HTTP Status[404] Errno [0]

23 November 2012 04:27
Penandatanganan MoU dengan Gubernur se-Sulawesi terkait jaringan interkoneksi listrik dan pengembangan transportasi udara yang maksimal di pulau Sulawesi yang dianggap sudah sangat mendesak.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Penandatanganan MoU dengan Gubernur se-Sulawesi terkait jaringan interkoneksi listrik dan pengembangan transportasi udara yang maksimal di pulau Sulawesi yang dianggap sudah sangat mendesak.

BugisPos — Jaringan interkoneksi listrik dan pengembangan transportasi udara yang maksimal di pulau Sulawesi sudah sangat mendesak.

Hal ini menjadi perbincangan menarik dalam pertemuan tertutup antara para gubernur se-Sulawesi, di Wisma Kalla, Kamis, (22/11/2012).
Seperti dirilis FAJAR online, dalam pertemuan itu turut hadir di pertemuan itu mantan Wapres HM Jusuf Kalla, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh, Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam, dan Gubernur Sulawesi Tengah Longki Djanggola.
JK selaku bos perusahaan Kalla Group yang mengerjakan sejumlah proyek pembangkit listrik dan transportasi di Sulawesi, hadir bersama Direktur Utama Pt Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Emirsyah Satar, selaku mitra kerja pemerintah Provinsi Se-Sulawesi.
Dalam pertemuan tersebut, dua hal penting yang menjadi sorotan sekaligus perlu  dibenahi.
“Dari sisi penerbangan, kita masih terkendala pada aspek tenaga maintenance (perawatan pesawat). Masih sedikit tenaga teknis di Indonesia yang bisa menangani perbengkelan pesawat. Sekitar 70 persen maintenance pesawat-pesawat di Indonesia, itu dikerjakan luar negeri. Selebihnya 30 persen yang dikerjakan di Indonesia,” kata Emirsyah Satar.
Direktur Citilink, M Arif Wibowo menyebutkan, tenaga mekanik yang masih sedikit disebabkan karena sekolah-sekolah penerbangan yang masih kurang. Di Sulawesi Selatan, misalnya, belum ada sekolah penerbangan yang dibawahi pemerintah provinsi.
“SMK Penerbangan di Makassar yang ada malah diinisiasi oleh pihak swasta yang dibentuk karyawan GMF (Garuda Maintenance Facility). Sekolah ini sudah menghasilkan enam angkatan, dengan dua kelas, yakni teknisi mesin dan rangka pesawat udara (airframe & power-plant maintenance), dengan kelas elektronika dan elektrikal pesawat (electrical avionic),” kata dia.
Sementara itu, dari sisi kelistrikan, Jusuf Kalla mengungkapkan, tingkat pemakaian listrik di pulau ini masih konsumtif. Pasalnya, beban puncak tertinggi listrik di pulau ini terjadi pada malam hari, dan kebanyakan disebabkan pemakaian televisi dan peralatan elektronik oleh masyarakat.
“Di daerah seperti Jawa, beban listrik tertinggi terjadi pada siang hari, di saat perusahaan sedang beroperasi,” kata JK.
Interkoneksitas listrik yang belum terwujud, menyulitkan proses investasi di Pulau Sulawesi. Menurut Direktur PT Poso Energy, Achmad Kalla, elektrifikasi Sulsel termasuk rendah. Dari 30.000 watt suplai listrik secara nasional, Sulsel hanya 1000 watt.
Menurut dia, jika interkoneksi listrik di Sulawesi bisa diwujudkan, investasi untuk membangun industri kini bisa di semua daerah di Sulawesi. “Sebetulnya, untuk mewujudkan interkoneksi ini hanya dibutuhkan membangun transmisi yang menghubungkan antara Sulawesi Tenggara ke Sulawesi Tengah, dan Sulut ke Gorontalo,” kata dia.
Untuk membangun itu, dibutuhkan anggaran sekira Rp2 triliun. “Ini susah jika diserahkan ke swasta. Harus ditangani oleh PLN dan pemerintah,” katanya. Untuk itu, para gubernur yang hadir berencana mendesak DPR RI, untuk menggelontorkan anggaran APBN Rp2 triliun tersebut.
“Dana ini masih terlalu rendah jika dibanding dengan inefisiensi PLN karena pembelian solar Rp30 triliun,” kata anggota DPR RI, Malkan Amin yang hadir dalam pertemuan tersebut. (gafar)
Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya