HTTP Status[404] Errno [0]

Meneladani Perjuangan Nabi Ibrahim AS

26 October 2012 22:12
Meneladani Perjuangan Nabi Ibrahim AS
Meneladani Perjuangan Nabi Ibrahim AS
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh: M. Yusuf Sewang

SETIAP kali Idul Adha menjelang dan tiba dalam kehidupan kita, maka setiap itu pula kita akan mengenang pada sebuah keluarga kecil sederhana dan bahagia sakinah mawaddah wa Rahmah, dia adalah keluarga Nabiullah Ibrahim AS, keluarga kecil dan sederhana hanya terdiri dari seorang ayah, seorang ibu dan seorang anak. Namun keluarga kecil nan sederhana ini telah mencatat sebuah sejarah dengan tinta emas yang sangat mengagungkan tentang sebuah kepatuhan dan penghambaan yang luar biasa kepada Allah Azza wa Jalla.
Ingatlah ketika dengan perintah Allah Ibrahim menyusuri sebuah perjalanan panjang ditengah gersang dan panasnya gurun dan padang pasir yang sungguh luas, lalu dengan begitu saja di lembah Mekah itu ia tinggalkan istri dan putra kecilnya yang masih belia Ismail.

Tanpa pengawal dan bekal apapun. Apakah beliau pernah mengeluh? Ya Allah kenapa dilembah kering tak berpenghuni ini akau meninggalkan keluargaku yang lemah ini! Kita tidak pernah menemukan pertanyaan itu, sebab memang begitulah pribadi hamba Allah yang sejati yang ada hanyalah Tawakkal “Sami’na wa Atha’na” yang ada hanyalah kesabarab jiwa menjalankan syari’at Allah, keberanian yang kuat akan kebenaran janji Allah :
Ya Tuhan kami, Sesungguhnya Aku Telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, (QS. Ibrahim : 37)
Saat itu Siti Hajar sang istri Ibrahim AS, yang membawa putranya yang masih sangat kecil, bukan tipe wanita yang lemah dan cengeng, dia adalah pribadi yang sabar dan yakin kepada Allah. Ketika Nabiullah Ibrahim mengatakan : “Aku tinggalkan kalian bersama Allah” Hajar pun bersedia dengan yakin dan berkata” Kalau begitu Allah tak akan menyia-nyiakan kami ”Subuhanallah! Kaum Muslimin yang berbahagia, simak baik-baik ungkapan Hajat ini “Kalau begitu Allah tak akan menyia-nyiakan kami” adakah di antara kita yang bisa mengucapkan kalimat ini di tengah padang pasir tak berpenghuni, tak bertanaman, tanpa teman dan bekal, sembari membawa seorang anak bayi yang baru saja lahir? Jawaban ini hanya akan keluar dari mulut seorang hamba sejati yang selalu sabar dan yakin kepada Allah.
Dan sejarah tentang kesabaran dan keyakinan inipun kembali terulang pada keturunan mereka Nabiullah Ismail AS, ketika tiba-tiba sang Ayah diperintahkan untuk menyembelih sang buah hati, maka dengan penuh kepatuhan dan keyakinan kepada Allah SWT, sang anak cerdas yang tumbuh dalam suasana penghambaan inipun mengatakan dengan tulus :

Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insyaAllah ayah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS.As-Shaffaat : 102)

Lembaran sejarah telah membuktikan bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan hamba-hambaNya yang tunduk kepada syariatNya yang memang ia turunkan untuk mengatur kehidupan mereka. Kitapun tahu bahwa Hajar tidakm pernah mati kelaparan dan kehausan di tengah padang tidak pernah mati kelaparan dan kehausan di tengah padang pasir yang sangat tandus itu.

Bahkan beliau lah yang menyebabkan Allah mengalirkan sumber air Zam-zam yang telur mengalir tanpa henti hingga mini. Bahkan lembah Mekah yang tandus tak berpenghuni itu semakin hari semakin menjadi tempat yang menarik para pedagang untuk singgah lalu membangun sebuah kemunitas peradaban di sana. Ketika Ismail AS rela disembelih karena Allah, Allah SWT justeru membiarkannya hidup, lalu menggantinya denga seekor domba yang gemuk, inilah yang menjadi pijakan kita untuk menyembelih hewan kurban setiap ‘Iduladha yang bagi yang mampu.
Ini semua hanya setetes bukti sejarah nyata di antara lautan bukti Allah SWT, bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan siapapun yang tunduk, patuh, bertawakkal, dan menjalankan semua perintah dan syari’at Allah SWT. Namun ketika yang kita perbuat adalah sebaliknya, maka simak firman Allah berikut ini :

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. Al-An-Am : 44)

Kembali kita menggali dan merenung terhadap kisah keluarga Nabiullah Ibrahim AS. Dari awal, maka jalan keluar satu-satunya dari kemelut dan krisis ini, hanya satu yaitu kembali kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan menegakkan perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya.
Pantaslah kiranyan Hajar AS, tidak pernah takut menghadapi kesendirian ditengah gurun tandus nan sepi, tidak pernah kwatir akan krisis makanan, dan minuman, tidak pernah gentar terhadap bahaya apapun meski ia hanya ditemani oleh bayinya yang masih mungil, karena ia sangat yakin telah tunduk pada perintah betapapun risiko dan konsekwensinya.

Pantaslah kiranya dengan keyakinan yang hebat beliau berkata : “Kalau begitu Allah tidak pernah akan menyia-nyiakan kami” sebab memang Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan atas hamba yang yang tunduk dan patuh sepenuhnya kepada perintah Allah.

Begitu pula dengan Nabiullah Ibrahim yang dengah penuh kesabaran menjalankan perintah Allah baik pada saat meninggalkan keluarganya, demikian pula saat menyembelih putranya Ismail, semuanya tidaklah menyurutkan keyakinannya terhadap janji Allah sebab yang ia lakukan sepenuhnya hanyalah menjalankan perintah Allah semata, sehingga Allah telah mengkaruniakan mereka kedudukan yang tinggi disisi-Nya, kebaikan yang berlimpah ruah di dunia dan namanya harum yang terus dikenang sepanjang masa dan sampai akhir zaman.

Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.

Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (QS. An-Nahl : 22-23)

Namun yang paling tidak pantas adalah bila kita mengharapkan rahmat Allah, meminta pertolongan Allah dan menanti limpahan rahmat-Nya sementara di sisi lain kita menolak dan berpaling dari perintah Allah SWT dan menerjang larangan-Nya. Dan pada waktu yang sama kita menolak hukum dan syari’at-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Ini semua jelas sebuah logika yang amat menggelikan karenanya untuk kesekian kalinya kita tegaskan bahwa solusinya hanyalah kembali pada Allah dan Rasul-Nya dengan menegakkan syari’at Allah dalam seluruh aspek dan lapangan kehidupan.

Dan dengan meneladani perjuangan Nabiullah Ibrahim di atas, setidaknya ada dua hal yang harus kita penuhi dalam menjalankan syari’at dan perintah Allah SWT di antaranya :

Pertama : Asshabru ata Kesabaran

Kesabaran yang dimaksud di sini adalah kesabaran dalam menjalankan syari’at Allah walaupun terasa berat bagi hawa nafsu, kesabaran dalam menghadapi segala konsekwensi dari ketundukan kita pada aturan Allah, dan juga yang tak kalah pentingnya adalah kesabaran dalam menjalani proses tegaknya syari’at Allah mulai dari pembentukan pribadi Muslim, keluarga muslim, hingga akhirnya terbentuknya tata kelola pemerintahan yang islami, bahkan terbentuknya Negara yang berlandaskan Syari’at Islam. Ingatlah sebuah kata hikmah yang mengatakan : “Tegakkan Syari’at Islam dalam dirimu niscaya ia akan tegak di atas tanah airmu”
Kedua : Al-Yaqinu atau Keyakinan

Yang dimaksud dengan keyakinan disini adalah dibagi dalam tiga hal :

1. Bahwa menegakkan syari’at ini adalah perintah dari Allah SWT. Penguasa alam semesta ini, yang kesemuanya juga demi kemaslahatan dan kesejahteraan kita semua

2. Bahwa dalam menegakkan syari’at dan perintah Allah, maka Allah akan senantiasa bersama kita, menolong dan membantu kita sehingga tidak perlu merasa khawatir ataupun takut.

3. Bahwa agama ini adalah milik Allah semata, Dialah yang akan menegakkannya, kita hanyalah pelaksana dari seluruh keinginan-keinginan-Nya sehingga tawakkal kita hanyalah kepada-Nya semata.
Dua sikap tadi yaitu Sabar dan Yakin adalah satu-satunya jalan yang harus kita tempuh untuk menegakkan syari’at Allah dalam membentuk Keluarga Sakinah Mawaddah wa-Rahmah.

Akhinya marilah kita simak dan renungkan firman Allah berikut ini: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Qs. Al-‘Araf : 96). Wallahu Warasulahu ‘Alam ***

M. Yusuf Sewangadalah Sekretaris Wilayah LPPTKA-BKPRMIÂ Prov. Sulawesi Selatan

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya