HTTP Status[404] Errno [0]

Perilaku Barbar Mahasiswa

16 October 2012 22:56
Perilaku Barbar Mahasiswa
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh: Buana

MUNGKIN hanya manusia dari suku bangsa Barbar di masa lalu yang dapat “mentolerir” perilaku mahasiswa di Makassar yang menjadikan tawuran sebagai ”tradisi” dan “sarapan pagi”. Di luar suku bangsa yang sering disebut “bangsa perang” itu, sulit menemukan ada manusia dari suku bangsa lain di era sekarang yang dapat menerima alasan apapun untuk memahami seringnya mahasiswa melakukan tawuran.
Belum hilang dari memori kita tawuran pelajar di Jakarta yang menewaskan 2 pelajar dalam jarak 3 hari di bulan September 2012, kali ini tawuran oleh mahasiswa yang menewaskan 2 orang (mahasiswa aktif dan drop out) dari Universitas Negeri Makassar UNM) dan terjadi dalam sehari (11-10-2012). Yang lebih “hebat” lagi tawuran juga terjadi di perguruan tinggi lain dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu di UVRI Makassar meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.

Perilaku Barbar
“Barbar” sebenarnya merupakan istilah yang merujuk pada penduduk asli yang mendiami wilayah Afrika Utara di sebelah Barat lembah sungai Nil. Suku bangsa ini identik dengan kekerasan, sadisme, kekejaman, kebodohan, pelanggaran norma, keterbelakangan, dan kata lain yang berkonotasi tindakan negatif manusia. Tampaknya istilah “Barbar” ini tepat disandangkan pada mahasiswa pelaku tawuran.
Hal ini beralasan sebab mereka yang diharapkan bersikap dan berperilaku penuh adab, serta mengedepankan intelektualitas dan rasionalitas dalam memecahkan masalah justru bersikap jauh dari harapan itu. Permasalahan sepele, misalnya bersenggolan diselesaikan dengan kekerasan. Perselisihan individu ditarik menjadi perselisihan kelompok atas nama fakultas, asal daerah, bahkan suku.
Yang tidak kalah primitifnya adalah ketika tawuran terjadi, pihak yang berselisih tidak hanya berupaya melumpuhkan lawannya (bahkan sampai tewas), tetapi menjadikan segala benda di sekitarnya, seperti kendaraan dan gedung atau ruang kuliah di kampus sendiri sebagai sasaran. Benda mati seolah merupakan lawan hidup yang juga harus dihancurkan dan dimusnahkan.
Tindakan brutal ini dilakukan dalam area yang terkesan “bebas hukum” dan tanpa norma. Perhatikan bagaimana mereka melakukan tawuran, yang diserang bukan hanya “lawan” mereka (sesama mahasiswa), tetapi juga menyerang pihak lain seperti polisi yang akan menengahinya. Kehadiran polisi tidak menyurutkan keberingasan mereka untuk menghancurkan lawan. Semua ini menunjukkan perilaku barbar.
Solusi Parsial
Pertanyaan yang sering muncul ketika terjadi peristiwa semacam itu antara lain adalah: mengapa tawuran itu terjadi? Apa yang menyebabkannya? Lalu ketika peristiwa telah terjadi (entah ada korban atau tidak), yang sering dilakukan adalah pertemuan bersama pihak kampus, kepolisian dan Muspida setempat guna mencari tahu penyebab terjadinya tawuran, tindakan terhadap pelaku, dan langkah-langkah mencegah terjadinya aksi serupa di kemudian hari.
Langkah-langkah seperti itu tidak keliru serta patut dihargai dan diapresiasi. Tetapi sayangnya upaya-upaya seperti itu oleh pihak kampus, tidak dilakukan secara sistemik, terpadu, dan berkelanjutan. Solusi yang diberikan lebih bersifat parsial. Setelah pelakunya dikenai sanksi, masalah seakan selesai dan upaya apa yang akan dilakukan untuk mencegah peristiwa semacam itu tidak jelas dan tidak serius.


Rekrutmen Mahasiswa

Selama ini ada pemikiran di sebagian masyarakat bahkan perguruan tinggi bahwa tamatan SMA dan sederajat semuanya “harus” lanjut ke jenjang pendidikan tinggi atau menjadi mahasiswa. Meskipun tidak memenuhi syarat atau dinyatakan tidak lulus seleksi pada suatu perguruan tinggi, oleh orang tua atau pihak tertentu selalu “diupayakan” dengan berbagai cara untuk “diluluskan.”
Di sisi lain pola rekrutmen calon mahasiswa selama ini lebih mempertimbangkan faktor penguasaan pengetahuan atau materi tes dan keterampilan. Dengan pola rekrutmen seperti itu, calon mahasiswa yang dinyatakan diterima pada suatu perguruan tinggi sebenarnya hanya memenuhi standar kelulusan aspek pengetahuan dan keterampilan. Sementara aspek kepribadian tidak dipenuhi dan terabaikan.
Kelayakan aspek kepribadian ini harusnya menjadi syarat yang juga dipertimbangkan dalam menentukan kelulusan. Sebab dengan syarat itu sejak awal dapat dicegah lulusnya seorang calon mahasiswa yang memiliki kecenderungan berperilaku buruk ketika menjalani proses pendidikan. Ada berbagai tes kepribadian yang dapat diberikan untuk memenuhi hal itu, antara lain: Tes Kepribadian Skala Kematangan.

Kurikuler dan Ekstra-Kurikuler
Umumunya pembelajaran di berbagai perguruan tinggi saat ini lebih cenderung bersifat transfer of knowledge (penyampaian pengetahuan) kepada mahasiswa. Kegiatan belajar diarahkan untuk memperoleh pengetahuan sebanyak mungkin dan mengabaikan kegiatan mendidik. Hal ini terjadi karena masih adanya pandangan bahwa kegiatan belajar terpisah dari kegiatan mendidik (pedagogi).
Hal lain bahwa saat ini waktu dosen untuk berinteraksi dengan mahasiswa-nya semakin terbatas. Interaksi mereka umumnya hanya dalam kegiatan kuliah. Padahal intensitas interaksi ini sangat penting dalam rangka membangun kedekatan emosional dosen dan mahasiswa. Kedekatan emosional ini dapat menjadi katup pengaman bagi mereka untuk bertindak anarkis karena menghargai dosen-nya.
Keinginan mahasiswa mendapatkan pembelajaran (kurikuler) yang berkualitas juga sering tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan, kurangnya inovasi dosen untuk melahirkan strategi-strategi pembelajaran dalam rangka menciptakan pembelajaran berkualitas. Mahasiswa tidak terdorong untuk menjadi pebelajar mandiri dan percaya dengan kemampuan sendiri.
Kegiatan ekstra-kurikuler juga menjadi faktor yang kurang diberi perhatian. Membandingkan kebutuhan mahasiswa untuk menyalurkan bakat-minatnya dengan wadah yang tersedia, sangat tidak seimbang. Kegiatan-kegiatan untuk mengembangkan wawasan intelektual di luar perkuliahan, seperti seminar juga sangat terbatas. Padahal dengan kegiatan itu, mahasiswa dapat menyalurkan energinya ke arah yang positif.

Penegakan Tata Tertib
Untuk mencegah lebih dini munculnya bibit-bibit tawuran di kalangan mahasiswa, penegakan tata tertib sejak awal menjadi mahasiswa sampai menyelesaikan pendidikan adalah hal yang harus dilakukan. Selama ini yang sering dilakukan adalah penegakan tata tertib ketika telah terjadi tawuran. Cara seperti tampaknya perlu diubah karena masih terkesan seperti “pemadam kebakaran”
Penegakan tata tertib sejak dini dapat dilakukan saat seorang calon mahasiswa akan dinyatakan lulus atau diterima menjadi mahasiswa. Mahasiswa dan orang tuanya harus menanda tangani pernyataan bahwa mahasiswa bersangkutan akan dikeluarkan apapun alasannya jika terbukti melanggar aturan mulai dari membawa minuman keras, narkoba, senjata tajam, apalagi sampai memukul dan melukai mahasiswa lain.
Saat mahasiswa sudah menjalani masa perkuliahan, pihak kampus harus menggunakan tenaga keamanan yang sanggup bertindak tegas terhadap mahasiswa yang menujukkan potensi untuk berbuat anarkis. Kampus juga harus melibatkan kepolisian melakukan operasi rutin mencari minuman keras, narkoba, dan senjata tajam yang sangat mungkin dibawa oknum mahasiswa ke dalam kampus.
Pimpinan perguruan tinggi harus membuka diri dan memberi akses seluas-luasnya bagi kepolisian untuk memasuki wilayah kampus dalam rangka menegakkan ketertiban. Harus disosialisasikan kepada seluruh mahasiswa bahwa kampus bukan area steril yang tidak boleh dimasuki polisi. Pimpinan harus satu sikap, harus bertindak tegas, dan jangan beri bantuan apapun pada mahasiswa ketika berurusan dengan kepolisian. Dengan upaya ini dan upaya lain yang disebutkan sebelumnya, maka upaya menghadirkan kampus yang damai tanpa tawuran mahasiswa bukan sekedar impian ***

Â

Buanaadalah Pemerhati Pendidikan

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya