HTTP Status[404] Errno [0]

ASEAN Satu Masyarakat Satu Takdir… Terbelah Soal China

20 November 2012 22:42
ASEAN Satu Masyarakat Satu Takdir… Terbelah Soal China
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Akhmad Kusaeni

ASEAN Global Dialogue di Phnom Penh dihadiri juga delapan negara mitra wicara ASEAN dan wakil ADB, IMF, Bank Dunia, serta UNCTAD membahas peran ASEAN dan Asia Timur dalam menangani ekonomi dan keuangan dunia.
“Gagasan ASEAN adalah membentuk kekuatan gabungan terpusat. Artinya ASEAN, dan bukan kekuatan besar seperti China, Jepang, dan Amerika Serikat, yang harus membangun arsitektur geopolitik di kawasan Asia Tenggara,” kata pengamat Asia Tenggara, Amitav Achariya.

Dia prihatin dengan situasi konflik yang memanas di Laut China Selatan.

“Kini kebersatuan dan kohesi ASEAN mendapat tantangan,” katanya, mengacu perebutan pengaruh antara China dan Amerika Serikat di Asia, khususnya yang terkait dengan kawasan Laut China Selatan.

Kegagalan membuat komunike final terkait kode perilaku di Laut China Selatan pada dua kali pertemuan para pemimpin ASEAN di Phnom Penh, beberapa waktu lalu, menurut pakar internasional, Gregory Poling, menimbulkan keraguan bshes ASEAN mampu mengatasi isu keras dan sensitif.

“Itu juga menyebabkan tuduhan, terutama dari Vietnam dan Filipina, bahwa Kamboja telah menempatkan hubungan baiknya dengan China di atas kepentingan anggota lain ASEAN,” kata pengamat CSIS itu.

Presiden Filipina, Benigno Aquino, merasa diabaikan dan terpinggirkan dalam upayanya menyelesaikan konflik maritim dengan China. Filipina juga mengajukan klaim atas kepemilikan sebagian kecil Laut China Selatan, yang dinamakan mereka sebagai Laut Filipina Barat.

Aquino sempat mengajukan interupsi saat Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, menyimpulkan rancangan pernyataan bersama ASEAN dalam hubungan dengan China. Hun Sen dalam kesimpulan pertemuan ASEAN dengan Perdana Menteri China, Wen Jiabao, mengatakan, semua ke-10 anggota ASEAN sepakat tidak menginternasionalisasi sengketa teritorial di Laut China Selatan.

“Aquino langsung menginterupsi dan menyatakan memang terjadi sejumlah pandangan mengenai kebersatuan ASEAN, tapi itu tidak bisa diterjemahkan sebagai konsensus ASEAN,” katanya.

Jurubicara Presiden Filipina, Sonny Coloma, menjelaskan kepada wartawan mengapa boss-nya melakukan interupsi. Apa yang disimpulkan pemimpin Kamboja, katanya, bukanlah kesimpulan akurat dari pandangan Filipina.

“Kesimpulan untuk tidak menginternasionalisasi sengketa maritim itu bukan suara bulat 10 negara ASEAN,” kata Coloma. Jika forum ASEAN tidak bisa memperjuangkan kepentingan Filipina, maka Presiden Aquino akan menempuh semua jalan internasional yang ada.

“ASEAN bukan satu-satunya jalan bagi kami. Sebagai negara berdaulat, adalah hak kami untuk membela dan memperjuangkan kepentingan nasional ke manapun termasuk ke PBB,” kata Aquino.

Tidak ada konsensus

Sebaliknya, Kamboja menggunakan kekuasaannya sebagai ketua ASEAN tahun ini untuk membatasi pembahasan dan perdebatan mengenai Laut China Selatan. Kamboja sepakat dengan Beijing bahwa sengketa di Laut China Selatan harus diselesaikan melalui kerangka bilateral. Bukan secara multilateral seperti ASEAN.

Makanya dipastikan tidak ada konsensus ASEAN, apalagi kode etik, untuk meredakan ketegangan di Laut China Selatan, pada KTT ke-21 ASEAN yang ditutup Selasa petang (20 Nopember 2012).

“Belum… belum…. Kode etik dimaksud masih jauh, masih proses panjang,” kata Jurubicara Presiden urusan Internasional, Teuku Faizasyah.

Jika Filipina yang lebih dekat kepada Amerika Serikat mendorong internasionalisasi isu Laut China Selatan, Kamboja yang merapat ke China sebaliknya; ingin sengketa kawasan diselesaikan secara bilateral dan tidak melibatkan kekuatan-kekuatan besar lain diu luar kawasan.

Indonesia yang paling netral dalam kaitan dengan isu Laut China Selatan. Seorang diplomat Indonesia mengatakan, posisi Indonesia ibaratnya mendayung di dua karang besar, yaitu China dan Amerika Serikat yang tengah memperkuat kehadirannya di Asia Pasifik.

Posisi Indonesia yang terbaik adalah membuat senang Amerika Serikat namun pada saat yang sama juga tidak membuat marah China. “Kita harus duduk mengambil posisi di antara Obama dan Wen Jiabao. Baik Obama dan Wen Jiabao harus tetap merasa Indonesia adalah sahabat sejati mereka,” kata diplomat yang mendalami persoalan ASEAN tersebut.

Posisi tersebut jelas akan menguntungkan Indonesia, yaitu mendapat benefit ekonomi dari China, yang sedang beranjak menjadi raksana ekonomi dunia, dan juga mendapat perlindungan politik dari Amerika Serikat sebagai adidaya pertahanan dan militer dunia.

Begitulah ASEAN. Motto dari KTT ASEAN di Kamboja kali ini, yang dipasang di setiap backdraft, poster dan brosur adalah ASEAN: Satu Masyarakat, Satu Takdir… namun jelas terbelah dalam menyikapi soal hegemoni China di Laut China Selatan. (*)


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya