HTTP Status[404] Errno [0]

Deteksi Jaringan Teroris, Polda Sulselbar Datangkan Densus 88

18 September 2012 21:17
Deteksi Jaringan Teroris, Polda Sulselbar Datangkan Densus 88

BugisPos — Aksi-aksi teror setiap saat menjadi ancaman bagi masyarakat, dan menjadi ancaman bagi negara. Jajaran Kepolisian RI (Polri) bertanggung-jawab penuh menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), termasuk mencegah terjadi aksi-aksi terorisme di Indonesia.

Maraknya aksi teroris belakangan ini, membuat Polri harus bekerja lebih ekstra untuk mendeteksi gerakan-gerakan terorisme yang setiap saat menjadi ancaman. Kelompok jaringan teroris sangat banyak di Indonesia dan berpencar, sehingga tidak tertutup kemungkinan ada yang telah menyusup masuk ke wilayah hukum Polda Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar).

Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Komisaris Besar Polisi Chevy Ahmad Sopary, Selasa (18/9/2012) mengakui tidak tertutup kemungkinan akan adanya aksi teroris di Makassar. Untuk itu, kata mantan Kapolres Parepare ini, guna menghindari adanya aksi terorisme di daerah ini, maka pihaknya akan berupaya untuk mendatangkan tim anti-teror Detasemen Khussus (Densus 88) Mabes Polri.

“Upaya mendatangkan pasukan elit Brimob Polri ini sebagai upaya untuk membongkar jaringan pelaku teroris di Makassar. Karena sampai saat ini aparat kepolisian belum bisa mengetahui keberadaan jaringan teroris itu,” papar Kombes Pol Chevy Ahmad Sopari kepada reporter BugisPos.com di ruang kerjanya.

Waspadai Perbatasan Sulteng dan Sulsel

Di tempat terpisah, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Ansyaad Mbai mengatakan sejumlah kasus yang terungkap belakangan ini merupakan bagian dari jaringan kelompok teroris yang lebih besar.

“Jaringan terorisme di Indonesia merupakan jaringan yang sangat besar. Solo merupakan salah satu simpul jaringan yang besar dan bergerak di seluruh Indonesia. Tr (tersangka perakit bom di Tambora, Jakarta Barat dan Depok) itu merupakan salah satu simpul,” kata Mbai seusai mengikuti rapat program nasional kontra radikal terorisme di Istana Wapres, Senin (10/9/2012), seperti yang dilaporkan wartawan BBC Indonesia Andreas Nugroho.

“Mereka terikat dengan ideologi radikal itu. Agenda mereka ingin mendirikan suatu kekhalifahan berdasarkan syariat dan musuh utamanya adalah empat pilar bangsa Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Tiap kelompok punya agenda sendiri-sendiri.”

Ansyaad Mbai mengatakan lembaganya tidak bisa memastikan berapa jumlah anggota kelompok- kelompok ini di Indonesia.

“Kita tidak bisa memastikan jumlah mereka berapa. Kita hanya bisa menangkap indikator-indikator. Di Poso pelatihan sudah sembilan angkatan. Di perbatasan Sulteng dan Sulsel ada lima angkatan. Di tempat lain seperti di Merbabu juga ada yang lain lain,” jelasnya.

“Soal seberapa kuat senjata mereka seperti terungkap sekarang ini. Bahkan tadi malam di Ambon sempat menangkap tiga orang awalnya kemudian menangkap tiga lagi di salah satu rumah sehingga menjadi enam dan saat ini sudah empat jadi tersangka. Itu disita senjata MK3 senapan ringan, senapan serbu,pelontar granat dengan ribuan peluru.”

“Agenda mereka ingin mendirikan suatu kekhalifahan berdasarkan syariat dan musuh utamanya adalah empat pilar bangsa Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika”

Ansyad Mbai

“Kita tidak tahu masih berapa lagi. Kita hanya bisa waspada.Intelijen kita bekerja keras.”

Kepolisian sendiri saat ini masih menyelidiki serangkaian kasus kepemilikan senjata dan bahan peledak yang terungkap sepanjang pekan lalu.

“Kita fokus pada Tambora dan Depok. Pemeriksaan (di Ambon) masih dikembangkan terus. Yang ada keterkaitan adalah tersangka F (tertangkap di Depok) dengan kelompok Solo. Kemudian soal Tambora dengan yang di depok (ledakan di kawasan Beji) masih didalami,” kata Kapolri Jenderal (Pol) Timur Pradopo.(syahrul/gafar)


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya