HTTP Status[404] Errno [0]

AYAM KETAWA PEMANGGIL REZEKI

21 October 2012 22:27
AYAM KETAWA PEMANGGIL REZEKI
Ayam Ketawa

BugisPos — Percaya atau tidak, ada ayam yang bisa ketawa, bahkan karena keunikan kokok ayam itu, sehingga menjadi unggas yang paling diburu saat ini. Bukan hanya karena suaranya yang khas, akan tetapi banyak pula kalangan yang mempercayai, bahwa ayam seperti itu dapat digunakan sebagai pemanggil rezeki atau penglaris usaha. Benarkah demikian, berikut liputannya :

Ayam ketawa atau disebut pula dengan nama Manu Gaga’ di masyarakat Bugis, dipercaya merupakan unggas asli masyarakat Ajatappareng, khususnya Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan.

Konon kabarnya, dahulu kala ayam jenis ini merupakan ayam peliharaan raja-raja Sidenreng dan Rappang. Ayam ini, bukan hanya sebagai unggas peliharaan semata, akan tetapi dipercaya pula memiliki indera khusus untuk mengetahui akan ada kejadian berupa banjir, kebakaran dan bencana alam di kerajaan tersebut. Selain sebagai unggas kesayangan raja, ayam ini juga sering diperlombakan oleh para bangsawan di kedua kerajaan tersebut, untuk menaikkan gengsi sang pemilik ayam.

Ciri-ciri ayam ketawa tak ada bedanya dengan ayam kampung biasa yang kita kenal, baik dari segi bentuk maupun perawakannya. Hanya apabila kita telah mendengar suara ayam itu, baru kita dapat menbedakan antara ayam ketawa dengan ayam kampung biasa. Suara kokok ayam ketawa tidak panjang seperti kokok ayam yang biasa kita dengar, akan tetapi suaranya terpenggal-penggal seperti orang gagap ; Itulah mengapa disebut pula dengan nama Manu Gaga’ yang sekilas terdengar seperti orang tertawa. Penamaan ayam ketawa itu sendiri tercetus setelah komunitas pencinta unggas asal pulau Jawa menamainya dengan sebutan ayam ketawa, di Sidrap sendiri, yang merupakan daerah habitat asli ayam ini, sejak dulu dikenal dengan nama Manu’ Gaga’.

Tiga Jenis

Â

Ayam ketawa sendiri ternyata terbagi menjadi tiga jenis ayam, tergantung dari jenis suara ayam tersebut, yaitu :

  1. Jenis ayam Garetek : Dinamai seperti itu karena jenis ini memiliki interval suara yang agak cepat, yang masyarakat pencinta ayam memakai istilah jenis dangdut.
  2. Jenis ayam Gaga’ : Dinamai seperti itu karena tempo suaranya yang agak lambat dan seperti orang yang gagap. Biasanya disebut pula dengan tempo pop slow.
  3. Jenis ayam Do’do : Dinamai seperti itu karena tempo suaranya yang sangat lambat dan mendayu-dayu.

Selain jenis suara yang menjadi daya tarik, ternyata sebagian pencinta ayam ketawa, memberikan penilaian tersendiri terhadap warna bulu pada ayam ketawa. Sehingga terdapat istilah bulu kelas satu, kelas dua dan kelas tiga. Adapaun jenis bulu pada ayam ketawa sama persis dengan ayam kampung pada umumnya. Akan tetapi penggolongan warna bulu ayam ketawa yang berkelas sudah menjadi standart baku bagi pencinta ayam ketawa. Adapun jenis bulu berdasarkan warnanya adalah :

  1. Bulu Bakka : warna dasar bulu berwarna putih mengkilap, biasanya ada beberapa warna lain yang tak dominan seperti hitam, merah maupun jingga. Warna bulu ini disebut sebagai bulu kelas satu karena banyaknya orang yang menggemari.
  2. Bulu Lappung : Warna dasar bulu berwarna hitam kombinasi dengan warna merah hati.
  3. Bulu Ceppaga : Warna dasar hitam kombinasi dengan warna putih.
  4. Bulu Koro: warna dasar hitam kombinasi hijau dan warna putih dan kuning mengkilap.
  5. Bulu Ara: warna dasar hitam kombinasi warna jingga terang dan merah.
  6. Bulu Ijo buata : warna dasar ijo kombinasi merah dan hitam sedikit.
  7. Bulu Bori: warna dasar merah dan warna bintik-bintik kuning mengkilap.
  8. Bulu Kelleng  : warna dasar abu-abu, biasa di selingi dengan warna lain yang tak dominan seperi merah, hitam maupun jingga.

Fenomena Mistis

Â

Karena keunikan suara ayam ini, membuat ayam ini memiliki harga yang selangit. Ayam ini dapat dihargai dengan banderol puluhan hingga ratusan juta rupiah berdasarkan keunikan suara serta kemenangannya diberbagai kontes. Bayangkan untuk harga ayam yang belum berkokok saja dapat dihargai dengan harga 200-500 ribu rupiah. Padahal sebelumnya harga ayam jenis ini belum terlalu tinggi, nanti setelah di populerkan di daratan Jawa, mendongkrak harga ayam ini menjadai selangit. Ternyata pemilik ayam ketawa di jawa, bukan hanya memelihara ayam jenis ini sebagai hobbi semata, akan tetapi karena mereka percaya bahwa ayam ini dapat memanggil rezeki dan melancarkan usaha mereka. Kepercayaan seperti itu menular hingga ke Sulawesi Selatan yang merupakan daerah asli ayam tersebut. Ini dapat dilihat, dengan banyaknya orang yang menaruh ayam ketawa mereka di depan tempat usaha mereka. Baik itu di pasar tradisional, bengkel maupun pasar modern, walaupun hanya sekedar memperdengarkan rekaman suara kokok ayam.

Menurut salah seorang penggemar ayam ketawa asal Pare-pare, Hamka (25), fenomena ayam ketawa ini, memang sangat diburu , pasca dimuatnya kontes ayam ketawa di pulau Jawa oleh salah satu televisi swasta nasional, sehingga penggemar ayam ketawa asal pulau Jawa memburunya ke wilayah Ajatappareng seperti Sidrap, Pare-pare, maupun Pinrang. Hamka mengsinyalir, beberapa bupati di Sulawesi Selatan juga memelihara unggas jenis ini. “Ayam sebesar ini saja, pak !, sudah di hargai 500 ribu rupiah padahal baru belajar berkokok, apalagi orang jawa, pak ! mereka tidak tawarmi, berapa pun harganya, katanya bisa panggil rezeki” ujar Hamka ketika ditemui BugisPos di tempat pembiakan ayam ketawanya di bilangan Sudiang.

Fenomena mistis tentang beberapa jenis hewan yang dapat memanggil rezeki memang masih mengakar kuat di masyarakat kita, bukan hanya orang Jawa yang begitu terus terang mengakuinya akan tetapi masyarakat Sulawesi Selatan juga tak sedikit yang mempercayainya, walaupun masih sedikit malu-malu untuk mengakuinya. Bukan hanya ayam ketawa, jenis burung perkututpun dipercaya dapat memberikan hoky bagi pemiliknya. Sehingga unggas jenis ini juga memiliki harga yang selangit. Mereka berkeyakinan suara yang keluar dari unggas tersebut merupakan panggilan kepada malaikat pembawa rezeki dan keberuntungan untuk singgah kerumah atau ketempat itu.

Secara logika memang memelihara jenis unggas seperti ini memang membawa hoky, karena untuk jenis ayam seperti itu yang biasanya hanya seharga puluhan ribu dapat di banderol dengan harga puluhan juta, tentu memang betul-betul membawa hoky bagi pemiliknya, tak salah jika dewasa ini banyak orang yang latah menjadi penggemar ayam untuk hewan peliharaan padahal sebelumnya mereka hanya penggemar ayam yang terhidang di meja makan.

Adapun suara kokok ayam ketawa ataupun ayam bernyanyi bahkan ayam berbicara sekalipun, bukan menandakan keunikan mereka ataupun kehebatan pemeliharanya akan tetapi berupa seruan kepada kita manusia untuk bangun dan beribadah kepada tuhan. Para ulama kita meyakini suara ayam maupun binatang lainnya merupakan suatu bentuk puji-pujian kepada Sang Khalik dan bentuk seruan kepada manusia untuk mengingatNya. (awing)


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya