HTTP Status[404] Errno [0]

Sarung Sutra dari Tanah Bugis

15 December 2012 01:00
Sarung Sutra dari Tanah Bugis
Illustrasi
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

UntitledBugisPos — “Bagai emas di dalam lumpur” Begitulah ungkapan untuk kerajinan Indonesia, sesuatu yang terpendam dan tengah menanti untuk dikeluarkan dan diasah kecemerlangannya. Karena itu adalah sebuah mahakarya.

Entah kenapa sekarang saya begitu menggemari kain-kain Indonesia, karena ternyata tidak hanya indah tetapi di tiap kain memiiki falsafah yang bermakna jika digali lebih dalam.
Begitu pun dengan Sarung Sutera Bugis, sebutan untuk kain khas Makassar. Sarung ini saya temukan ketika backpacking Sulawesi Selatan dan tengah membeli oleh-oleh di salah satu toko pusat oleh-oleh kawasan Somba Opu, tidak jauh dari benteng Fort Rotterdam , Makassar.
Masyarakat dari suku Bugis memakainya sebagai bawahan dalam keseharian ataupun dipadankan dengan baju bodo untuk perempuan dan jas tutu untuk laki-laki dalam upacara adat.
Sekilas sarung ini nampak seperti sarung biasa untuk sholat. Namun di tiap motif menyimpan kegunaan dan makna simbolis.
Sarung sutera bugis bermotif kotak-kotak, namun jika diperhatikan lebih teliti, tidak semua sarung memiliki kotak yang sama. Beda ukuran kotak mengandung arti yang berbeda .
Jika kita melihat di sarung tersebut terdapat kotak-kotak kecil yang dihasilkan dari paduan garis-garis vertikal dan horizontal dan berwarna cerah. Dulunya ini dipakai wanita Bugis yang belum menikah. Motif ini dinamakan motif Balo Renni. Jadi mudah menyirikan wanita bugis yang sudah menikah dan belum menikah dari sarung yang dikenakannya.
Kebalikan dari motif Balo Renni adalah motif Balo Lobang. Kain sarung ini memiliki garis yang cenderung tebal sehingga menghasilkan kotak yang besar pula. Warnanya leih terang, seperti merah terang ataupun merah keemasan. Motif ini digunakan untuk pria Bugis yang belum menikah.
Ada motif yang tabu untuk dibicarakan, ups. Sarung ini harus diletakkan di tempat yang aman, bahkan dijemurnya pun harus hati-hati. Untuk dipakai keluar rumah, ohohohohoho pasti akan menanggung malu akibatnya. Sarung ini berukuran lebih besar dari sarung pada umumnya dua orang bisa masuk ke dalamnya, dan dinamakan Moppang dan fungisnya adalah untuk hubungan suami istri. Saking hati-hatinya menyimpan sampai anak pun tidak boleh tahu, motif ini hampir punah dan jarang ditemukan di pasaran.
Motif-motif lain adalah Bombang yang bukan kotak namun segitiga sama sisi yang diibaratkan ombak atau Bombang masyarakat Bugis menyebutnya. Jika segitiganya lebih runcing dinamakan motif Cobo’ (runcing).
Seiring dengan berjalannya waktu penggunaan motif-motif tersebut diabaikan, siapa saja bisa memakainya, jadi jika kita melihat ada yang menggunakan Balo Renni, belum tentu wanita tersebut belum menikah.
dan beruntung sekali saya bisa mengetahuinya dan menggali lebih dalam pesona Sarung Sutera Bugis ini yang merupakan akar budaya bangsa. Dan melestarikannya adalah tugas kita sebagai generasi muda.
Sayang sekali saya tidak melihat bagaimana cara pembuatan Sarung Sutera bugis ini. Proses pembuatannya adalah ditenun, contoh alat tenunnya bisa kita lihat di Balla Lompoa, tempat tinggal raja-raja Makassar jaman dulu dan sekarang dijadikan museum (henny andriyani)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya