HTTP Status[404] Errno [0]

Ketika HIV/AIDS Mengintai Perempuan dan Anak

09 December 2012 05:32
Ketika HIV/AIDS Mengintai Perempuan dan Anak
Illustrasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Illustrasi

Oleh: Suriani Mappong

PEREMPUAN dan anak tidak terlepas dari stigma sebagai makhluk yang lemah, yang perlu mendapat perlindungan dari segala bentuk ancaman lahiriah dan rohaniah.

Tak terkecuali dari ancaman penyakit yang masih menjadi momok di kalangan masyarakat yakni HIV/AIDS.

Siapa pun ketika ditanya tentu tidak pernah mengiginkan terjangkiti. Demikian pula perempuan dan anak yang selalu diidentikkan dengan makhluk yang lemah.

Berdasarkan data Biro Napza dan HIV/AIDS Setda Pemprov Sulsel, akumulasi penderita HIV/AIDS di Sulsel hingga medio 2012 tercatat sebanyak 5.658 orang.

Dari jumlah tersebut, 70 persen di antaranya adalah laki-laki dan sisanya sebanyak 20 persen perempuan dan 10 persen transgender.

Meskipun jumlah penderita perempuan masih terbilang lebih rendah dibandingkan laki-laki, namun itu sudah sangat memprihatinkan.

“Perempuan secara kodrati akan melahirkan generasi penerus, terlepas perempuan itu mengidap suatu penyakit atau tidak. Karena itu, apabila terpapar virus HIV/AIDS, maka sangat rawan menulari anaknya,” kata pemerhati perempuan dari Lembaga Lapismedik Makassar Hadawiah Hatita.

Di sisi lain, perempuan yang berstatus ibu rumah tangga maupun pekerja seks komersial (PSK) kurang memiliki keberanian ataupun posisi tawar terhadap pasangannya saat berhubungan untuk menggunakan alat pengaman atau kontrasepsi seperti kondom.

Menurut dia, terdapat sejumlah perempuan yang merupakan ibu rumah tangga dapat tertular HIV/AIDS akibat berhubungan dengan suaminya yang suka “jajan” di luar.

Sehingga pada saat hamil, janin yang dikandungnya itu rentan pula tertular virus HIV/AIDS.

Mengantisipasi hal tersebut, sejumlah rumah sakit dan puskesmas di Makassar telah dilengkapi dengan alat pendeteksi virus HIV/AIDS, khususnya bagi ibu hamil melalui tes darah.

Itu merupakan salah satu fenomena dari persoalan perempuan dan anak yang membutuhkan perlindungan dari penyakit yang mengenaskan. Hal lain adalah perempuan yang mencari nafkah dengan menyandang status PSK.

Berdasarkan data yang dilansir Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kota Makassar diketahui, PSK yang beroperasi di kota berjulukan “Anging Mammiri” ini mencapai 3.083.

Sementara transgender pekerja seksual tercatat 895 orang dan gay 589 orang.

Berkaitan dengan persoalan PSK yang bervariasi usia mulai dari belasan tahun hingga paruh baya, Kepala Biro Napza dan HIV-AIDS Sulsel Sri Endang Sukarsih mengatakan, perlu menggencarkan program komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) tentang bahaya HIV/AIDS dan upaya mengantisipasinya.

“Perempuan perlu mencari informasi sebanyak-banyaknya untuk melindungi dirinya. Karena itu, semua pihak harus bergandengan tangan mengaktifkan KIE di lapangan, sehingga laju kasus HIV/AIDS dapat ditekan,” katanya.

Menurut dia, untuk menekan kasus HIV/AIDS tersebut, program KIE diyakini sebagai salah satu upaya efektif untuk mengantisipasi jatuhnya korban HIV/AIDS.

Apalagi sudah terjadi pergeseran kasus HIV/AIDS yang semula didominasi akibat penggunaan jarum suntik oleh pecandu Narkoba, kini didominasi akibat transeksual.

Tantangan global
Kasus HIV/AIDS tak dapat dipisahkan dengan masalah Narkoba dan transeksual yang juga melibatkan kaum perempuan, apalagi dari tahun ke tahun jumlah kasus terus bertambah seiring dengan perkembangan Kota Makassar sebagai kota metropolitan.

Hal itu turut memberikan andil, sehingga Sulsel menempati urutan ke delapan yang terbanyak kasus HIV/AIDSnya di Indonesia.

Menurut Kadis Kesehatan Sulsel Dr dr Rahmat Latief, kasus HIV/AIDS merupakan fenomena “gunung es” yang artinya jika ditemukan 100 kasus, maka bisa jadi 10 kali lipat bahkan lebih kasus yang masih belum ditemukan.

“Karena itu, masalah HIV/AIDS dan Narkoba sudah menjadi masalah transnasional, sehingga semua pihak harus bersama-sama dan bahu-membahu menekan kasus tersebut,” katanya.

Dia mengatakan, karena sudah menjadi masalah transnasional, maka otomatis menjadi tantangan global yang tidak bisa diselesaikan dengan singkat seperti membalikkan telapak tangan.

Berkaitan hal tersebut, kampanye tentang bahaya HIV/AIDS melalui program KIE, perlu terus dikumandangkan dengan membangun sinergitas elemen sosial.

Salah satu upaya tersebut, Biro Napza dan HIV/AIDS Sulsel menargetkan melatih 1.000 orang relawan yang akan menyuluh di 24 kabupaten/kota di Sulsel.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 60 persen telah dilatih dan diturunkan di daerah masing-masing. Ratusan relawan itu diprioritaskan perempuan karena dinilai mampu melakukan pendekatan sosial dan berempati dengan kondisi yang ada di sekitarnya.

Para relawan yang diharapkan menjadi penyuluh untuk menyosialisasikan tentang bahaya HIV/AIDS, juga dibekali wawasan tentang upaya pencegahan HIV/AIDS. Sehingga bekal ilmu yang diperoleh dapat ditularkan ke masyarakat.

Hal itu diakui salah seorang relawan penyuluh Farid Satria yang juga adalah mantan pecandu Narkoba.

Menurut dia, sebagian yang terlibat kasus Narkoba dan kemudian berbuntut pada penyakit HIV/AIDS, karena ketidaktahuan atau minim informasi.

“Mereka tidak tahu bahaya yang bakal ditimbulkan jika menggunakan jarum suntik berganti-ganti ataupun melakukan transeksual,” katanya.

Karena itu, lanjut dia, sangatlah penting peranan KIE digencarkan di kalangan masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan dan pesisir yang masih minim informasi, namun sudah dirambah dengan jaringan bandar Narkoba ataupun transaksi seksual secara terselubung.

Wajar, jika tantangan global untuk menekan kasus HIV/AIDS yang bergandengan dengan kasus Narkoba harus menjadi “Pekerjaan Rumah” bersama.

Bukan hanya menjadi tugas pemerintah selaku pengambil kebijakan, tetapi juga elemen masyarakat yang erat hubungannya dengan persoalan sosial, khususnya persoalan perempuan dan anak.

Kerja dan peran aktif itu, bukan hanya digambarkan melalui gencarnya kampanye pada momen peringatan Hari HIV/AIDS sedunia atau pada malam renungan HIV/AIDS yang telah menelan korban ribuan jiwa, tetapi melalui kerja nyata yang berkesinambungan untuk menyelamatkan perempuan dan anak sebagai pelanjut generasi ***

  • Dikutip dari Antara News
Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya