HTTP Status[404] Errno [0]

Syahrir Makkuradde, Wartawan Senior yang Telah Tiada

01 December 2012 02:10
Syahrir Makkuradde, Wartawan Senior yang Telah Tiada
Wartawan senior Sulsel, Andi Syahrir Makkuradde telah berpulang ke Rahmatullah, Sabtu (1/12/2012).
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Wartawan senior Sulsel, Andi Syahrir Makkuradde telah berpulang ke Rahmatullah, Sabtu (1/12/2012).

BugisPos — ‘’Innalillahi wainna ilaihi raajiun.Telah berpulang ke rakhmatullah Kakanda H.Andi Syahrir Makkuradde 5 menit yang lalu’’.Berita yang dikirim teman Mappiar tersebut sangat mengejutkan saya, yang sedang berkutat menyelesaikan naskah buku Pertamina di salah satu hotel di Menteng Jakarta, Jumat (30/11) malam.

Beberapa waktu yang lalu, mendengar Kak Syahrir dalam keadaan kritis dan dirawat di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin. Penyakit paru-paru basah konon inilah yang membuat kondisi Kak Syahrir menurun, hingga kalah melawannya.

Kak Syahrir merupakan salah seorang wartawan senior Sulawesi Selatan. Hingga akhir hayatnya dia menjabat anggota Dewan Kehormatan PWI Sulawesi Selatan bersama beberapa wartawan senior lainnya. Pada tahun 1980-an, almarhum sudah nyaman menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) di almamaternya, Universitas Hasanuddin.

Tetapi, almarhum agaknya ‘tidak enak hati’ dengan sering tidak muncul di kampus dan makan gaji tanpa kerja. Akhirnya dia memutuskan berhenti sebagai CPNS. Padahal, Kepala Bagian Personalia Unhas ketika itu, A,Rivai Muslang, S.H. memberikan kelonggaran kepada almarhum hadir di kampus cukup sekali seminggu, mengingat tugasnya yang padat sebagai Ketua Badko HMI Indonesia Timur kala itu.

Kak Syahrir tak pernah menyangka akan terjun terlalu dalam di dunia jurnalistik. Impian kecilnya tak pernah terbersit demikian. Lantaran terlahir di situasi labil kemerdekaan era 40–an, Syahrir kecil terpaksa hijrah meninggalkan Bone menuju Sengkang.

Khawatir melihat tebaran ketakutan, ia kemudian bermimpi jadi tentara saja. Demi membela negara, angannya. Namun nasib tak bercerita demikian. Syahrir dewasa memasuki dunia lain, rimba jurnalistik.

Tamat SMA, Syahrir meninggalkan Sengkang menuju Makassar. Niat besar menguatkan batinnya meninggalkan kampung halaman. Demi menjadi tentara. Setiba di Makassar, pria kelahiran Bone 10 Januari 1946 ini mulai menempuh pendidikan di Akademi Maritim selama tiga tahun. Ternyata, Syahrir tak juga menjadi prajurit seperti yang semula diimpikannya. Nasib mulai mengenalkannya dengan jalan lain. .

Setelah aktif di organisasi Himpunan Pelajar Mahasiswa Wajo (Hipermawa), Syahrir melebarkan langkah dengan bergabung di Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Lantaran aktif di sana, ia kemudian menerbitkan mingguan KAMI. Koran mahasiswa inilah yang mengantarnya menjadi peserta diklat jurnalistik nasional di Jakarta.

Bahkan, dalam suatu lomba penulisan tingkat nasional, pria pendiam ini, berhasil menyabet juara III. Sepulang dari diklat jurnalistik, Syahrir diangkat menjadi redaktur di mingguan KAMI. Sejumlah berita kritis digencarkan hingga akhirnya koran tersebut berubah menjadi koran umum.

Tahun 1973, Syahrir terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Ketika itu politik bangsa bersuhu tinggi pasca pemilu I Orde Baru. Syahrir pun terbawa arus politik. Berbagai gerakan dimasukinya untuk memperjuangkan nasib bangsa.

Momen 15 Januari 1974, peristiwa Malari (Malapetaka Januari) pecah. Sebulan kemudian mantan Ketua Badko HMI Indonesia Timur ini beserta sembilan rekannya ditangkap dan ditahan pemerintah. Ia dituduh terlibat. Delapan bulan kemudian, Syahrir dibebaskan.

Selepas dari penjara, rupanya Syahrir tak jera-jera. Ada saja tindakannya yang membuat penguasa merasa tak nyaman dan gerah. Posisinya sebagai mahasiswa sekaligus wartawan membuatnya selalu diincar.

Semakin lama, suhu politik bangsa kian memanas, pemerintah Orde Baru kemudian membatasi gerakan mahasiswa. Para mahasiswa tidak dibolehkan menerbitkan media di luar kampus. Di dalam kampus pun mahasiswa diawasi. Spion dan intel masuk kampus saat itu sudah biasa. Mereka layaknya mahasiswa saja. Maka, tak heran ada beberapa wajah yang sudah sangat akrab tetapi juga dibenci mahasiswa.

Sebab, wajah-wajah ‘asing’ itulah yang sering berulah hingga para mahasiswa tiba di balik jeruji besi instansi pengamanan. Akibat larangan itu, mahasiswa bergerak back to campus. Syahrir yang merasa terjepit akhirnya bergerilya di Dewan Mahasiswa Unhas.

Di organisasi intra kampus tersebut, bersama kawan-kawannya, mantan Pimpinan Redaksi Majalah Akselerasi ini menerbitkan buletin kampus yang bertitel Dunia Mahasiswa. Hanya saja koran tersebut tidak bertahan lama. Padahal, media internal Dewan Mahasiswa Unhas ini sangat diminati, lantaran menjadi sumber informasi perjuangan mahasiswa yang terkurung di kampus.

Di Dewan Mahasiswa, Syahrir sempat menjabat sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa. Ketika di DM ia diberi mandat bersama beberapa rekannya menerbitkan koran kampus. Kemudian terlahirlah identitas pada bulan Desember 1974 yang dibidani oleh Anwar Arifin.

Di identitas, Syahrir belajar arif dan menyesuaikan diri dengan lingkungan intelektual. Bersama Anwar Arifin, ia belajar dan berjuang menerbitkan koran kampus yang masih bertahan hingga saat ini.

Tahun 1979, Syahrir kembali merambah jurnalisme umum dengan bergabung di Majalah Tempo. Di situlah ayah dua anak ini memulai pertarungan barunya sebagai wartawan profesional.

Yang tidak dapat dilupakan dari sosok ini adalah jiwa pendidiknya, khususnya di bidang jurnalistik. Para jurnalis angkatan 70-an akhir hingga 1990, tak akan pernah lupa sentuhan wacana yang disampaikan Kak Syahrir dalam berbagai pendidikan jurnalistik.

Apalagi waktu itu, penyaji dan pemateri pendidikan dan latihan jurnalistik masih sangat terbatas jumlahnya. Dari kalangan dosen memang banyak, namun sering tidak link dan connect dengan keinginan untuk melahirkan jurnalis-jurnalis handal. Mereka lebih banyak memberikan materi dari kacamata teoretis. Padahal, Diklat seperti ini lebih diarahkan pada aspek aplikatifnya.

Kak Syahrir akhirnya menyusul istrinya, Andi Tappa yang berpulang ke rakhmatullah beberapa tahun silam. Meninggalkan kedua anak mereka. Selamat Jalan Kak Syahrir,semoga abadi di sisi-Nya. (Catatan M Dahlan Abubakar/Dosen Universitas Hasanuddin dan mantan wartawan Pedoman Rakyat. Sumber : Tribun Timur.com)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya