari Pemerintah dan DPR, BUMN (Badan Usaha Milik Negara) sebagaimana berlaku untuk Public Broadcasting Services (PBS) di Amerika atau BBC-British –, dan kerjasama luas lainnya.

Untuk menempatkan TVRI sebagai rumah masa depan transformasi Indonesia, diperlukan sinergi positif TVRI dengan RRI, LKBN ANTARA, dan berbagai kalangan lain yang dapat mempercepat proses inovasi, berbasis kreativitas yang juga andal.

Merujuk berbagai keunggulan yang sudah dihasilkan TVRI selama ini, baik dari sisi teknologi-perubahan transmisi terrestrial ke transmisi satelit, perubahan teknologi analog ke digital –, maupun sisi kreatif.

Pengelola TVRI kini, bisa mengambil referensi perubahan kreatif dari apa yang sudah dilakukannya. Beberapa di antara dapat disebut sebagai model. Chandra Kirana mengawali era chorma key programa siaran televisi, di masanya. Sinetron Siti Nurbaya dan Sengsara Membawa Nikmat, contoh model kerjasama kreatif TVRI- BUMN. Sayekti dan Hanafi, dan Pulang, merupakan model kerja sama internasional TVRI- John Hopkins. Losmen dan Pondokan, merupakan model produk televisi efisien dengan elaborasi studio yang kuat. Pun demikian halnya dengan Dunia dalam Berita, Titian Muhibah, dan lain-lain.

Jadi, tak ada alasan untuk tidak kreatif. Saya optimis, arah baru TVRI membuka kembali cakrawala berdimensi kedalaman Indonesia, kini dan nanti.

(Penulis adalah wartawan, anggota Dewan Penasehat PWI Pusat, mantan General Manager Operasi Televisi Pendidikan Indonesia. Salah satu pendiri Rumah Kreatif Akarpadi). ***

N. Syamsuddin Ch. Haesy, anggota Dewan Penasehat PWI Pusat, mantan General Manager Operasi Televisi Pendidikan Indonesia. Salah satu pendiri Rumah Kreatif Akarpadi.

Â


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya