HTTP Status[404] Errno [0]

Meneliti Nelayan Pembom Ikan, Ahdan Raih Doktor

01 October 2012 23:14
Meneliti Nelayan Pembom Ikan, Ahdan Raih Doktor
Ahdan Sinilele
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Ahdan Sinilele

BugisPos — Salah seorang dosen FISIP Universitas Sawerigading (UNSA) Makassar, Ahdan Sinilele berhasil meraih gelar doktor ilmu sosiologi di Program Pascasarjana Universitas Airlangga Surabaya, Senin 1 Oktober 2012 dengan nilai sangat memuaskan.

Mantan Dekan FISIP UNSA ini berhasil mempertahankan disertasinya berjudul  Bom Ikan : Tindakan Nelayan Pulau Lumulumu Makassar Dalam Menangkap Ikan Menurut Perspektif Konstruksi Sosial Peter L. Berger dan Thimas Luckmann.

Penulisan disertasinya  dibimbing Promotor, Prof. Dr. L. Dyson P., Drs., MA dan Kopromotor, Prof. Dr. H.M. Hatta Fattah, Ir., MS serta Prof. Dr. I.B. Wirawan, SU. Tampil selaku penguji eksternal yakni, Prof.Dr.H.Kaharuddin, M.Hum; Prof.Dr.Sratika Soesilawati, MA; Prof. Dr.Mustain, M.Si; Prof.Dr.Joko Musinta; Prof.DR.Hotman Siahaan, MA.

Salah satu simpulan penelitian dalam disertasinya menegaskan, nelayan Pulau Lumulumu menggunakan dua jenis alat atau teknik menangkap ikan, yakni bom ikan dan pancing. Bom ikan merupakan alat atau teknik yang dominan digunakan oleh nelayan di pulau itu. Â Â Â Â Tindakan nelayan menggunakan bom ikan tidak hanya sekedar dilandasi oleh motif memenuhi kebutuhan dasar dan motif bisnis/komersial, tetapi juga merupakan imbas dari marjinalisasi yang terjadi pada nelayan dalam waktu cukup lama, ungkap magister sosiologi PPs UNHAS ini

Kelangkaan alat tangkap atau budidaya ikan, kelangkaan lembaga pendidikan lanjutan serta kolaborasi oknum aparat negara dengan pihak pengusaha dan nelayan bom ikan. Studi ini juga menemukan beragam makna yang dikonstruksi nelayan berkaitan dengan bom ikan, seperti makna menyambung hidup, makna tanggung jawab keluarga, makna paselang-selang, makna ammoli-moli, dan makna tassimbung., tegas pria kelahiran Malangke ini.

Perspektif Bergerian, tindakan nelayan menggunakan bom ikan (fishing bomb) merupakan hasil konstruksi sosial melalui hubungan dialektis momen -eksternalisasi, obyektivasi, internalisasi- yang berlangsung cukup lama dan secara terus menerus di kalangan nelayan Pulau Lumulumu.

Bom ikan mulai dikenal nelayan sekitar tahun 1943 dengan sebutan “uba”, kemudian berproses pada pengetahuan nelayan tentang fungsi “pupuk urea” sebagai bahan peledak. Proses selanjutnya adalah terjadi spesialisasi (pelembagaan) bom ikan oleh nelayan di pulau itu, dan pada akhirnya alat atau teknik menangkap ikan yang ramah lingkungan, seperti pancing, jaring, rawe hiu, bubu, menyelam mencari teripang, keramba sunu dan pancing ikan tuna digantikan dengan bom ikan.

Nelayan bom didominasi nelayan mandiri (nelayan skala kecil) dengan jumlah perahu motor jolloro’ antara 40-50 buah, sementara nelayan paEs (nelayan besar) sebanyak 7 orang ( 7 kapal motor), yang sebelumnya berjumlah 13 orang atau mengalami penurunan sebanyak 5 orang dalam 5 tahun terakhir. Adapun nelayan pancing sebanyak 3 orang punggawa pemancing ikan sunu/kerapu dengan jumlah sawi sebanyak 41orang, sekitar 10 orang tidak terikat oleh punggawa dan sekitar 25 orang nelayan pancing lepa-lepa (una)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya