HTTP Status[404] Errno [0]

Reposisi Seni Ktiya Indonesia

23 September 2012 00:25
Reposisi Seni Ktiya Indonesia
Illistrasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Illistrasi

BugisPos — Perubahan sosial seni kriya dari tradisional dan industri menuju ke ranah seni dituangkan dalam pameran kriya bertajuk Reposisi. Pameran yang digelar di Galeri Nasional pada 14-27 September 2012 ini, menjadi langkah awal dari sebuah reposisi seni kriya di Tanah Air.


Seperti yang terjadi belakang ini, pameran kriya atau bahasa populernya dikenal dengan craft, seringkali kalah bersaing dengan fine art yang banyak memuat unsur karya seni seperti lukisan, patung, atau seni instalasi lainnya. Dikotomi dari dua “kubu” ini menjadikan craft seolah dipandang sebagai sebuah benda yang tidak memiliki nilai tinggi dilihat dari sudut pandang seni.

Craft dianggap hanya sebagai barang yang dihasilkan dari keterampilan kerja atau aspek fungsional dari karya.Gagasan atau konsep pemikiran dan teori yang menempel pada karya seni fine artbahkan seolah tidak tampak dari barang-barang yang dihasilkan lewat kriya. Pameran Reposisi dari beragam seni kriya ini mencoba hendak memosisikan seni kriya ini ke dalam ranah seni kontemporer.

Praktik desain, persoalan warisan budaya,dan kemajuan tradisi menjadi salah satu ciri dari karya yang tersaji di pameran ini. Beberapa karya banyak terdiri atas material bahan tanah liat.Karya yang seringkali orang menyebutnya dengan seni gerabah ini digubah menjadi sebuah benda seni yang memiliki nilai estetik dan gagasan. Selain itu, karya ini juga dari bahan baku kayu, tenun, hingga kerajinan kain dan material lainnya.

Beberapa karya yang cukup menarik dan penuh gagasan-gagasan yang bersifat kontemporer antara lain karya dari Yuyun Sofiah Karlina. Karya Yuyun yang ditampilkan antara lain Cry danYou Know He Sad, material bahan dari stoneware dan glaze seperti yang dihasilkan Yuyun tak hanya menarik dari sudut estetik, tapi juga penuh dengan gagasan dan konsep yang cukup memiliki nilai seni tinggi.

Karya yang bertajuk Cry misalnya, seperti ditulis SINDO, karya patung ini berbentuk badut yang tengah tertunduk. Ia memakai topi kerucut dari bahan baku kertas dengan sepatu yang kebesaran. Sementara masih dengan objek badut, karya You Know He Sad juga tengah menggambarkan kesedihan seorang badut. Namun,lewat karya kedua ini,Yuyun tampaknya sengaja lebih bermain dengan detail kesedihan lewat karakter wajah dari badut.

Selain Yuyun, karya lain yang juga menarik adalah Absence Presence #2 karya dari Endang Lestari. Karya dari stoneware ini lebih terasa abstrak. Bentuknya seperti sulur-sulur benang yang hanya ditempelkan berbaris. Benang-benang ini barangkali muncul dari sebuah gagasan tentang keruwetan persoalan yang ada dalam kehidupan masyarakat saat ini.

Dari sisi gagasan, karya ini terlihat menarik dan sangat berbeda dengan karya lain yang nyaris serupa. Lalu ada juga karya lain yang cukup unik yakni karya benda-benda rumah tangga yang barangkali sudah sangat akrab di mata. Salah satunya ada ragam koleksi teko dari tanah liat.Teko-teko yang dipamerkan ini bukan sembarang teko dengan bentuknya yang konvensional.

Lebih dari itu, teko-teko ini memiliki keragaman bentuk yang cukup unik dan memiliki konsep gagasan yang terkadang di luar nalar. Seperti karya Leonhard Bertolemeus dengan koleksi geometric pot series.

Karya ini menampilkan bentuk lain dari sebuah teko minuman di mana Leonhard membentuknya menjadi aneka ragam bentuk yang memiliki sudut geometris.Teko ini ada yang berbentuk segitiga, setengah lingkaran,kotak,dan segi empat lainnya.

Lebih mencengangkan lagi karya dari Kurniawati Gautama. Ia menyajikan sebuah teko minuman dengan bentuk ikan. Karya Tea Pot #5-Puffer Fish ini menjadi salah satu ragam bentuk yang berbeda dari kelaziman sebuah teko minuman (*)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya