Karebosi … Ohhh Karebosi !

28 September 2012 00:42
Karebosi … Ohhh Karebosi !
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Lapangan Karebosi yang luasnya sekitar 11 hektar, yang kini telah direvitalisasi atas prakarsa Walikota Ilham Arief Sirajuddin, adalah ikon kota Makassar paling populer sepanjang sejarah.  Namun, sejarah yang tertoreh di Karebosi antara Agustus hingga September tahun 2012 ini, adalah sejarah buruk bagi denyut ekonomi di Karebosi. Sebab tiba-tiba saja ada yang men “status quo” kan lapangan Karebosi, dan hendak meletakkan garis merah atas lapangan terluas di Makassar itu.

Sejak kapankah lapangan luas ini disebut Karebosi ? Di abad ke-10, terjadi kemarau panjang selama tujuh tahun, yang melanda Gowa-Tallo, termasuk areal Karebosi. Lalu akhirnya turun hujan deras disetai petir selama tujuh hari tujuh malam. Hari ke depalan, hujan berhenti, Karebosi sekejap menjadi kering dan kejaiban pun terjadi.

Tiba-tiba di Karebosi muncul tujuh gundukan tanah. Selanjutnya, dari tujuh gundukan tanah itu, masing-masing muncul satu orang yang memakai gaun warna kuning keemasan. Jumlahnya tujuh orang. Namun ke tujuh orang tersebut hanya nampak sesaat, lalu menghilang entah kemana. Penduduk yang menyaksikan, kaget, takjub, antara percaya dan tidak percaya atas apa yang mereka saksikan.  Ketujuh mahluk gaib itu kemudian dipercaya oleh masyarakat saat itu, sebagai Karaeng Angngerang Bosi, atau Tuan yang Membawa Hujan.

Kejadian itulah yang menginspirasi, sehingga areal ini diberi nama Kanrobosi atas hamparan persawahan itu. Kanro berarti anugrah dari Tuhan. Dan Bosi berarti hujan. Atau bisa juga bermakna kelimpahan. Hujan yang turun waktu itu, adalah limpahan anugrah Tuhan.

Kanrobosi kemudian menjadi sawah kerajaan di abad ke-13 sejak berdirinya kerajaan Gowa, namun dalam perjalannya, areal yang tadinya adalah persawahan, oleh kerajaan dijadikan lapangan kerajaan. Belanda kemudian menguasainya. Namanya diubah jadi Koningsplein. Sejak Indonesia merdeka, nama lapangan ini diubah menjadi Karebosi.

Sepanjang sejarah pemerintahan di kota Makassar, Karebosi hanya dipoleh sedikit-sedikit, ditandai sejak pemerintahan Walikota Soewahyo. Namun demikian, Karebosi bahkan semakin menyedihkan. Di musin kemarau, menjadi lautan debu. Saat musim hujan, Karebosi menjadi danau liar yang memiriskan.

Karebosi juga menjadi populer bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura, sebagai tempat mesum para waria di malam hari. Selebihnya, Karebosi dipenuhi pedagang kaki lima, dan menjadi ‘hotel gratis’ bagi para pengemis dan gelandangan. Lengkap sudah wajah Karebosi yang compang-camping, yang tentunya tak pantas untuk dibanggakan.

Walikota Ilham Arief Sirajuddin yang cukup cerdas dan berani, kemudian menyulap Karebosi, yang hasilnya seperti yang ada sekarang. Itupun dengan berbagai tantangan. Bahkan tantangan terbaru, yakni munculnya tantangan dari BPN Sulsel. Padahal BPN Pusat telah menyatakan Karebosi sudah punya kekuatan hukum dalam proses penerbitan HPL. Itu artinya, kalau sampai BPN Pusat masih saja mengulur menerbitkan HPL Karebosi segera, maka hal itu tentu akan menjadi dosa PBN Pusat.

Permukaan Karebosi sungguh sudah cantik. Tak ada duanya di tanah air. Disana, di lapangan permukaan, segala rupa kegiatan dilakukan, ya keagamaan, ya kemasyarakatan, ya pemerintahan. Bahkan punya landasan heli yang sudah sering-sering dimanfaatkan bagi yang suka naik helikopter. Semua fasilitas Karebosi seperti ini, sesungguhnya karena investor yang membangun dari kocek sendiri sebesar Rp118 miliar. Pengembaliannya, investor mencari uang dengan membangun Karebosi Link di bawah perut Karebosi, plus lapangan parkir bawah tanah yang luas.

Disana, lebih seribu pedagang yang menggerakkan ekonomi kota, plus 3000 tenaga kerja yang dihidupi. 30 tahun kemudian, semuanya menjadi milik Pemkot Makassar. Luar biasa memang kecerdasan Ilham, tapi luar biasa juga orang menantangnya … Karebosi … ohhh Karebosi ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya