HTTP Status[404] Errno [0]

Ketika Makna Siri’ Na Pacce Bergeser

25 November 2012 22:09
Ketika Makna Siri’ Na Pacce Bergeser
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh: Muh. Abdi Goncing

DALAM beberapa tahun terakhir dalam dasawarsa ini, terlihat jelas bagaimana perubahan pola pikir masyarakat kita yang ada di Sulawesi Selatan, utamanya di kalangan pemuda yang secara otomatis mempengaruhi pola pikir mereka dalam mengaktualisasikan diri dalam kehidupan kesehariaanya. Hal tersebut terlihat pada semakin maraknya fenomena bentrokan massal di antara para mahasiswa kita yang notabene mewakili kaum muda yang memiliki intelektualitas yang juga sebagai generasi pelanjut bangsa.
Ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi dalam hal ini. Fenomena bentrokan massal tersebut seringkali didasari atas sebuah perkara yang sangat simpel dan bersifat personal. Namun hal tersebut kemudian menjadi sesuatu yang dahsyat ketika perkara tersebut kemudian dilarikan ke ranah yang seharusnya tidak tepat, yakni menyangkut persolan siri’ na pacce yang kemudian disalahmengerti oleh kaum intelektual muda kita.
Padahal jika merujuk pada makna asli dari kedua kata tersebut, siri’ itu sendiri sejatinya merupakan rasa malu yang terurai dalam dimensi-dimensi harkat dan martabat manusia atau dengan kata lain sebagi harga diri manusia itu sendiri. Sedangkan pacce sendiri merupakan sebuah pemaknaan atas kolektifitas (solidaritas) moral bagi masyarakat Sulawesi Selatan secara umum (Andi Moein MG, 1990).
Namun, dalam konteks kekinian, pemaknaan tersebut kemudian bergeser ke arah yang cenderung negatif. Makna siri’ kemudian dimaknai hanya sebatas rasa malu dari egoisitas diri para pemuda kita yang kemudian menjadikan pacce dimaknai sebagai sebuah dampak dari siri’ tersebut atau hanya sebatas sebagai sebuah simbol keegoisitasan mereka semata.
Pemaknaan seperti ini sejatinya mendistorsi hakikat dari makna siri’ na pacce itu sendiri, dimana dalam Leonard Y. Andaya (2004) yang mengutip dari lontara’ bahwa sejatinya siri’ itu adalah konsep atas nilai kehormatan yang berasal dari sebuah kebajikan dan pacce (pesse dalam bahasa bugis) adalah perasaan simpati dan empati terhadap moralitas dalam konteks kolektivitas.
Jika mengaca pada pemaknaan tersebut, sejatinya makna kedua kata tersebut jika dikontekskan dalam konteks kekinian khususnya dalam melihat fenomena anak muda kita, telah mengalami pergeseran makna, yang berujung pada sebuah degradasi makna yang sangat mencengangkan. Padahal dalam pappaseng (pesan-pesan orang bijak terdahulu) telah disebutkan khususnya menyangkut tentang siri’ bahwa “siri’nya (harga diri) seorang lelaki (pemuda) itu berada di ujung badiknya, dan siri seorang lelaki (suami) terletak pada istrinya”.
Artinya, dapat dikatakan bahwa harga diri dan kehormatan (siri’) seorang pemuda tersebut sejatinya terletak pada bagaimana dia menjaga agar hal tersebut tetap tersimpan dan terjaga dengan senantiasa berperilaku yang positif demi menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan. Bahkan lebih jauh, dalam lontara’ telah disebutkan sebuah tuntunan dalam menyelesaikan setiap persoalan yang ada, yakni pertama melalui jalan negosiasi atau musyawarah (cappa’ lila), kedua melalui pengikatan hubungan kekeluargaan (cappa’ katau(ng)wanna), ketiga barulah melalui kekuatan (cappa’ badi’).
Sehingga, jika berpedoman pada tuntunan diatas, sejatinya gesekan yang akan timbul akibat pemaknaan yang bergeser terhadap nilai siri’ na pacce tersebut dapat diminimalisir dan juga dapat memberikan sebuah pemahaman yang utuh terhadap konsep atas keduanya dalam menjalani kehidupan ini.

Â

Semagat Kepemudaan
Sebagai seorang pemuda, penulis menyadari bahwa jika pergeseran terhadap makna siri’ na pacce ini terus berlanjut ke ranah yang negatif, maka sejatinya kita sebagai anak muda telah kehilangan semangat dan jati diri sebagai seorang pemuda yang semestinya mengandalkan intelektualitas dan akal sehat dalam menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Apalagi sebagai generasi penerus bangsa, sudah semestinyalah kita semua mampu untuk tetap menjaga sikap sebagai sebuah bentuk siri’ yang paling nyata dalam kehidupan ini. Apa gunanya kuat dan berani namun tak memiliki akal sehat dan sikap intelektualitas?
Jika kita sebagai pemuda ingin menjadikan semangat dari nilai ini sebagai sebuah cambuk dalam konteks kepemudaan, maka sebuah relasi yang sangat positif terhadap kemajuan bangsa akan senantiasa tercapai. Lihat saja misalnya bagaimana pemuda Jepang menjadikan semangat Bushido sebagai cambuk mereka dalam berkarya dan memajukan peradaban mereka.
Bukannya ingin membanding-bandingkan, namun semangat dari nilai siri’ na pacce ini merupakan sebuah perwujudan dari sebuah makna yang lebih dalam dari sekedar kehormatan dan harga diri itu sendiri, yakni sebagai sebuah aib yang dapat menghantarkan kita kepada segala sesuatu yang tidak positif. Sehingga pada akhirnya, nilai siri’ na pacce itu sendiri menjadi api semangat dalam jiwa kepemudaan yang senantiasa membara untuk melakukan karya nyata terhadap kemajuan bangsa yang sedang mengalami dekandensi moral dan degradasi sumber daya manusia.
Sebagai pengingat, ada baiknya kita merenungkan kembali makna dari pepatah Bugis kuno ini (yang mungkin sangat sering kita dengarkan namun terkadang disalahartikan) “Rebba sipatokkong, mali siparappe, sirui menre’ tessirui’ no, malilu-sipakainge, mainge’pi mupaja” ***

Â

Muh. Abdi Goncing adalah Mahasiswa Pascasarjana UGM


Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya