HTTP Status[404] Errno [0]

Rasa Itu Ada Di Dalam Diri

12 November 2012 22:01
Rasa Itu Ada Di Dalam Diri
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

oleh: Willy Kumurur
“For every minute we are angry we lose sixty seconds of happiness.”
(Untuk setiap menit dalam kemarahan, kita kehilangan enam puluh detik kebahagiaan)

~~Ralph Waldo Emerson

SEPEKAN lalu, aku berjumpa sahabat lama, setelah berbulan-bulan tidak pernah bersua. Sekilas, tak ada yang berubah dari dirinya: fisiknya sehat dan penuh senyum. Namun, jika diperhatikan lebih cermat, ia nampak lebih ceria, lepas, dan…… amat bahagia. Sebagai seorang mantan kepala cabang sebuah perusahaan yang bagus, ia bahagia menjalani profesinya sebagai developer property di sebuah kota kecil. Jika sebelumnya ia bekerja di bawah tekanan, sekarang ia bebas dari tekanan siapapun. Ia menjadi tuan bagi dirinya sendiri, ia bebas berbuat apa saja yang dikehendakinya; kebebasan yang bertanggungjawab. Dengan ekspresif ia mengisahkan perjalanan `karier’nya; jatuh-bangun meniti bentangan waktu.
Di suatu siang yang sangat tak nyaman, mentari bersinar amat terik seolah memanggang bumi dalam bara. Sang surya menghunjamkan cahaya panasnya persis di ubun-ubun. Ia meminta para pekerja untuk membentangkan sebuah tenda yang cukup besar, agar ia bisa duduk `nyaman’ di bawah tenda mengakses internet sambil mengawasi para kuli bangunan. Namun, panas tak tetap tak bisa diusir. Angin yang berhembus dari arah utara membawa hawa panas sambil mempersembahkan rasa tak nyaman. Kembali ia mengeluh, karena tubuh seperti dibakar di atas api yang menyala-nyala. “Kapankah panas ini berlalu?” keluhnya. Yang terdengar hanya suara beradunya benda-benda keras, palu godam dengan batu, martil dengan paku, dan sebagainya. Di tengah hingar-bingar suara tak beraturan itu, dari sebelah kanannya ia mendengar suara sumbang yang menembangkan lagu berirama dangdut. Dipalingkannya kepalanya ke arah asal suara itu. Suara itu berasal dari salah seorang dari sekian buruh bangunan; yang bertelanjang dada di bawah sinar matahari. Buruh itu menyanyi sambil berlenggak-lenggok mengikuti irama lagu dangdut yang berasal dari telepon genggam sederhana yang terselip di pinggangnya. Kedua tangannya lincah menyusun batu-bata dengan campuran semen dan pasir. Tak nampak ia kepanasan walau hanya memakai celana pendek butut. Dengan wajah riang-gembira ia mengerjakan tugasnya diiringi musik.
Sahabatku terpana; ia kemudian berkata kepada dirinya sendiri, “Buruh bangunan ini bergaji harian hanya sekian puluh ribu, namun ia menikmati pekerjaannya. Ia nampak bahagia dengan apa yang ada padanya. Lalu mengapa aku yang telah memiliki banyak bahkan melebihi apa yang dimilikinya tidak mensyukuri nikmat Ilahi?”
Ia kian tenggelam dalam renungannya, “Ia berada di udara terbuka, terpanggang panas matahari membakar kulit, sedangkan aku yang berada di bawah keteduhan tenda ini tanpa kerja keras namun terus-menerus mengeluh? Mengapa aku tak mensyukuri karunia Ilahi ini?”
Peristiwa itu bagai jarum hipodermik yang menghunjam sampai dalam sekali ke jantung kesadarannya, “Mengapa mesti kucari kebahagiaan dan kenyamanan di luar sana? Mengapa tak kusadari semua ridhoNYA dalam hidup ini?”

Malam itu, sahabatku membuatku “kaya” dengan kisahnya. Kisah pengalaman yang menyeretku ke kontemplasi yang dalam…….; lalu aku terkenang pada John Lennon yang pernah berkata, “Count our age by friends, not years. Count our life by smiles, not tears (Hitunglah usia kita dengan hadirnya sahabat-sahabat, bukan dengan tahun. Hitunglah hidup kita dengan senyum, bukan dengan air mata).” ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya