HTTP Status[404] Errno [0]

Suara Mahasiswa, Butuh Sinergi !

03 October 2012 03:25
Suara Mahasiswa, Butuh Sinergi !
Illustrasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Suryati

Illustrasi

Sekali lagi, Ibu Pertiwi kita berduka. Tawuran antarpelajar lagi-lagi menelan korban jiwa. Senin, 24 September 2012 terjadi bentrokan antarsiswa SMAN 6 dan SMAN 70 yang menyebabkan satu korban tewas.
Selang sehari, tragedi sama juga terjadi di Manggarai, Jakarta Selatan, yakni bentrokan antarpelajar SMK Yayasan Karya 66 dan SMA Kartika Zeni yang juga menewaskan satu korban jiwa. Fakta ini tentu saja mencengangkan kita semua. Sebab, dalam sebuah jumpa pers di Jakarta, Arist Merdeka Sirait selaku ketua umum Komnas Anak mencatat bahwa sepanjang enam bulan pertama tahun 2012, terdapat 139 kasus tawuran pelajar.

Ini artinya terjadi peningkatan dibanding tahun lalu yang jumlah hanya 128 kasus. Ironis memang.Pelajar yang sejatinya dituntut untuk belajar dan berbudi pekerti baik yang kelak diharapkan menjadi pewaris bangsa yang tangguh justru berlaku anarkistis layaknya binatang yang saling menyerang.Lalu,siapa yang harus dipersalahkan? Dalam hal ini kurang bijaksana rasanya jika kita melempar kesalahan hanya pada lembaga pendidikan saja.

Kita harus sadari betul tanggung jawab berat yang dipikul oleh para pendidik. Selain diharuskan membina siswa baik secara afektif, kognitif maupun psikomotorik, guru juga dihadapkan pada tantangan sosial yang tidak bersahabat. Betapa tidak, realitas sosial nyatanya lebih memegang kuasa dalam pembentukan moral anak bangsa.

Berbagai kejahatan moral dan kekerasan menjadi konsumsi rutin yang disajikan berbagai media setiap harinya.Hal ini lambat laun akan tertanam pada memori anak dan menjadi contoh buruk yang ditiru anak bangsa. Jika ini terus dibiarkan, akan bagaimanakah nasib generasi bangsa ini kelak? Karena itu, hemat penulis, terdapat tiga elemen penting yang harus bersinergi dalam pembenahan masalah ini.

Pertama,elemen keluarga.Keluarga menjadi elemen kunci dalam pembinaan moral anak. Setiap keluarga harus menjadi teladan bagi anak-anaknya supaya berlaku santun,tidak anarkistis.Ini penting karena keluarga adalah lingkungan pertama di mana anak itu tumbuh. Kedua, elemen masyarakat yang mencakup lingkungan dan media massa. Lingkungan yang baik akan menciptakan generasi muda yang baik pula.Begitu pula media sangat berperan penting dalam memengaruhi pola pikir para pelajar. Hendaknya, media massa—baik cetak maupun elektronik—dapat lebih bijak memfilter berita atau tayang-tayangan berbau anarkistis.

Ketiga, elemen pemerintah.Pemerintah khususnya aparat kepolisian haruslah sigap dalam melakukan pengamanan, sehingga tawuran pelajar dapat diredam dengan cepat.Pencegahan dini harus terus dilakukan. Jangan sampai aparat kepolisian seperti pemadam kebakaran, yang hanya bergerak ketika “api”  menyala.

Penulis yakin jika sinergi ketiga elemen di atas dijalankan, tawuran pelajar tidak akan terulang kembali. Kita ingin Indonesia—seperti yang dikatakan Emha Ainun Najib—sebagai negeri penggalan surga, masyarakatnya dapat hidup berdampingan dengan cinta damai ! ***

Suryati, Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya