HTTP Status[404] Errno [0]

Selamat Jalan Pak Piet

18 September 2012 21:20
Selamat Jalan Pak Piet
Piet Heriyadi Sanggelorang saat mengikuti PORWANAS - IX 2007 di Samarinda
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Piet Heriyadi Sanggelorang saat mengikuti PORWANAS – IX 2007 di Samarinda

BugisPos — Dunia wartawan di Sulsel kehilangan seorang wartawan senior, Piet Heriyadi Sanggelorang,

yang cukup lama men jabat ketua Seksi Wartawan Olahraga di PWI Sulsel. Almarhum adalah sosok sederhana, dan tidak tinggi hati meski memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih di banding koleganya sesama wartawan. Selamat jalan pak Piet

Piet yang memulai karier wartawannya di harian Tegas, pada tahun 1967 dan terakhir di Harian Fajar sebagai Redaktur senior. Dia pernah mengikuti lokakarya wartawan olahraga tingkat nasional, bahkan tingkat Asia, di Hotel Horison Ancol Jakarta pada tahun 1988.

Piet seorang wartawan olahraga senior Sulawesi Selatan, Piet Heriyadi Sanggelorang, meninggal dunia di RS Stella Maris Makassar pada tanggal 18 September 2012, pukul 14.10 Wita. Pak Piet, demikian senior yang satu ini akrab disapa, meninggal dalam usia 72 tahun, meninggalkan seorang istri, beberapa anak, berikut beberapa cucu dan cicit.

Piet dilahirkan di Makassar 30 Maret 1940 termasuk salah seorang wartawan olahraga hingga ‘pensiun’ dari meliput di lapangan hijau. Ia pertama bekerja di Harian Tegas,
yang terbit sore, menggabung di salah satu gedung Harian Pedoman Rakyat/Percetakan Sulawesi (tempat kedua koran itu dicetak) di Jl.Elang (kini Jl.Andi Mappanyukki). Jika pekerjaan membuat berita di Tegas usai, Piet biasa berjalan kaki kembali ke kediamannya di Jl. G.Salahutu Makassar.

Profesi sebagai wartawan tidak pernah terlintas dalam benak Piet Heriyadi Sanggelorang di awal-awal tahun 1960-an. Tetapi berurusan dengan kegiatan menulis, ya, iya. Antara tahun 1953-1965, pria yang di dalam tubuhnya mengalir darah seni ini, dikenal sebagai penulis sajak yang aktif dan kreatif. Sajak-sajaknya banyak dimuat di koran Edisi Minggu, Pos Minggu, dan Marhaen pimpinan Ahmad Massiara.

Sajak religius Piet yang terkenal adalah Simponi Malam Natal. Sajak ini sudah kondang di seantero tanah air dan dibacakan di mana-mana. Bahkan, sudah menjadi sajak wajib bersama karya Chairil Anwar berjudul Ballada Penyaliban jika ada lomba pembacaan sajak. Malah sajak ini sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh salah seorang pendeta dan tetap dibacakan hingga sekarang. Piet masih ingat sajak bersejarahnya itu:

Piet diperkenalkan dengan ayahnya yang memimpin Suratkabar Marhaen. Massiara pun mengajak Piet menjadi wartawan bermodalkan kemampuan menggubah puisi. Ayah Imbar ternyata senang Piet mau bergabung mengembangkan korannya.

Berkiprah di dunia jurnalistik dengan modal kemampuan menulis sajak, tak terlalu susah bagi dia ketika Massiara dan Salman AS bersedia membina keterampilan Piet dalam bidang jurnalistik. Mulai saat itulah, Piet sering mengikuti pendidikan dan latihan jurnalistik. Lebih khusus lagi yang sering dilaksanakan Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI baik tingkat lokal maupun nasional.

Piet tidak hanya dikenal sebagai penulis sajak atau puisi, tetapi juga sebagai pemain drama. Ia pernah tampil bersama Aspar Paturusi, Puspa Edow, dan Husni Anwar. Kiprahnya sebagai pemain drama berakhir ketika Harian Marhaen, menggaetnya sebagai surat kabar tempat awal Piet mulai berkiprah di rimba jurnalistik. Tahun 1963, kala itu. Tak lama dia di harian ini karena keburu bubar.

Beberapa saat tanpa perusahaan pers tempat bergantung, pada tahun 1967, Syamsuddin Daeng Lau, almarhum, mengajak pria kelahiran Makassar ini bergabung di Harian Tegas yang terbit sore. Di media ini, dia termasuk salah seorang pendiri. Sebagai wartawan, Piet merambah dari bawah hingga ke jabatan puncak, pemimpin redaksi.

Sekitar tahun 1984, Tegas, mulai oleng, seiring dengan kepergian pendirinya Syamsuddin DL. Tenaga yang ada hanya sebatas memiliki kemampuan redaksional. Padahal, sebagai harian sore, Tegas, ikut melengkapi kehadiran media harian di Ujungpandang kala itu. Namun apa daya, begitulah nasib media pers yang dikelola dengan manajemen keluarga. Perlahan tetapi pasti, megap-megap juga. Meski para pelanjut media ini masih berusaha bangkit dengan terbit sebagai surat kabar mingguan. Tuntutan pasar dan perkembangan bisnis media yang mengarah kepada industri padat modal, membuat harian sore ini kian terpuruk. Kini, namanya kian sayup-sayup di tengah deru mesin media yang kian meraksasa.

Pengalamannya sebagai wartawan telah dia tuangkan secara utuh di dalam buku Menerobos Blokade Kelelawar Hitam (Kisah 99 Wartawan Sulawesi Selatan). Menjelang akhir-akhir hayatnya, Piet lebih banyak di rumah. Menulis tetap menjadi aktivitasnya, sebelum penyakitnya kian keras mengganggu aktivitas kesehariannya sebagai seorang wartawan. Piet Heriyadi Sanggelorang pergi meninggalkan kita semua (tamsir)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya