HTTP Status[404] Errno [0]

The Beauty Pain

03 December 2012 03:57
The Beauty Pain
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh: Nurul Ilmi Idrus

MENJADI cantik, siapa yang tak ingin. Tak jarang orang melakukannya dengan berbagai cara, dari kepala hingga kaki, secara tradisional atau modern, dengan bertahap ataupun instan karena ingin memperoleh hasil sesegera mungkin. Meskipun tampilan anggota tubuh lain penting, orang Indonesia yang umumnya berkulit sawo matang, cenderung terfokus pada kecantikan kulit, terutama wajah. Tak heran jika seringkali ditemui seseorang dengan warna kulit wajah jauh berbeda dengan warna kulit dari anggota badannya yang lain.

Para kapitalis ‘membaca pasar’, produk-produk pemutih kulit menjadi salah satu produk paling laku di pasaran dengan berbagai nama dan bentuk. Namun keragaman nama seringkali tak berkelindan dengan keragaman konten, hanya beda kemasan. Banyak di antara produk-produk tersebut mengandung zat-zat berbahaya.

Produk-produk pemutih diiklankan secara massif dengan berbagai janji hasil yang instan, dan iklan produk pemutih yang dulunya banyak ditampilkan melalui TV, majalah, kini merambah ke media sosial seperti facebook. Pengiklanan yang semakin menarik dan lebih mudah diobservasi terutama yang terkait dengan konten dari produk-produk tersebut, tak diiringi dengan kesadaran untuk menyimak.

Menariknya, banyak produk pemutih yang dijual di berbagai tempat adalah produk daur ulang atau produk kemasan ulang dalam bentuk yang lebih kecil, atau bahkan tak memiliki informasi tentang produk itu sendiri, yang potensi bahayanya juga bisa berganda. Kenapa orang terobsesi menjadi putih?

White is Beauty?

Orang Indonesia umumnya menganggap menjadi putih identik dengan cantik, sehingga orang berupaya keras mewujudkannya. Bagi yang belum menikah, menjadi putih diupayakan untuk menarik perhatian prospektif pasangan. Bagi yang telah menikah, ini dilakukan agar tetap menarik di mata suami, agar tak tertarik dengan perempuan lain. Padahal banyak cara yang dapat dilakukan untuk nampak atraktif. Ironisnya, banyak yang ingin menjadi putih untuk kepentingan orang lain, bukan untuk dirinya sendiri, tak jarang dengan cara-cara yang berbahaya. What an irony!

Produk-produk pemutih yang dijual bervariasi, yang paling laku di pasaran adalah yang berupa krim pemutih, ada yang terdiri atas krim siang dan malam, ada yang two-in-one. Ada pula yang berupa ‘cairan pemutih’, biasanya terdiri atas cairan beraroma menusuk, krim dan sabun pemutih, tapi juga ada yang kemasannya sendiri-sendiri. Efek dan hasil pemakaian juga berbeda-beda antar individu, dan semua itu terkait dengan ‘cocok’ atau ‘tidak cocok’ dengan kulit masing-masing pemakainya.

Efek dan hasil bisa beragam. Bagi yang merasa ‘cocok’, misalnya, dapat memperoleh efek putih secara instan tanpa merasakan efek negatifnya saat pemakaian, tapi bisa muncul belakangan. Efek negatif dapat berupa pedis dan panas melebihi lombok yang diatasi dengan mengipasanginkan atau mengompresnya dengan es batu. Ada yang kulitnya terbakar dan menghitam, ada yang terkupas seperti ular yang ganti kulit, ada pula yang kulitnya memerah seperti udang rebus. Para pemakai shared fantacy, mengira diri mereka akan lebih cantik, nyatanya mereka menjadi lebih jelek.

Ironisnya, efek-efek seperti ini dianggap sebagai efikasi dari pemutih itu sendiri bahwa ‘the whitening works out’, sehingga pemakaian dilanjutkan karena mereka percaya sebentar lagi kulit akan memutih. Mereka rela mencoba-coba dari satu produk ke produk lain, bereksperimen melalui proses menyakitkan untuk memperoleh target yang diinginkan. As if, cantik itu butuh pengorbanan, sehingga no pain, no gain!

Namun ini tak sekadar ‘coba’ dan ‘cocok’ saja karena produk yang digunakan mengandung zat-zat berbahaya seperti mercuri, hydroquinone yang dapat menyebabkan kerusakan kulit yang fatal (bahkan kanker kulit) dan berdampak jangka panjang, termasuk bagi mereka yang ‘merasa cocok’ dengan produk tersebut.

Bagi yang ‘merasa cocok’, efek putih menjadi hitam bahkan lebih hitam dibandingkan sebelum memakainya jika sehari dua hari saja seseorang abai menggunakannya. Ini menunjukkan bahwa pemakaian pemutih harus berkesinambungan, menimbulkan ketergantungan dan berdampak signifikan secara finansial. Ada pengguna yang jika mengalami kemerahan di kulit, tak hilang efeknya meski ia telah berhenti memakainya. Ada pula yang tak henti berjerawat meski sebelumnya tak memiliki riwayat berjerawat. Whitening kills their skin!

Self Empowerment

Badan POM telah melakukan pengawasan, peringatan, dan bahkan penginspeksian mendadak para penjual produk kecantikan yang berbahaya, dengan menarik produk tersebut dari pasaran. Namun, produk-produk tersebut masih saja ditemui di pasaran, baik di toko-toko khusus kecantikan, salon, swalayan, bahkan pasar-pasar tradisional. Ketika inspeksi mendadak dilakukan, para penjual tak kalah lincah dalam menyembunyikan produk-produk yang telah masuk daftar produk kecantikan yang ‘berbahaya’. Kebijakan-kebijakan terkait telah banyak dihasilkan dan diimplementasikan, namun produk-produk berbahaya tersebut masih diperjualbelikan.

Namun terlepas dari itu, secara individual, diperlukan self empowerment agar konsumen tidak ‘diperalat’ oleh para kapitalis, apalagi jika disertai dengan cara-cara instan, dan/atau menyakitkan. Banyak pengguna yang tak tahu apa konten produk pemutih yang digunakannya dan/atau menggunakannya karena diberitahukan oleh teman/kerabat dll., yang mengindikasikan bahwa konsumen banyak tergantung pada orang lain, bukan pada pertimbangan dan keputusannya sendiri. Informasi dari ‘mulut ke mulut’ begitu kuat berpengaruh.

Â

Mereka yang ‘termakan’ oleh janji-janji instan seringkali tak menggunakan akal sehat dalam pengambilan keputusan karena pengiklanannya yang begitu massif dan menjanjikan. Cantik instan dapat memberi hasil instan, tapi bersifat sementara dan merusak. Hal paling instan yang dapat dilakukan untuk mengkonter realitas ini adalah memberdayakan diri-sendiri. Teliti sebelum membeli: baca kemasannya, hindari membeli produk yang mengandung zat-zat berbahaya atau tidak memiliki informasi produk, dan/atau nikmati eksotika kulit sawo matang. Don’t let yourself get pain for beauty! ***

Nurul Ilmi Idrus adalah Visiting Professor University of Amsterdam

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya