Di Indonesia, 40% Incumbent Kalah Lawan Penantang

22 September 2012 01:00
Di Indonesia, 40% Incumbent Kalah Lawan Penantang
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

BugisPos —Â Pengamat politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar Dr Adi Suryadi Culla mengatakan kemampuan Jokowi menumbangkan incumbent Foke-Nara, menggambarkan tidak selamanya incumbent bisa bertahan. Menurutnya, di Indonesia, sebanyak 40 persen incumbent kalah di tangan penantang, termasuk kekalahan incumbent Irwandi Yusuf di Pilgub Aceh.
“Kemenangan Jokowi ini gambaran bahwa kekuatan incumbent, seperti modal wewenang, modal kekuatan menggerakkan birokrasi, mesin partai serta survei bukan jaminan,” kata Dosen Hubungan Internasional Unhas ini sebagaimana yang dirilis Tribun Timur.com, Kamis (20/9/2012).

Adi menilai kemenangan pasangan Jokowi-Ahok di Pilgub DKI Jakarta dapat menjadi cermin bagi kontestan pilgub Sulsel 22 Januari 2013.

Beberapa penyebab kekalahan incumbent menurut Adi, yakni, munculnya penantang yang dinilai masyarakat sebagai figure alternatif, disukai masyarakat, punya daya tarik, dan daya pesona.

Selanjutnya, penantang punya integritas, punya rekam jejak kepemimpinan yang dinilai baik masyarakat, kekuatan infrastruktur politik, munculnya tim-tim relawan militan yang menyokong penantang.

Kekuatan penantang juga diuntungkan atas lemahnya realitas kinerja incumbent,” ini faktor yang membahayakan incumbent, karena tentu masyarakat punya penilaian sendiri bahwa selama incumbent berkuasa, menimbulkan ketidakpuasan masyarakat, incumbent tidak mampu menjawab tuntutan masyarakat. Akhirnya masyarakat mencari figure alternatif dengan berharap kepada kandidat baru itu,” Adi menambahkan.

Lebih lanjut, faktor lain kekalahan incumbent, yakni factor perilaku pemilih. Pemilih tidak selamanya sama dengan catatan hasil survei.

“Pengalaman putaran pertama pilgub DKI menggambarkan ada ketidakpastian perilaku pemilih. Pemilih itu kan dinamis, fluktuatif, tidak selamanya sama dengan hasil survei. Itulah yang membuat lembaga survei terkecoh. Di hari h orang pada tercengan karena di luar ukuran mereka,

Ini ada kaitan dengan besarnya massa mengambang (swing voters) di DKI. Ini sudah jelas, angka swing voter ini juga menentukan, karena tiba-tiba mereka mengambil keputusan di hari H. Massa mengambang ini bisa menguntungkan penantang di Sulsel, di Sulsel ini, angka swing voters juga tinggi,” jelas Adi Suryadi Culla.(gafar)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya