HTTP Status[404] Errno [0]

Demonstran Pengacau

01 October 2012 00:50
Demonstran Pengacau
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh: M. Qasim Mathar

Demonstrasi (demo) atau unjuk rasa adalah salah satu dari sekian cara yang dipakai dalam sistem demokrasi untuk menyatakan aspirasi. Karena bagian dari sistem demokrasi, demo tentu memiliki aturan dan etika sebagaimana cara lainnya dalam suatu sistem demokrasi, seperti pemilu(kada).
Tidak mengindahkan aturan dan etika yang sudah ditentukan sama dengan merusak demokrasi, sistem bermasyarakat dan berbangsa yang kita sepakati bersama.
Mahasiswa termasuk warga yang paling sering dan suka memakai demo sebagai cara menyampaikan aspirasi. Karena mahasiswa adalah warga bangsa yang terdidik dan terpelajar, seharusnya demo yang mereka lakukan bisa menjadi teladan bagi warga bangsa lainnya yang memakai demo sebagai cara menyampaikan aspirasi.

Namun, kenyataannya demo mahasiswa seringkali mengecewakan, bahkan, menjengkelkan sampai mengundang kemarahan warga masyarakat, terutama yang ada di ruang publik di mana mahasiswa berdemo. Kekecewaan, kejengkelan, dan kemarahan tersebut adalah karena demo mahasiswa tidak mengindahkan aturan dan etika berdemo. Orang dan pengendara merasa ngeri berada di dekat, apalagi di tengah-tengah demonstran. Demo mahasiswa serupa dengan segerombolan pengacau di ruang publik.
Orang-orang bercerita di tempat tinggal mereka tentang jauhnya predikat terdidik dan terpelajar pada mahasiswa yang berdemo.
Belum terlambat, para rektor, para dekan, dan para elite di perguruan tinggi untuk tidak berbangga dengan semua gelar akademik dan baju toga mereka, sementara anak-anak mereka, mahasiswa demonstran, bagai makhluk liar yang mengancam keselamatan orang-orang di ruang publik. Contoh keliaran demikian amat sering saya saksikan di depan kampus Unismuh dan UIN (kampus di mana saya bekerja) di Jalan S. Alauddin.

Tentu saja, para orang tua atau wali mahasiswa di rumah atau di kampung halaman diharapkan senantiasa membimbing dan mengingatkan putra-putri mereka yang mungkin saja ikut dalam demo yang dinilai sebagai pengacau itu. Juga, sangat berarti peran para aktifis di lembaga kemahasiswaan untuk terus mengembangkan kedisiplinan dan etika mereka, khususnya saat mereka sedang berdemo.
Ke”mahasiswa”an mereka jangan hanya kelihatan di ruang kuliah atau di depan orang tua, tetapi juga sangat dituntut ketika mereka berdemo di ruang publik.
Film yang menghina Nabi Muhammad dan Islam sudah sangat berhasil memancing keliaran demonstran. Buktinya, mereka merusak fasilitas dan properti umum yang sama sekali tidak berkaitan dengan film yang menjijikkan itu. Film itu sudah berhasil mendorong demonstran menjadi liar dan melakukan hal-hal yang keji dan menjijikkan.
Kita membenarkan sepenuhnya kemarahan orang terhadap film itu. Namun, kita juga mengecam dan mengutuk tindakan tidak berakhlak yang dipakai untuk menyatakan protes kepada film itu. Tidak berakhlak berlawanan dengan Nabi dan agama yang dibela kesuciannya. Film dan demonstran pemerotes sama-sama menjijikkan. Banyak cara beradab untuk berdemo, kecuali bila demo itu dilakukan oleh mereka yang lemah akal. Sekali lagi, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri ***

Â

M. Qasim Mathar (Akademisi UIN Alauddin)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya