HTTP Status[404] Errno [0]

Mengenang 25 Tahun Kepergian Ramang

26 September 2012 01:25
Mengenang 25 Tahun Kepergian Ramang
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : M.Dahlan Abubakar

Tanggal 26 September 2012 ini, genap 25 tahun Ramang berpulang ke rakhmatullah. Penyakit paru-paru yang keras, gara-gara merokok yang juga keras, mengantar ayah tujuh (tiga meninggal) anak ini kembali ke Al Khalik. Upaya untuk menyelamatkan jiwanya ketika pertama terserang penyakit itu bukan tidak ada. Beberapa orang yang menaruh perhatian terhadap dirinya, di antaranya almarhum H.Sudarno Ahmad dan Abbas Ninring yang waktu itu bekerja di Bank Pembangunan Daerah (BPD) Sulsel, berinisiatif membawa Ramang ke rumah sakit. Kamar-kamar rumah sakit pemerintah penuh. Sudarno Ahmad pun tidak perlu pikir panjang, dia membawa ‘si Macan Bola’ itu ke Klinik Budi Dharma di Jl.G.Bawakaraeng (dulu, kini jadi show room mobil) miliknya.

Oher, demikian para anak asuhannya kerap memanggil pria kelahiran Barru, 24 April 1928 ini, 50-an hari lebih mendekam di klinik Penyakit Dalam tersebut. Dia sehat sekali ketika meninggalkan klinik itu. Berat badannya yang melorot turun, naik 15 kg. Luar biasa. Namun, setiba di rumah, Ramang kurang disiplin. Dia sulit bercerai dengan rokok kesayangannya ditemani Nescafe kesenangannya.
Ketika saya ke belakang rumahnya di Jl.Andi Mappanyukki (di belakang show room mobil Kumala Motor sekarang), kerap melihat Ramang duduk di beranda depan rumahnya. Bersarung, barkaos oblong putih, dan ditemani minuman kegemarannya. Setiap orang yang datang ke rumahnya kala itu — jika ada di rumah sore hari – pasti menemukan beliau duduk di situ.
Ramang mengaku masih sempat sekali-sekali melihat para pemain PSM berlatih. Saya hanya sekali berhasil mewawancarainya, dari sekian kali upaya mengorek informasi seputar komentarnya mengenai pemain PSM kala itu.
’Tidak usah diwawancarai. Cukuplah anak-anak muda itu kau wawancarai. Toami. Sudah tua,’’ begitulah jawabannya setiap saya mampir hendak mewawancarainya.
Ucapan yang sama juga dia sampaikan kepada Zainuddin Tamir Koto (Zatako) yang ketika itu mewakili Majalah Olimpic yang dipimpin Ardhy Syarief (alm) yang pernah menjabat Ketua Departemen Olahraga PWI Pusat.
Saya akhirnya sempat juga mewawancarainya suatu saat. Itu pun secara kebetulan saja. Sore itu, saya memang tidak mengagendakan ada sesi wawancara dengan Ramang. Soalnya, saya tahu, jawabannya sudah pasti seperti dulu lagi. Kali ini saya hanya mau mengambil gambarnya saja untuk menemani berita yang akan diturunkan pada hari berikutnya dan juga sebagai bahan dokumentasi.
‘’Sudah banyak foto saya diambil wartawan. Kenapa mau diambil lagi,’’ itulah kalimatnya ketika melihat saya muncul dengan moncong kamera yang siap mengabadikan dirinya.
‘’Teman-teman tidak punya arsip lagi, Tata,’’ sahut saya.
Dia ternyata mau juga diambil gambarnya. Saya menghabiskan beberapa kali kutipan, mumpung ada kesempatan. Habis, memotret, saya melihat suasananya agak bagus. Saya coba ajak saja beliau berbincang-bincang biasa, tanpa ada kesan wawancara. Beliau layani. Tetapi bagi wartawan, tetap saja wawancara, meski bentuknya dalam bentuk bincang-bincang biasa. Hanya saya selalu mengambil inisiatif untuk bertanya.
‘’Sering-sering jaki pergi lihat anak-anak latihan di lapangan, Tata?,’’. Inilah kalimat pemancing yang pertama saya ungkapkan, hingga rangkaian acara ‘cakap-cakap’ ini melebihi dari cukup untuk menulis sebuah berita hasil wawancara (saya menulisnya kemudian sebagai tulisan terakhir tentang beliau sebelum meninggal).
‘’Ya, kadang-kadang, kalau ada waktu,’’ jawabnya.
‘’Ada ji harapan mereka (para pemain yang dia lihat latihannya) itu,’’ tanya saya lagi.
‘’Masih perlu waktu lama. Harus berlatih keras,’’ sebut Ramang.

Kontroversial

Sejak Juni 2010, saya memulai sebuah pekerjaan berat dan besar untuk menulis kisah Ramang ini menjadi sebuah buku. Sudah belasan artikel yang ada di dunia maya saya lacak, isinya hanya pengulangan informasi yang ada. Juga sudah belasan orang yang saya anggap sangat kompetensif dan kapabel menjadi narasumber, sudah saya wawancarai. Termasuk melacak teman-teman masa kecil Ramang di Kabupaten Barru. Saya sangat puas dengan informasi yang mereka berikan. Meski banyak yang sama, tetapi ada juga informasi yang baru. Saya berharap ini akan mendukung lahirnya sebuah pumpunan tulisan yang sedikit lengkap dari yang kita ketahui selama ini tentang seorang Ramang. Syukur, buku itu sudah terbit dengan judul ‘Ramang Macan Bola’ dan diluncurkan di Wisma Menegpora, 9 Agustus 2011. Kini sekelompok warga Sulsel di Jakarta sedang menggarap naskah buku ini untuk diangkat sebagai film layar lebar.
Ramang adalah sosok yang sangat melegenda dan kontroversial. Melegenda, karena semasa hidupnya telah melahirkan prestasi yang luar biasa dan hingga kini belum tertandingi. Dalam seabad setelah Ramang tampil, kata orang, sulit kita menemukan pemain bola sekelas dia. Dia banyak disebut-sebut sebagai Pele-nya Indonesia.
Hasil yang dicapai itu, karena disiplin dalam berlatih. Dia menggelutinya dengan tidak lazim, Ketika akan pergi berlatih bermain bola, dia sudah lari berkeliling lapangan (di mana pun dia berlatih) sebelum para pemain lainnya muncul di lapangan. Begitu pun ketika teman-temannya usai berlatih, Ramang masih tetap berlatih menendang bola ke gawang hingga hari gelap.
Tetapi satu model latihan yang saya baru tahu dilakukan Ramang dan diperoleh dari para narasumber itu adalah Ramang sering berlatih di pantai. Berlatih di tengah gelombang. Menendang bola yang dibawa kembali gelombang ke pinggir pantai hingga dia capek. Dia juga berlatih berlari di pasir.
‘’Ini maksudnya untuk memperkuat otot paha,’’ kata salah seorang narasumber saya di Barru, 20 Juni 2010.
Ketika di Barru, setelah berlatih dengan beberapa pemain lain di Makassar, Ramang sering melatih para pemain yang tergabung dalam Bond Barru. Salah seorang di antaranya adalah narasumber saya itu. Dia, narasumber itu, mengatakan, setelah berlatih di pinggir pantai, Ramang menyuruh mereka berlari mendaki bukit yang ada di sebelah timur Sumpang Binangae, tempat dia sekolah.
Yang juga menarik adalah, ketika jam istirahat (keluar main), Ramang memang keluar bermain. Sasarannya adalah pergi menendang-nendang bola di lapangan Sumpang Binangae, yang hanya beberapa meter saja dari sekolahnya. Salah seorang adik kelasnya (di kelas 2, Ramang di kelas 5) yang juga pernah dia latih, kerap bermain bersama.
‘’Kadang-kadang ketika duduk istirahat di pinggir lapangan dia pernah mengatakan kepada saya. ‘’Dengan kakiku ini, saya akan naik itu,’’ kata Ramang sembari menunjuk pesawat terbang yang melintas di angkasa Sumpang Binangae. Ternyata apa yang dia katakan itu benar. Tahun 1956, dia memperkuat kesebelasan Indonesia pada ajang Olimpiade Melbourne Australia. Prestasi spektakuler menahan Uni Soviet 0-0 pada pertandingan pertama adalah hasil luar biasa yang mungkin saja tidak akan pernah terulang lagi bagi kesebelasan nasional republik ini ke depan.
‘’Kalau saja kaos Ramang tidak ditarik pemain Soviet, mungkin kisah pertandingan itu akan lain,’’ demikian salah satu dokumentasi yang saya peroleh.
Seorang narasumber saya yang lain dan sangat dekat dengan Ramang berkisah pula. Kalau Ramang pulang, di rumahnya dia pancang kayu di halaman. Pada kayu itu, dia ikat ban dalam sepeda yang tidak dipakai dan sudah dibelah. Salah satu ujung karet ban dalam sepeda dia ikat pada kayu yang terpancang. Ujungnya yang satu lagi dia ikat pada betisnya.
‘’Apa maksudnya beliau melakukan latihan model itu?,’’ tanya saya pura-pura bodoh sekadar ingin mengetahui jawaban narasumber itu.
‘’Beliau bilang, ini cara untuk menghasilkan kualitas tendangan yang prima. Latihan kelenturan kaki saat menendang,’’ jawabnya.
Soal kerasnya tendangan Ramang, lebih banyak kiper masuk dengan bola di pelukannya ke dalam gawang. Kiper-kiper yang takabur (yang sempat berkata akan menahan tendangan Ramang), selain rontok ke lapangan, juga berujung ke rumah sakit. Masya Allah. Beberapa narasumber saya menjadi saksi mata ‘tragedi’ penjaga gawang seperti ini.
Kepiawaian lain Ramang adalah tendangan salto. Dua gol yang dia ciptakan untuk kemenangan 2-0 Indonesia atas RR China di Jakarta, salah satu di antaranya lahir dari tendangan salto. Kalau pemain lain, hanya kakinya yang menendang melayang, tetapi Ramang salah satu kakinya yang tidak menendang, ikut ‘mengawal’ kaki yang mendapat tugas mengeksekusi si kulit bundar.
‘’Saya melihat, tendangan pisang Ramang itu seperti diperintah,’’ kata salah seorang narassumber saya yang pernah bermain dengan Ramang ketika memperkuat PSAD ke Banjarmasin.
‘’Maksud diperintah seperti apa?,’’ saya yang selalu saja penasaran bertanya balik.
‘’Ya, saya lihat, ketika bola tendangan pojok hendak mencapai pojok gawang terujung, bola seperti menikung patah,’’ kata narasumber yang orang tuanya pernah mencatatkan diri sebagai anggota kesebelasan pada tahun 1920. Dia pun memperlihatkan foto kepada saya.
Suatu hari saat Ramang tergeletak sakit di kediamannya, memanggil Anwar, anaknya. Di dalam pikiran Anwar ayahnya akan menitip atau mewariskan sesuatu. Agak hening sejenak, lalu terdengar suara dari sang ‘Macan Bola’ ini.
‘’War, lihat mi Bapak ini.. Jangan ko merokok,’’ hanya itu pesannya. Lain tidak!
Ironis, hingga 25 tahun sepeninggal Ramang, hingga kini kita terus mengejar mimpi memiliki Ramang-Ramang baru. ***

M.Dahlan Abubakar adalah Wartawan Senior Sulsel

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya