HTTP Status[404] Errno [0]

Warga tak Mampu Sesalkan Sikap Pihak RSUD Dr Wahidin

02 December 2012 12:27
Warga tak Mampu Sesalkan Sikap Pihak RSUD Dr Wahidin
Hamzah, orang tua pasien almarhumah Nur Ayuan Putri dari Kabupaten Jeneponto menyayangkan sikap pihak RSUD Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar pada dirinya.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Hamzah, orang tua pasien almarhumah Nur Ayuan Putri dari Kabupaten Jeneponto menyayangkan sikap pihak RSUD Dr Wahidin Sudirohusodo Makassar pada dirinya.

BugisPos — Keluarga almarhumah Nur Ayuan Putri, asal Kabupaten Jeneponto menyesalkan sikap para petugas medis di RSUD Dr Wahidin Sudiro Husodo (RSUD-WSH) yang tidak memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat tak mampu seperti mereka. Pasalnya, meskipun telah menyerahkan selembar surat keterangan tidak mampu, pihak RSUD WSH tetap menolak memberikan pelayanan melalui kartu Jaminan Kesehatan Gratis Daerah (Jamkesda).

Hamzah, orang tua pasien almarhumah Nur Ayuan Putri menceritakan kronologis awal hingga anaknya harus dibawa ke RSUD WSH. Almarhumah kata dia, dirujuk dari RS Lanto daeng Pasewang Jeneponto beberapa waktu lalu.

Karena mendapat surat rujukan ke RSUD WSH, maka anaknya langsung dibawa ke Makassar. Saat melapor, dokter yang menangani pertama kalinya adalah dr Fifi. Dari penjelasan dokter itu, korban katanya mengalami pendarahan di bagian otak, sehingga perlu dilakukan operasi yang nilainya disebutkan sekitar Rp11 juta.

“Saya tidak ada uang sebanyak itu, jadi dokter bilang cukup bayar biaya alat operasi saja empat juta dan sisanya ditanggung jamkesda,” kata Hamzah, menirukan instruksi dr Fifi kala itu.

Lanjut Hamzah, uang sebesar Rp 4 juta sangat susah dikumpulkan. Dia pun meminta bantuan pada keluarganya, hingga terkumpul uang sebanyak Rp 4 juta yang dikatakan dr Fifi.

Setelah ada kesepakatan orang tua korban dengan dr Fifi yang menangani pasien Nur Ayuan Putri, almarhumah langsung dimasukkan ke ruang ICU. Di ruangan ini, selama 9 hari almarhumah tak sadarkan diri, hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.

“Yang mengherankan, golongan darah anak saya o, tapi dr Fifi malah memberikan darah A, mungkin itumi bikin anakku tidak panjang kodong umurnya, Tapi biarmi, mungkin sudah ajalnya, tapi yang saya sayangkan kenapa mayat anakku disandera katanya haruska melunasi biaya sebelas juta rupiah, darimanaka ambil uang sebanyak itu ?” sedih Hamzah.

Setelah anaknya dinyatakan tak bernyawa lagi, Hamzah bermaksud membawa pulang anaknya ke kampong halamannya di Kabupaten Jeneponto. Namun untuk membawa mayat anaknya bukan perkara gampang, dia malah ditagih biaya perawatan medis di RSUD WSH sebesar Rp11 juta, yang menurut pihak RSUD merupakan biaya operasi yang harus dilunasi.

Hamzah tetap bersikukuh pada pendiriannya, dimana perjanjian awal dengan dr Fifi dia hanya mampu membiayai hingga Rp4 juta. Karena sikapnya tetap bersikeras itu, pihak RSUD menyarankan Hamzah mengurus surat keterangan tidak mampu sehingga dapat menggunakan kartu jamkesda.

Setelah selembar surat keterangan tak mampu diserahkan, malah bagian mobilisasi dana (bagian keuangan) RSUD WSH menolak dengan dalih pasien jamkesda sudah lama tak dilayani. Jadi, pasien tetap diharuskan membayar cash (tunai) seluruh biaya.

Kabag Humas RSUD DR.Wahidin Sudiro Husodo Tamalanrea Makassar dokter Ilham saat dikonfirmasi pelayanan pasien yang kurang mampu dan dugaan salah transfuse darah, dia menampiknya. Dokter ini hanya mengatakan, akan mencari informasi, apakah ada kesalahan administrasi atau memang karena kelalaian dokter yang menangani pasien.

“Kami akan mencari tahu dulu apa ada kesalahan administrasi atau kesalahan hasil pemeriksaan dari dokter, nanti kami beritahu hasilnya,” ujar dr Ilham singkat.(rusli/gafar)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya