HTTP Status[404] Errno [0]

Wartawan Peliput Pesawat Jatuh Dianiaya Oknum Anggota TNI AU

17 October 2012 01:08
Wartawan Peliput Pesawat Jatuh Dianiaya Oknum Anggota TNI AU
Wartawan peliput pesawat jatuh Hawk 200 milik TNI AU, Selasa (16/10/2012) mendapat perlakuan kekerasan dari oknum anggota TNI AU.

Wartawan peliput pesawat jatuh Hawk 200 milik TNI AU, Selasa (16/10/2012) mendapat perlakuan kekerasan dari oknum anggota TNI AU.

BugisPos –Â Meliput pesawat 200 Hawk TNI AU yang jatuh di sekitar Gang Amal, Perumahan Pandau Permai, Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Riau , Selasa (16/10/2012) membuat seorang jurnalis lokal Riau Fahri Rubianto mendapat penganiayaan yang diduga dari pihak TNI AU yang berada di lokasi.

“Saya dipukuli tadi. Dari POM AURI yang pakaian olahraga,” kata Robi, panggilan akrabnya.

Saat dihubungi Robi pun mengatakan sedang menuju rumah sakit Kartini, Pekanbaru untuk pemeriksaan. “Ini lagi menuju ke rumah sakit Kartini,” ujarnya.

Hingga berita ini ditulis, pihak TNI AU yang ada di Pekanbaru belum bisa dikonfirmasi terkait dengan penganiayaan terhadap jurnalis ini.

Anggota Komisi V DPR RI Teguh Juwarno menyayangkan tindakan oknum TNI AU yang memukul wartawan. Menurut Teguh, tidak ada ketentuan yang melarang wartawan mengambil liputan kecelakaan pesawat tempur TNI.

“Tindakan main pukul oknum TNI terhadap wartawan amat disayangkan. Tindakan ini jelas-jelas melanggar freedom of the press,” kata Teguh seperti yang dirilis Tribun News.com di Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (16/10/2012).

Mantan jurnalis itupun kemudian meminta Panglima TNI menegur bawahannya yang bertindak sewenang-wenang. Teguh juga menilai tindakan tersebut sangat mengecewakan ditengah era keterbukaan informasi publik.

“Ternyata ada oknum aparat kita yg masih main hakim sendiri. Tindakan oknum aparat ini harus dikecam keras agar tidak terus terulang di masa datang,” tukasnya.

Diketahui, fotografer Riau Pos Didik bergelut dengan Anggota TNI AU saat
hendak menggambil gambar di lokasi jatuhnya pesawat TNI AU, Selasa (16/10/2012). Gambar tersebut sudah beredar luas di kalangan wartawan yang meliput di lokasi kejadian di Pandau, Kampar, Riau.

Korban tindakan kekerasan tentara TNI Angkatan Udara di Pekanbaru, Kameramen Riau TV Fahri Rubianto, menceritakan kronologi pemukulan itu. Awalnya Robi, panggilan Fahri Rubianto, sedang mengambil gambar bangkai pesawat Hawk 200.

Ia kemudian melihat rekannya wartawan foto Riau Pos, Didik Herwanto, dipukul Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) TNI AU Pekanbaru Kolonel Penerbang Bowo Budiarto. »Saya kemudian merekamnya,” ucap Robi ketika dihubungi Selasa, (16/10/2012) kemarin.

Tiba-tiba ada salah satu tentara yang menunjuk Robi. Tidak ingin mengalami hal yang serupa, Didik segera berlari menyelamatkan diri sambil mengeluarkan kaset dari kamera dan menggantinya dengan yang baru.

Sesampainya di samping sebuah rumah, Robi berhenti dan bersembunyi. Tiba-tiba ada laki-laki menyegapnya dari belakang.

»Memakai baju olah raga bertuliskan Paskas TNI dan celana pendek,” ucap Robi. Setelah memukul di sebelah bawah mata kanan, laki-laki itu merebut kamera Robi. Ia segera berlari sebelum mendapatkan perlakuan yang lebih parah.

Robi tidak ingat pasti berapa jumlah pasti wartawan dan warga yang dipukul. Ia hanya memprediksi sekitar enam orang. Sampai saat ini kamera wartawan atau alat rekam warga yang disita belum dikembalikan.

Para wartawan yang mendapatkan pukulan sudah melakukan visum di Rumah Sakit AURI dan Rumah Sakit Bhayangkara Pekanbaru.

PWI Riau, kata Robi berencana akan melakukan aksi di depan Kantor DPRD Riau. Mereka juga berencana membawa kasus ini ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.

Beberapa wartawan mendapatkan pukulan saat hendak melakukan peliputan di kawasan jatuhnya pesawat Hawk 200 diantaranya Didik Herawanto Fotografer Riau Pos, Rian Anggoro wartawan Antara, Robi kameramen Rtv dan Ari kameramen Tv One mendapatkan perlakuan kasar dari aparat TNI AU.

Bahkan, tidak cuma itu, kamera yang digunakan wartawan tersebut juga ditahan aparat TNI AU.

Kadispen AU Minta Maaf Atas Insiden Kekerasan pada Wartawan

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispen AU), Marsekal Pertama Azman Yunus meminta maaf atas insiden pemukulan yang dilakukan seorang anggotanya terhadap beberapa jurnalis media massa di Perumahan Pandau Permai, Pekanbaru, Riau.

“Mohon maaf yang sebesar-besarnya, itu di luar kendali kami,” kata Azman.

Dalam foto yang beredar di jejaring sosial, tampak seorang fotografer Riau Pos, Didik, mengalami tindakan kekerasan. Dia berada dalam posisi di bawah anggota TNI AU yang sedang mencekiknya. 

Hingga kini belum ada konfirmasi dari petugas TNI AU yang berada di Pekanbaru atas insiden itu.

Wartawan tvOne di Pekanbaru juga mengalami tindakan kekerasan. “Kamera saya dirampas, kasetnya diambil,” kata Ari. Dia jug mengaku perutnya sempat ditendang, dan lehernya dicekik.

Kepala Staf TNI AU Marsekal Imam Sufaat membenarkan anak buahnya menghalang-halangi wartawan mendekat dan mengambil gambar itu. Alasannya, ada bagian rahasia dalam pesawat tempur itu.

“Iya, kalau untuk pesawat tempur itu rahasia ya,” kata Sufaat di Istana Negara, Selasa 16 Oktober 2012, seperti yang dirilis TEMPO.co.

Menurutnya, selain kerahasiaan itu, orang tak berkepentingan penyelamatan dilarang mendekat guna menghindari kejadian tak diinginkan seperti adanya bom aktif kemudian meledak.

“Nanti kalau misalnya bawa bom, nanti situ kena bomnya,” kata Imam.

Wartawan dari berbagai media massa tidak diperbolehkan mendekat lokasi jatuhnya pesawat milik TNI AU di Pandau, Pekanbaru, Selasa 16 Oktober 2012. Kawasan tersebut dijaga ketat anggota TNI.(gafar)


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya