HTTP Status[404] Errno [0]

Sumpah Narkoba di Rotterdam

24 November 2012 00:43
Sumpah Narkoba di Rotterdam
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Usdar Nawawi

Hari Sabtu, 26 Juni 2010, dua tahun yang lampau, Benteng Panynyua, atau Fort Rotterdam di Jl.Ujungpandang, Kota Makassar, menjadi saksi bisu dalam sebuah pernyataan sumpah. Pada hari itu, Pemkot Makassar berkolaborasi dengan Pemprov Sulsel, menyelenggarakan peringatan Hari Anti Narkotika Internasional ; dan yang menjadi salah satu agenda maha penting dalam seremoni ini, ialah adanya pembacaan Deklarasi Anti Narkoba dari segenap komponen di Makassar, dan Sulawesi Selatan. Maka tampillah seniman senior Udhin Palisuri, didampingi perwakilan pemuda, mahasiswa, pelajar, pengusaha hotel, dan pengelola tempat hiburan ; membacakan naskah deklarasi Anti Narkoba.

Dalam deklarasi, para deklarator bertekad untuk menjadikan Sulsel, tentu saja termasuk Kota Makassar, bebas narkoba, serta bekomitmen untuk berani menolak benda tersebut untuk hadir

dalam kehidupan sehari-hari. Momentum ini, sungguh-sungguh berharap dijadikan motivasi untuk menjadikan Sulsel, dan tentunya juga Makassar, menjadi sehat tanpa narkoba.

Deklarasi anti narkoba ini, adalah sebuah sumpah. Sumpah bagi Makassar dan Sulawesi Selatan untuk menolak narkoba, oleh karena narkoba telah banyak merusak tatanan kehidupan di tengah masyakarat. Banyak keluarga yang berantakan karenanya. Coba tengok ke Lapas dan Rutan Gunung Sari, Makassar. Disana, semua blok tahanan dan napi narkoba, selalu penuh sesak. Dan ironisnya, disana pun selalu ramai dengan perdagangan narkoba.

Bahwa sumpah anti narkoba yang diucapkan tahun 2010 di Fort Rotterdam itu, sungguh tak lebih hanya menjadi sebuah simbol belaka. Simbol yang kemudian terlupakan oleh siapapun. Sebab ternyata justeru urusan narkoba bahkan semakin ramai, ya pemakai, ya pengedar, ya bandar. Dan yang paling menyedihkan ialah, justeru oknum penegak hukum pun banyak yang terlibat dalam kasus narkoba, ada pemakai, pengedar dan juga jadi bandar. Maka tak usah terlalu heran bila ada mahasiswa atau warga sipil lainnya yang jadi pemakai atau pengedar ataupun jadi bandar, sebab oknum aparat saja banyak yang terlibat. Sungguh menyedihkan.

Badan Narkotika Nasional (BNN) mencatat, peredaran narkoba di Sulsel sudah melejit lebih tinggi dari rata-rata angka penyalahgunaan narkoba nasional. Tahun 2008 yang lalu, diestimasikan penyalahgunaan narkoba di Sulsel mencapai antara 30 sampai 50 ribu per tahun. Namun ternyata pada tahun 2011 yang lalu, justeru menembus angka 103.883, atau melebihi angka rata-rata nasional. Daerah yang terparah ialah, Makassar, Gowa, Maros, dan beberapa daerah lainnya.

Bahwa apalah arti sebuah simbol, seperti halnya simbol pada sumpah anti narkoba, bila implementasi di lapangan pada semua lini tak bisa berjalan sesui yang diperlukan. Buat apa ada simbol, bila narkoba tetap saja masuk ke Makassar melalui pelabuhan laut, udara, dan atau melalui apa saja.

Logika berfikir kita akan selalu mengatakan, bahwa tidak akan mungkin orang membeli narkoba lalu mengisap atau menikmatinya, apabila tak ada orang yang memasoknya. Mana ada pembeli bila tak ada penjual. Ketika kita menuding penjual narkoba, yang g populer disebut pengedar dan bandar, sebetulnya mereka juga tak akan mungkin dapat mengedarkannya tanpa pasokan narkoba dari luar. Boleh dari luar Sulsel, dari luar Sulawesi, atau bahkan dari luar negeri.

Jadi sesungguhnya, mata rantai perederan narkoba itulah yang mesti fokus diputus, ya di pelabuhan ya di bandara, ya di perbatasan darat antar daerah. Bila kita cuma ramai meributkan narkoba masuk sekolah, menembus ibu-ibu rumah tangga, atau mahasiswa dan oknum aparat yang jadi pengedar, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab masalah yang sebenarnya berada pada mata rantai peredarannya. Dan yang jadi persoalan pelik kemudian ialah, bila dalam pencegahan mata rantai peredaran narkoba itu banyak yang bermain di dalamnya, maka tak heran bila narkoba itu bahkan sejak lama telah menembus jeruji besi di Lembaga Pemasyarakatan dan Rumat Tahanan.

Intinya, ancaman narkoba yang sudah sedemikian parah ini, bila masih ada yang selalu mencoba meraup keuntungan pribadi di dalamnya, dengan mengorbankan kepentingan orang banyak, kepentingan hukum dan kepentingan negara, maka yakinlah kita persoalan narkoba tak akan bisa selesai. Bahkan akan semakin menggunung. Nauzubillah ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya