HTTP Status[404] Errno [0]

Indonesia dalam Cengkaraman Penjajahan Baru

16 December 2012 22:23
Indonesia dalam Cengkaraman Penjajahan Baru
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Irfan Safari

UntitledKETIKA kita mendengar kata penjajahan tentu mengingatkan kita pada masa kelam bangsa Indonesia yang dijajah oleh kaum kolonialisme.
Ribuan tahun bangsa ini dijajah, ditindas, dihina dan dilecehkan oleh kolonial Belanda dan para sekutunya baik secara fisik maupun nonfisik, tetapi yang lebih dominan adalah penjajahan secara fisik. Bangsa Indonesia dieksploitasi dan dikuras sumber daya manusia dan sumber daya alamnya.
Tapi bangsa ini kemudian bangkit untuk keluar dari keterpurukan. Momen itu dijadikan sebagai peringatan Hari pahlawan yang selalu di peringati setiap 10 November. Oleh Bangsa Indonesia, momen ini dijadikan wahana untuk merefleksikan dedikasi, perjuangan, dan pengorbanan para pahlawan yang telah memperjuangkan bangsa ini dari penjajahan kaum kolonial.
Tetapi itu semua hanyalah sebagai bentuk ceremonial belaka yang tidak memiliki pengaruh yang signifikan dalam setiap diri individu dan masyarakat.
Kini bangsa ini memasuki era baru yakni era reformasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, meskipun bangsa ini telah bebas dari segala penjajahan itu tetapi masih ada benih-benih penjajahan itu dan bahkan akan mengancam eksistensi bangsa ini.
Penjajahan hari ini bukan lagi dengan cara fisik ataupun melalui peperangan dan lain sebagainya tetapi penjajahan hari ini bersifat nonfisik seperti hegemoni ekonomi, politik, pendidikan dan agama yang dilakukan oleh dunia barat terhadap bangsa indonesia.
Terbebas dari itu pada kenyataanya bangsa ini tetap dalam kondisi terjajah baik dalam aspek ekonomi, pendidikan, politik, kebudayaan, dan agama.

Penjajahan Kehidupan
Kini bangsa Indonesia perlahan-lahan dijajah secara nonfisik yang tidak diketahui secara kasat mata, bangsa Indonesia dihipnotis, dikontrol dan bahkan diintervensi oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki kepentingan. Banyak masyarakat Indonesia tidak sadar bahwa dirinya dalam kondisi terjajah secara terstruktur dan telah terjebak dalam arus dunia.
Pada aspek ekonomi bangsa ini terhegemoni oleh pihak pemodal asing yang berkompetisi untuk menanamkan investasi di Indonesia sehingga perekonomian Indonesia dikontrol oleh kaum pemodal, ekspor impor barang yang marak terjadi sehingga mengeliminasi barang-barang produk Indonesia yang sangat miris ketika terjadinya impor barang misalnya kedelai, garam dll. Privatiasi barang usaha milik Negara (BUMN) yang marak terjadi untuk kepentingan individu, konflik agraria yang terus terjadi disebabkan pada keberpihakan negara terhadap para pemodal-pemodal asing, terjadinya liberalisasi pasar yang kemudian mengintervensi pasar-pasar tradisional sehingga berdampak pada produktivitas penghasilan masyarakat bawah. Pengeksploitasian sumber daya alam yang terus menerus terjadi
Pada aspek dunia pendidikan terjadinya liberalisasi pendidikan yang mengadopsi gaya ala ortodoksialisme yang mengedepankan pada aspek desentralisasi, sehingga menghilangkan nilai-nilai budaya lokalitas. kapitalisme pendidikan barat yang telah merambah merasuk relung budaya masyarakat lokal tanpa moral dan etika. Sebuah asumsi yang mendasar bahwa barat hari ini menjadikan manusia itu dalam konteks pendidikan adalah pasar. Pendidikan hari ini sudah dijadikan sebagai lahan bisnis oleh kaum pemodal telah terbukti dengan adanya wacana UU Badan Hukum Pendidikan (BHP), Peraturan Presiden 66 dan keduanya itu tidak bisa diberlakukan di bangsa ini karena bersifat bisnis dan yang paling santer adalah RUU Perguruan Tinggi yang masih dalam proses pembahasan di anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI yang ingin menjadikan pendidikan sebagai pasar bebas dalam dunia bisnis, otonomi perguruan tinggi yang menginginkan seluruh aspek kebijakan maupun regulasi seluruh ditentukan oleh Perguruan Tinggi tanpa intervensi dari pemerintah.
Pada aspek politik bangsa ini mengalami krisis politik nilai dimana para elit politik cenderung melakukan tindakan kolusi, korupsi dan nepotisme (KKN) begitupun berbagai macam konflik politik yang marak terjadi di bangsa ini, mulai para elit politik sampai para elit bawah, para jargon-jargon politik yang melakukan tindakan kontrak politik dengan pihak pemodal tertentu, politik bangsa yang acapkali di intervensi oleh pihak asing untuk kepentingannya sehingga menghilangkan nilai-nilai indendensi politik bangsa.
Pada aspek kebudayaan yang terkooptasi oleh budaya asing yang mereduksi khasanah budaya lokal, terjebaknya manusia dalam lingkaran modernitas kini semakin terlienasi dengan berbagai hal mulai dari budaya populer yang menjangkit dikalangan masyarakat mulai dari kalangan anak-anak, remaja, dewasa dan tua kini mulai mempengaruhi karakter dan perilaku masyarakat, gaya hidup yang sangat hedon yang merasuki setiap individu sehingga mulai tak terbendung lagi, budaya konsumerisme yang tinggi dikalangan masyarakat sehingga melahirkan manusia-manusia yang sangat individualis, hilangnya nilai-nilai kegotong royongan dikalangan masyarakat yang lebih mengedepankan sifat egoisme dan sifat sektarianisme.
Pada aspek agama menjadi hal yang sangat sensitif dalam kehidupan masyarakat, konflik horisontal antar agama yang acapkali sering terjadi baik permasalahan etnis, ras dan suku yang telah mendarah daging dikalangan masyarakat, pelecehan terhadap agama kini semakin mencuat di kalangan publik, marak terjadinya terorisme yang mengatasnamakan agama.

Antisipasi Solusi
Pada aspek ekonomi merupakan hal yang paling fundamental dalam memenuhi kehidupan manusia tentu harus mampu menjaga stabilitas perekonomian Indonesia melalui kebijakan pemerintah yang pro terhadap rakyatnya. Pendidikan merupakan sebagai alas untuk merubah generasi menjadi generasi yang unggul sehingga melahirkan manusia-manusia yang berkualitas. Dunia politik sebagai pengawal demokrasi tentu harus mampu menciptakan politik yang etis dan bermoral sehingga pada setiap individu memiliki kesadaran yang humanis dalam proses mengawal demokrasi Indonesia.
Agama sebagai penganut setiap ummat tentu harus memiliki sifat toleransi terhadap agama-agama lain, dan menjalankan apa yang menjadi kepercayaan dan keyakinan masing-masing. Dunia barat yang telah menghegemoni bangsa ini baik melalui arus globalisasi dan arus modernitas tentu harus mampu diantisipasi sejak dini terkhusus kepada para generasi bangsa yang dianggap sebagai pelopor dan pelanjut bangsa. Indonesia adalah merupakan bangsa yang sangat pluralistik yang kaya akan budaya, ras, suku dan agama, ditengah bangsa seperti ini tentu hal yang paling subtansial adalah ketika masyarakat saling hidup rukun, damai, aman sejahtera dan memiliki kepekaan terhadap kehidupan sosialnya,
Jika kita ingin melihat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang maju maka solusinya segala nilai-nilai solidaritas, perjuangan, pengorbanan, pengabdian dan sifat toleransi harus di miliki dalam setiap individu sehingga bangsa ini akan lebih fokus dalam memajukan, mensehjahterakan bangsa dan rakyatnya. ***

Irfan Safari adalah Sekretaris Umum HMI MPO Cabang Makassar

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya