HTTP Status[404] Errno [0]

Jagokan Tokoh Karaktermu

15 December 2012 00:58
Jagokan Tokoh Karaktermu
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Aspiannor Masrie

UntitledSeorang pemimpin dalam bertindak harus sesuai dengan apa yang dipikirkan dan diucapkannya. Sehingga, menjadi tantangan bagi tim sukses untuk membuktikan bahwa tokoh yang mereka jagokan telah memiliki track record yang selalu menjaga keharmonisan antara pikiran, perkataan, dan perbuatannya.

Membicarakan masalah kepemimpinan suatu yang sangat klasik, namun masih tetap seksi untuk diungkapakan terutama menjelang Pilgub 2013. Realitas ini diperkuat dengan semakin sulitnya menemukan pemimpin yang memiliki karakter di lingkup tatanan masyarakat kita yang masih feodal. Sedangkan, masyarakat kita masih memerlukan sosok pemimpin berkarakter untuk mengayomi masyarakat yang dipimpinnya dengan menciptakan situasi dan kondisi yang lebih baik guna menghindarkan degradasi politik.
Pemimpin yang didambakan secara umum memiliki sifat mau berkorban, peduli, dan bersifat melayani. Seorang pemimpin berkarakter tidak akan mudah terpengaruh, tegas, integritas, dan bisa menjaga moralnya sebagai figur masyarakat dengan tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat pemenuhan kebutuhan pribadi belaka. Akan tetapi dijadikan sarana mengoptimalkan kapasitas diri dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Dalam pertarungan pilgub, stakeholder tim sukses dalam adu strategi guna menjagokan tokoh karakternya terlihat semakin seru. Aroma persaingan begitu terasa, hal ini terlihat dari wajah para kandidat Sayang (Syahrul Yasin Limpo-Agus Arifin Nu’mang) dengan IA (Ilham Arief Sirajuddin-Abd Aziz Qahhar Mudzakkar), dan Garuda-Na (Andi Rudiyanto Asapa-Andi Nawir Pasinringi) sudah menghiasi diberbagai tempat yang strategis mulai sudut kota hingga pelosok daerah.
Iklan para kandidat mulai bermunculan dan lobi-lobi politik pun mulai kencang dilakukan untuk menggalang dukungan akar rumput partai. Para kandidat pun tidak kalah hebohnya dalam melakukan manuver politik guna menunjukkan pencitraannya sebagai pemimpin yang berkarakter bagi konstituennya. Realitas ini bisa dilihat dari simbol-simbol politik yang digunakan dan safari politik para kandidat yang mendatangi simpul-simpul massa dengan intensitas yang semakin gencar untuk mengsosialisasikan dan mengkomunikasikan program politiknya.
Ironisnya, dalam menjagokan tokoh karakternya para tim sukses yang fanatik cendrung menghalalkan segala cara tanpa mengedepankan etika politik dalam melakukan manuver politiknya.

Karakter Pemimpin
Secara teoritis sudah banyak definisi mengenai karakter kepemimpinan, baik dari sudut pandangan dari para pakar maupun budaya politik lokal. Pada umumnya pemimpin yang berkarakter memiliki sifat-sifat, seperti: integritas, optimis, terbuka, berani, tenasius, katalitik, memiliki komitmen, dan bertanggungjawab. Ironisnya, dalam realitasnya kita masih sulit menemukan sosok seperti itu. Dengan kata lain, kita mengalami krisis kepemimpinan yang bisa diteladani oleh semua lapisan masyarakat.
Indikasinya, banyak kita temui gubernur yang memegang kekuasaan, namun peran kepemimpinannya hampir tidak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Kekuasaan yang dimilikinya bukan lagi dijadikan sebagai media pelayanan untuk kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi lebih dilihat sebagai panggung tempat untuk mempertontonkan kebolehan dan kehebatannya sebagai orang nomor satu di wilayahnya. Sehingga, terjadi gap yang lebar antara pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya setelah mereka memegang jabatan gubernur.
Dalam tatanan budaya politik Bugis, pemimpin berkarakter dituntut memiliki sifat acca, dimana seorang pemimpin harus memiliki skill dibidang pemerintahan. Warani, sikap pemimpin yang berani mengambil keputusan untuk kesejahteraan masyarakatnya. Getteng, sikap yang tegas dalam menegakkan aturan untuk kebaikan bersama. Lempu, sikap pemimpin yang bijaksana dalam mengambil keputusan.
Keempat karakter kepemimpinan tersebut sangat dibutuhkan untuk membawa Sulsel ke arah yang lebih baik karena kompetesi kepemimpinan tersebut akan dapat menjamin yang bersangkutan (pemimpin) bebas dari KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang sudah mengakar dalam masyarakat kita. Fakta ini diperkuat data dari Kementerian Dalam Negeri Januari 2011, yang mencatat terdapat 155 kepala daerah tersangkut masalah hukum, 17 di antaranya menjabat sebagai gubernur dan sebagian besar masalah hukum tersebut berterkaitan dengan kasus korupsi.
Dalam bahasa politis yang sederhana, pemimpin yang berkarakter memiliki keharmonisan antara pikiran (thought), kata-kata (words) dan perbuatan (be done). Seorang pemimpin yang berkarakter bukan hanya mengandalkan kekuatan pikiran dan kata-katanya semata, akan tetapi memiliki kemampuan untuk melakukan tindakan nyata tentang segala sesuatu yang telah dipikirkan dan diucapkannya selama kampanye.
Dengan demikian, seorang pemimpin dalam bertindak harus sesuai dengan apa yang dipikirkan dan diucapkannya. Sehingga, menjadi tantangan bagi tim sukses untuk membuktikan bahwa tokoh yang mereka jagokan telah memiliki track record yang selalu menjaga keharmonisan antara pikiran, perkataan, dan perbuatannya.

Kepanikan Politik
Dalam berbagai kesempatan, kita sering mendengar ucapan dan membaca pernyataan dari tim sukses bahwa masyarakat kita sudah cerdas berpolitik. Ironisnya, kita juga bisa melihat prilaku tim sukses dalam adu strategi yang sering gagap mengelolanya karena tidak dibangun argumen yang logis. Fakta ini memperkuat dugaan bahwa tim sukses dalam adu strategi tidak memperlihatkan kecerdasan dalam berpolitik.
Contoh kasus, tanggapan tim Garuna-Na yang gagap mengelola isu Rudiyanto sebagai puppet Prabowo, tim Sayang yang gagap menghadapi ‘black campaign’ keterkaitan Syahrul dengan narkoba, atau tim IA yang gagap megelola isu Karebosi. Bahkan, ada tim sukses yang melakukan Black Campaign dengan harakiri (kampanye mejelek–jelekkan kandidaatnya sendiri dengan mengatasnamakan pesaingnya) guna mendapatkan simpati masyarakat.
Namun kasus yang sangat memprihatikan, pertengkaranan antara Maqbul Halim (juru bicara Sayang) dengan Akbar Endra (tim suksesnya IA) dalam kasus kesehatan tokohnya ke ranah pribadi bukan ke subtansi permasalahan. Kepanikan politik yang diperlihatkan tim sukses disebabakan ketidakprofesional dalam mengelola berbagai fenomena yang timbul dalam masyarakat. Sehingga, tim sukses tidak fokus dalam menjual karakter tokohnya ke konstituen.
Kalau boleh dikatakan, ‘profesionalitas’ merupakan kata kunci bagi tim sukses dalam mengatasi permasalahan yang terus berkembang dalam masyarakat dalam menjual kandidatnya karena program yang ditawarkan merupakan representasi karakter kandidat. Apabila tidak dibarengi dengan marketing politik yang baik, maka bersiaplah untuk tersisih dari persaingan yang semakin kompetitip menjelang hari H-nya.
Realitas ini menjadi tantangan bagi tim sukse dalam mengembangkan berbagai strategi kampanye guna mengatasai persoalan-persoalan yang dihadapi berkaitan dengan karakter tokoh yang mereka jagokan guna meningkatkan elektabiltasnya. Realitas ini disebabkan masyarakat semakin cermat memilih calon pemimpinnya dengan tidak mudah percaya begitu saja akan janji-janji para kandidat yang menyebut dirinya sebagai pemimpin (tokoh) yang paling berkarakter.***

Aspiannor Masrie adalah Dosen Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Fisip Unhas

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya