HTTP Status[404] Errno [0]

Dunia Pendidikan di Makassar, Butuh Kadis Diknas yang Tegas dan Berani

25 November 2012 22:05
Dunia Pendidikan di Makassar, Butuh Kadis Diknas yang Tegas dan Berani
Kompleks SD Sudirman di Jl.Jend Sudirman Makassar
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Kompleks SD Sudirman di Jl.Jend Sudirman Makassar

BugisPos – Dunia pendidikan di kota Makassar, agaknya membutuhkan seorang pemimpin yang berani dan tegas. Berani dan tegas melalakukan tindakan penegakan aturan dan disiplin di jajaran dunia pendidikan yang dibawahinya. Kita sudah tak membutuhkan seorang pimpinan yang loyo dan penakut dalam mengatur manajemen pendidikan di Makassar. Demikian ditegaskan Usdar Nawawi, anggota komite sekolah di salah satu SD di Makassar dan pemerhati masalah-masalah pendididikan.

Usdar mengungkapkan, di Makassar yang begitu banyak SD, SMP dan SMU, belakangan ini nyaris seperti berada di alam rimba. Sedemikian banyak penyimpangan tetapi tak bisa diatasi oleh top pimpinan institusi Diknas. Coba itu soal buku-buku sekolah, katanya ditalangi dana BOS, nayatanya anak-anak murid disuruh juga beli di sekolah. Persekongkolan pihak sekolah dengan para penjual buku-buku dan alat pendidikan lainnya semakin mejadi-jadi. Entah itu aturannya yang tidak bagus, atau pelaksananya yang salah.

Contoh kecil yang terjadi, kata Usdar yang juga pengurus pleno PWI Sulsel ini, Â penyimpangan yang terjadi di SD Sudirman 1 dan 2 soal penjualan buku, pihak Diknas Makassar hanya mendiamkannya saja. Padahal sudah ada orang tua murid yang melaporkan. Konon Kadis Diknas Mahmud BM sudah mengutus pengawasnya ke sana, tapi kemudian Diknas diam. Padahal mestinya kalau ada masalah seperti ini, Kadis Diknas mesti cerdas menangangi agar menjadi contoh bagi yang lain. Misalkan saja dengan melakukan pemeriksaan lalu dirilis ke publik. Ini tidak dilakukan, padahal sudah menjadi hak publik untuk mengetahuinya, karena itu adalah laporan dari masyarakat. Herannnya, Kepsek SD Sudirman 2 yang mengaku menggunakan dana BOS mengecat sekolah sampai Rp 30 jutaan, tak ada tindakan apapun dari Diknas. Buktinya, Kadis Diknas sampai saat ini tidak juga merilisnya ke publik. Sepertinya Kadis Diknas Kota Makassar, belum paham soal Undang-undang Keterbukaan Informasi Publik. Bahwa publik saat sudah harus tahu apa yang terjadi di setiap institusi pemerintahan. Padahal Walikota ilham Arief Sirajuddin sudah capek mensosialisasikan pelaksanaan undang-undang tersebut kepada seluruh pejabat Pemkot.

Usdar yang juga ketua Pokja PWI Unit Pemkot ini menyarankan, agar Kadis Diknas Kota Makassar segera membuka kotak pengaduan, baik di kantor Diknas maupun di seluruh sekolah yang ada. Kotak pemgaduan ini dikelola oleh Diknas, agar dapat lebih cepat menyerap informasi demi perbaikan dunia pendidikan. Dunia pendidikan saat ini menyerap demikian besar APBN dan APBD, tetapi nyatanya di lapangan malah berbanding terbalik. Sebab tetap saja di sekolah menjadi ajang pungutan yang luar biasa berat. Macam-macam pungutan yang muncul. Sedang pada sisi yang lain, seorang Kepsek SD di tepian kota misalnya, baru setahun menjabat sudah nyetir Avansa baru. Semua ini karena nyaris tak ada pengawasan yang efektif dari Diknas. Bahkan boleh jadi di antara pengawas dan jajaran kepsek juga ada ‘main mata’ yang mesra. Buktinya, sepanjang dua tahun terakhir ini, tidak seorang pun pengawas sekolah yang mau merilis temuannya ke publik. Boleh jadi, mereka ini juga belum paham tentang UU Ketebukaan Informasi Publik.

Dengan lembeknya kepemimpinan Kadis Diknas Makassar sampai saat ini, Usdar menyarankan ke Walikota Ilham Arief Sirajuddin, agar segera mencari figur Kadis Diknas yang tegas, berani dan cerdas. Sungguh ribet dunia pendidikan di Makassar kalau cuma punya Kadis Diknas yang lembek (una)

Â

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya