HTTP Status[404] Errno [0]

Penampakan Buaya Saat Ritual Pohon Cabe di Takalar

14 December 2012 01:20
Penampakan Buaya Saat Ritual Pohon Cabe di Takalar
Penampakan Buaya Saat Ritual Pohon Cabe Raksasa di Takalar Kiri, pohon cabe raksasa. Kanan, suasana ritual pohon cabe raksasa di Takalar (dok : bp)
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Penampakan Buaya Saat Ritual Pohon Cabe Raksasa di Takalar Kiri, pohon cabe raksasa. Kanan, suasana ritual pohon cabe raksasa di Takalar (dok : bp)

Penampakan Buaya Saat Ritual Pohon Cabe Raksasa di Takalar Kiri, pohon cabe raksasa. Kanan, suasana ritual pohon cabe raksasa di Takalar (dok : bp)

BugisPos — Penampakan buaya merah ini, muncul ketika ritual adat Toa Benteng (Leluhur Tiang) digelar. Ritual adat ini digelar Senin, 10/12/12 di Tamasongo Kelurahan Pappa Kecamatan Pattallassang Kabupaten Takalar.

Ritual adat ini berupa dua batang cabe atau lombok raksasa yang berukuran panjang sekitar 4 meter dengan diameter 50 cm, sedangkan yang satunya memiliki panjang 5 m dengan diameter 20 cm. Kedua batang pohon cabe inilah yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Toa Benteng atau Leluhur Tiang.

Menurut Muhammad Nur Dg. Nassa, selaku kepala Lingkungan Tamasongo, awal-muasal ritual Toa Benteng ini bermula ketika batang cabe raksasa ini ditemukan. Batang cabe raksasa itu ditemukan oleh warga sekitar ratusan tahun yang lalu. Menurutnya, pada waktu itu Kerajaan Pappa diterpa badai yang sangat hebat, hujan badai datang silih berganti membuat sungai Pappa yang melintasi wilayah itu meluap. Arus sungai yang begitu deras membawa semua material dari hulu sungai, namun ajaibnya ada sebatang pohon yang tidak terbawa arus, malah lebih anehnya lagi, batang pohon tersebut melawan arus sungai yang begitu deras. Ketika kemunculan batang pohon tersebut, terdengar suara tabuhan gendang dan pui-pui (semacam alat musik tiup)seperti sedang mengiringi suatu pertunjukan tarian Pakkarena. Warga setempat pada waktu itu menjadi takjub dan terheran-heran, kemudian dengan dikomandoi oleh seorang Punggawa kerajaan yang bergelar Punggawa Tamasongo, warga kemudian bergotong royong mengangkat batang pohon tersebut. Belum hilang rasa takjub mereka, warga kemudian dibuat lebih heran lagi ketika mereka mengangkat batang pohon aneh ini. Ternyata batang pohon yang mereka angkat adalah batang pohon cabe. Ini diluar nalar mereka, karena panjang batang pohon cabe, umumnya tak lebih dari 30 cm. Sedangkan batang cabe yang satu ini panjangnya hampir 10 M. Kemudian batang pohon cabe ini disimpan oleh Punggawa Tamasongo, dan masih tersimpan utuh hingga saat ini. Inilah sehingga setiap tahunnya masyarakat Pappa melakukan ritual Toa Benteng.

Batang pohon cabe yang sudah patah menjadi dua akibat termakan usia ini, ditempatkan dalam suatu bangunan permanen berukuran 9×12 Meter. Batang cabe yang msudah berwarna coklat tua ini, pada tengah bagian batang (kambium) sudah berlubang demikian pula pada bagian batang lainnya yang sudah mulai keropos. Menurut Dg. Nassa, Batang pohon tersebut sudah pernah diteliti oleh pakar pertanian yang setiap unsur dari batang pohon terebut memang identik dengan batang pohon cabe pada umumnya. Pohon Cabe raksasa ini dikeramatkan oleh warga setempat, ini ditandai dengan kelambu yang berukuran besar yang selalu menutupinya. Bangunan permanen ini, dibangun hasil swadaya masyarakat berdasarkan sumbangan dari para peziarah yang datang, ini bertujuan untuk memudahkan bagi pelawat yang datang berziarah.

Ritual adat Toa Benteng yang diadakan tahun ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun ini dilakukan dengan sangat meriah dengan dimeriahkan acara seni pencak silat, tari-tarian serta tabuhan gandrang(gendang) Pakkarena. Masyarakat setempat juga memotog 3 ekor kambing untuk acara makan bersama. Awalnya ritual adat ini berlangsung biasa saja, namun masyarakat menjadi gempar, ketika Shinta (19) merekam ritual ini dengan kamera ponsel. Pada kamera ponsel, terlihat penampakan kepala buaya yang berwarna merah mengikuti setiap gerak kamera tersebut. Ternyata penampakan ini, juga disaksikan langsung oleh keiga peserta ritual lainnya. Para anggota pencak silat juga, ada yang kerasukan. Penampakan buaya merah ini, begitu jelas dan begitu lama, seolah-olah mengawasi setiap ritual adat yang mereka lakukan.

Menurut tim gaib rubrik Mitos, penampakan buaya merah ini, adalah penampakan jin yang menjadi Pa’lapa Barambang dari Punggawa Tamasongo. Mengapa dia berwujud Buaya, dikarenakan dia memang penghuni kerajaan sungai yang berada di sungai Pappa yang kebetulan tidak jauh dari tempat itu. Secara hukum alam, memang manusia tidak dapat melihat wujud asli dari jin tersebut, akan tetapi wujud dari penampakannya dapat dilihat oleh manusia. Ini disebabkan manusia yang bersifat materi dan mahluk jin yang memiliki sifat non materi. ini membuat mahluk jin apabila ingin menampakkan dirinya kehadapan manusia, akan menciptakan dalam wujud material yang memungkinkan mata manusia untuk menjangkaunya. Penampakan wujud buaya ini, tujuannya untuk memberitahukan kepada manusia untuk mengetahui eksistensi mereka. Kita manusia tak perlu takut, atau terlampau mendewakannya, karena mereka juga sama seperti manusia yang memiliki kehidupan sosial dan hidup untuk berbakti kepada Tuhan (awing)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya