Losari, di Antara Sokongan dan Cercaan

10 December 2012 22:42
Losari, di Antara Sokongan dan Cercaan
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Pantai Losari, pantai  yang terletak di sepanjang Jl.Penghibur, Makassar, telah menjadi icon kota Makassar sejak dulu. Dan bahkan sampai sekarang tetap menjadi icon kota yang sungguh populer. Kalau orang menyebut pantai Losari, maka kita selalu akan mengingat sebuah kota yang bernama Makassar. Kota yang kini berpendudukan 1,3 juta orang, dan menjadi ibukota Sulawesi Selatan sejak dulu.

Dulu, pantai Losari yang panjangnya sekitar 1 km ini, sungguh ramai dengan penjual kaki lima sepanjang tanggul tepi pantai. Mulai dari penjual pisang epe’ sampai nasi goreng, mulai dari penjual pecal sampai nasi kuning. Sepanjang malam, waktu itu, pantai Losari menggeliat hingga subuh hari. Orang-orang kemudian menggelarnya sebagai restoran terpanjang di dunia. Memang, tak ada restoran di belahan dunia mana pun yang panjangnya sampai satu kilometer. Tetapi di Losari, dari ujung ke ujung dipenuhi dengan hidangan berbagai jenis makanan sepanjang malam. Dan hebatnya, sebab ketika pagi telah tiba, semua tempat jualan kali lima itu telah bersih.

Ketika Walikota Makassar dijabat HB Amiruddin Maula, mulailah Losari dijamah. Sekitar 2000 penjual kaki lima di situ, direlokasi ke sebuah areal depan rumah jabatan  walikota, masih di Jl.Penghibur. Dan Losari pun direklamasi. Tetapi, walikota Amiruddin Maula ternyata tak begitu mulus melakukan reklamasi. Baru pada tahap perencanaan, orang sudah pada ribut. Bahkan kalangan DPRD banyak yang teriak nyaring. Mereka tak sependapat dengan walikota bila pantai Losari direklamasi. Siapa tahu nanti Losari dijual lalu dipenuhi bangunan perorangan. Ada bisik-bisik yang berkembang saat itu, bahwa cercaan itu sebetulnya bersumber dari kekecewaan seseorang yang ingin membangun kawasan wisata di tanah tumbuh sebelah Losari. Karena tak jelas apa kontribusinya ke Pemkot, walikota Maula pun menolak.

Ketika Ilham Arief Sirajuddin menjadi walikota menggantikan Maula, reklamasi Losari kembali kencang. Alasan yang paling masuk akal, ialah bahwa Losari sedang membahayakan kalau tidak secepatnya direklamasi. Masalahnya, pantai Losari sudah sejak lama mengalami abrasi. Bagian bawah Losari sudah berlubang sepanjang sisi pantai. Bila hal ini dibiarkan, maka kelak dapat dipastikan sepanjang Jl.Penghibur akan runtuh ke dasar laut. Nauzubillah.

Gerakan walikota Ilham mereklamasi Losari ternyata mendapa sokongan dari berbagai pihak. Dan karenanya, proyek spektakuler ini berjalan mulus, meskipun butuh waktu panjang dan uang besar.

Meski demikian, masih ada juga pihak yang mencerca pelaksanaan proyek ini. Ada yang bilang, reklamasi ini salah, karena tidak dibuat lurus selurus garis pantai. Katanya, dengan model reklamasi yang dibentuk menjorok masuk ke laut, itu adalah kesalahan besar. Si pengeritik agaknya tidak paham, bila model reklamasi yang dibuat itu, memiliki nilai seni yang tinggi, juga secara alami akan memecah ombak yang setiap menit menghantam tanggul pantai.

Di kalangan dewan, ada juga yang mengkritisi walikota Ilham. Katanya, proyek ini tidak menyentuh ekonomi masyarakat. Buat apa proyek yang menelan banyak uang ini susah-susah dibikin, kicau mereka.

Kritikan ini sebenarnya cukup bikin bingung juga. Sebab ketika dulu proyek ini dimulai, justeru kalangan dewan mengancam jangan ada kegiatan ekonomi di kawasan ini. Jangan ada usaha apapun modelnya, termasuk tidak boleh ada restoran, dan seterusnya. Padahal, kalau mau proyek Losari menyentuh ekonomi masyarakat, ya mestilah dibuka akses ekonomi disitu. Tak sekadar tempat olah raga, pertunjukan seni, atau sekadar tempat menikmati sunset di sore hari. Susah memang kita selama ini, apa-apa juga dicerca. Tapi kemudian dosokong setelah melihat hasilnya. Lihat saja Karebosi, dicerca habis, tapi kemudian mereka juga yang datang menikmati Karebosi, minimal ikut shalah idul fitri di lapangan bersejarah ini.

Dia yang mencerca dia juga yang menyokong, sepertinya sudah menjadi tabiat kita di daerah ini. Apa-apa saja yang sedang dibikin, apalagi itu proyek besar, selalu saja ada kontroversi. Yang sebetulnya bukan kontriversi yang murni pendapat orisinil, tetapi lebih merupakan warna kepentingan. Sikap dengki masih saja mewarnai karakter kita, termasuk di Makassar, yang selalu tak ingin ada kemajuan di luar dirinya.

Kalau tidak dilibatkan dalam suatu ‘pekerjaan’ ; maka tunggulah dia akan menyanyi senyaring mungkin. Nyanyian yang mencerca. Tapi bila punya keuntungan disitu, jari kakinya ditindis kaki meja sekali pun dia akan diam.

Bahwa pantai Losari yang sebentar lagi selesai direklamasi, telah mencatat begitu banyak cercaan. Disamping tentunya dengan catatan suara sokongan. Itulah Losari, yang direklamasi dalam waktu panjang dan melahirkan pro kontra. Namun diyakini bahwa apa yang diperbuat walikota Ilham Arief Sirajuddin ini, akan menjadi sungguh penting dalam catatan sejarah di masa yang akan datang ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya