HTTP Status[404] Errno [0]

Sidrap Mulai Kembangkan Melon

07 November 2012 17:43
Sidrap Mulai Kembangkan Melon
Kabupaten Sidrap mulai mengembangkan tanaman hortikultura melon dan cabai.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Kabupaten Sidrap mulai mengembangkan tanaman hortikultura melon dan cabai.

BugisPos –Â Inovasi di bidang pertanian, terus dilakukan petani di Bumi Nenek Mallomo, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap).

Saat ini ada dua jenis tanaman yang mulai dibudidayakan, yakni melon dan cabai. Untuk melon dan cabai lebih banyak dikembangkan di Kecamatan Watang Pulu dan Kulo.

Potensi tanaman melon dan cabai cukup menjanjikan, baik dari sisi harga maupun permintaan pasar. Inilah alasan utama petani tertarik menggarapnya.

Syarifuddin, petani yang pertama kali membudidayakan melon dan cabai di Lawawoi, Kecamatan Watang Pulu, sebagaimana dirilis FAJAR online mengakui, kedua jenis pertanaman ini memiliki prospek yang sangat bagus ke depan.

“Bayangkan saja, cukup dengan menyiapkan biaya produksi Rp10 juta, kita sudah bisa menghasilkan uang Rp9 juta perminggu sekali panen cabai dalam satu hektare,” ujarnya.

Keuntungan yang bisa diperoleh pada tanaman melon, kata Syarifuddin, juga tak kalah besarnya. Menurutnya, hanya dengan menanam melon seluas tiga hektare dengan biaya produksi sekira Rp20 jutaan, sekali panen bisa diperoleh 3,5 ton. “Hanya dengan 60 hari atau dua bulan saja, buah melonnya sudah bisa dipetik jual,” ujarnya.

Syarifuddin yang juga ketua kelompok tani (Poktan) Tunas Muda di Lawawoi ini, menambahkan, beberapa kelebihan tanaman cabai karena proses pembudidayaannya tidak terlalu rumit. Di samping itu, dapat dipetik (Penen, red) selama sembilan kali.

“Khusus di poktan kami, biaya produksi yang dipakai hanya Rp30 sampai Rp35 juta per hektare dan dapat menghasilkan 10 ton pada puncak panen,” ujarnya.

Saat-saat tertentu, kata dia, harga cabai memang terkadang anjlok. Sebaliknya, harga cabai terkadang naik drastis saat puncak panen tiba.

“Seperti sekarang ini, harga yang berlaku di pasaran hanya sekira 2000-an per kg, tapi kadang langsung naik Rp10 ribu hingga Rp15 ribu, bahkan Rp80 ribu per kilo pada puncak panen. Nah, disinilah biasanya petani cabai langsung kaya,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Sidrap, Ir Amiruddin MS yang ditemui terpisah, di kantornya, mengatakan, pada dasarnya, budi daya tanaman hortikultura tersebut dilakukan dengan melihat aspek kesuburan tanah pertanian di daerah ini.

Olehnya, pemerintah tidak henti-hentinya menyemangati petani agar tidak hanya fokus pada satu pertanaman saja. “Karena ketiga jenis pertanaman tadi, yakni melon, cabai dan kopi dianggap cocok dikembangkan di Sidrap, makanya kita mendorong petani mengembangkannya,” ujar Amiruddin.

Sebenarnya, kata Amiruddin lagi, petani di Watang Pulu dan Kulo serta di Pitu Riase tergolong baru membudidayakan ketiga jenis tanaman hortikultura tadi. “Kalau tidak salah baru dimulai 2010-2011. Kendati baru, namun hasilnya sudah dapat dilihat dan dinikmati petani itu sendiri,” lontarnya.

Untuk produksi tanaman cabai, lanjut Amiruddin, selain dilempar ke pasaran untuk kebutuhan lokal, semisal di Sidrap, Parepare, Pinrang dan Soppeng, produksi cabai ini juga dikirim ke Kalimantan Timur (Kaltim) melalui pengusaha yang datang langsung membelinya ke Sidrap.

“Biasanya untuk cabai basah, penjualannya cukup di pasar lokal saja, sementara cabai kering yang sudah melalui penyortiran pedagang, itu biasanya dipasarkan di Balikpapan, Samarinda, Sangata, Bontang dan beberapa daerah lainnya di sana,” kata mantan peneliti di bidang pertanian ini.

Lantas bagaimana dengan tanaman kopi? Tidak jauh berbeda dengan tanaman cabai dan melon di Watang Pulu dan Kulo. Tanaman kopi di Sidrap ini kini juga mulai di kembangkan petani di Desa Leppangeng, Kecamatan Pitu Riase.

Akan halnya dengan tanaman cabai dan melon, budi daya tanaman kopi ini, kata dia, dinilai sangat menjanjikan. Potensi tanaman kopi di Desa Dengeng-dengeng ini, baik dari sisi harga maupun permintaan pasar.

Disebutkan, topografi lahan di Desa Dengeng-dengeng memang sangat cocok untuk pengembangan tanaman kopi. Terbukti, kata dia, petani kopi di desa tersebut kini sudah mulai memproduksi kopi siap jual.

“Masyarakat petani kopi menamai kopinya kopi sando batu. Kopi jenis arabika ini memiliki cita rasa yang berbeda dengan kopi-kopi berkualitas ekspor lainnya,” ungkapnya.(gafar)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya