HTTP Status[404] Errno [0]

Tahun 1918, Makassar Sudah Masuk 20 Besar Kota Dunia

18 December 2012 01:36
Tahun 1918, Makassar Sudah Masuk 20 Besar Kota Dunia
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com

Oleh : Usdar Nawawi

Â

UntitledADA segelintir pihak yang mencemoh Walikota Ilham Arief Sirajuddin. Katanya, semakin Ilham menggembar-gemborkan tentang kota dunia, maka setiap itu pula Ilham sedang menertawai dirinya sendiri. Kalimat ini ditulis di sebuah majalah nasional, yang tentu saja dapat dinilai bahwa segelintir orang ini sedang mencoba mengusik apa yang sedang dilakukan oleh rakyat Makassar di daerahnya sendiri.

Bahwa orang-orang yang mencemoh tentang ambisi Makassar menuju Kota Dunia, sesungguhnya hanya karena mereka tak mengetahui sejarah Makassar yang sebenarnya. Mereka hanya tahu kalau di Makassar cuma ada badik, ballo, nelayan tradisional yang miskin, dan penjual garam keliling. Padahal tidaklah seterbelakang seperti itu. Bahwa Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin bersama wakilnya Supomo Guntur, sedang bermimpi membawa Makassar menuju Kota Dunia, bukan mimpi biasa. Kata Prof A.Amiruddin tatkala dia menjadi gubernur Sulsel di masa lalu, hanya melalui mimpilah kita bisa bisa meraih sebuah impian. Impian A.Amiruddin waktu itu, ialah memindahkan kantor gubernur dari Jl.A.Yani ke Jl.Urip Sumaharjo. Dan mimpi itu terlaksana kendatipun mesti memindah pekuburan Cina ke Antang dan Bollangi di Gowa.

Sejarah adalah mimpi dari masa-masa sebelumnya. Wujud hari ini, adalah dari mimpi di waktu-waktu sebelumnya. Itulah rotasi hidup dan kehidupan sepanjang zaman. Bahwa kalau Walikota HM Dg.Patompo tak bermimpi, maka kawasan AP Pettarani dan Panakkukang tak akan pernah terwujud. Kalau Malik B.Masri tak pernah mimpi tentang nyala lampu di Abudabi malam hari, maka Makassar mungkin saja saat ini hanya akan punya lampu jalan yang tua dan keropos yang mati-menyalah dengan cara membosankan. Itulah mipin dari para pemimpin kita yang lampau. Maka, tak bolehkah kepemimpinan IASmo juga bermimpi pula ? Memperbaiki Karebosi, memperbaiki Losari ? Menjadikan Makassar sebagai ruang keluarga ? Dan membawawa Makassar menuju Kota Dunia kembali ? Mimpi Makassar menuju Kota Dunia, sebetulnya hal yang patut, mesti, dan sangat mungkin. Sebab di masa lalu justeru Makassar masuk 20 besar kota dunia yang ramai dalam perdagangan dunia. Itulah yang jadi acuannya.

Bermula dari Sungai Tallo

Sejarah kelahiran Kota Makassar, tak akan bisa mengesampingkan letak muara Sungai Tallo. Di muara sungai inilah, berawal sejarah terbentuknya kota Makassar. Kota yang kini menjadi ibukota Sulawesi Selatan. Kota yang menjadi pintu gerbang di kawasan Indonesia Timur, kota yang sedang dikemas menjadi Living Room (ruang keluarga), yang kemudian sedang didesain untuk kembali menjadi Kota Dunia.

Walikota Makassar yang pertama, yakni seorang Belanda bernama J.E.Dambrink yang memerintah tahun 1918-1927. Pemerintah Belanda waktu itu memang sangat beralasan membentuk pemerintahan kota Makassar, karena Makassar sudah masuk kedalam 20 besar kota dunia di bawah kerajaan Gowa-Tallo.

Pada abad ke-V, garis pantai di pesisir Makassar, berada di pada jalur yang kini dikenal dengan Jl.Jend Sudirman, hingga ke Dr.W.S.Husodo, seterusnya lurus hingga ke kawasan Tallo. Pada abad ke-VII, karena proses sedimentasi dari Sungai Jeneberang dan Sungai Tallo, garis pantai kemudian berpindah ke kawasan sepanjang Losari, hingga ke pesisir Tallo. Pada zaman itu, kawasan pesisir masih berupa hutan bakau. Belum dihuni penduduk.

Di penghujung abad XV, pesisir pantai di muara sungai Tallo, mulai terdapat pelabuhan niaga kecil. Pelabuhan ini kemudian semakin lama semakin ramai, hingga terbentuk kota kecil sebagai kota bandar niaga. Bandar sungai Tallo itu awalnya berada di bawah kerajaan Siang yang berpusat di sekitar Pangkajene, yang kini dikenal sebagai daerah pesisir yang berada di Kabupaten Pangkep. Pada pertengahan abad XVI, Tallo bersatu dengan sebuah kerajaan kecil lainnya yang bernama Gowa, dan mulai melepaskan diri dari kerajaan Siang. Kerajaan Siang yang kawasannya kini masuk dalam areal kabupaten Pangkep dan dipengaruhi oleh budaya Portugis dengan latar agama Kristen. Kerajaan Gowa-Tallo kemudian memerangi kerajaan-kerajaan tersebut, dan berhasil mengalahkan mereka. Kerajaan Siang kemudian hilang begitu saja nyaris tanpa jejak, seiring hilangnya pengaruh Portugis di kawasan itu. Dan Tallo dirangkul oleh Kerajaan Gowa dengan mengangkat pejabat Kerajaan Gowa untuk memerintah di Tallo. Belakangan muncullah istilah Kerajaan Kembar Gowa-Tallo.

Akibat semakin intensifnya kegiatan pertanian di hulu sungai Tallo, mengakibatkan sungai ini mengalami pendangkalan, sehingga bandarnya dipindahkan ke muara sungai Jeneberang. Disinilah berelangsung pembangunan kekuasaan di kawasan istana oleh para ningrat Gowa-Tallo, yang kemudian membangun pertahanan Benteng Somba Opu. Kawasan Somba Opu inilah kemudian yang jadi wilayah inti kota Makassar.

Pada masa pemerintahan Raja Gowa XVI, didirikan Benteng Ujung Pandang (Fort Rotterdam) di bagian utara. Lokasi benteng tidaklah terlalu jauh dari eks bandar niaga hulu sungai Tallo, dan dengan kehadiran benteng, kota eks bandar niaga Tallo mulai melebar ke sekitar benteng. Saat itu, pemerintahan kerajaan masih dibawah kekuasaan kerajaan Gowa, dan terjadi peningkatan aktifitas pada sektor perdagangan lokal, regional dan internasional, sektor politik, serta sektor pembangunan fisik oleh kerajaan. Masa ini merupakan puncak kejayaan kerajaan Gowa, namun selanjutnya, dengan adanya perjanjian Bungaya ternyata menghantarkan kerajaan Gowa pada awal keruntuhan.

Bandar Niaga Baru

Â

Komoditi ekspor utama Makassar adalah beras, yang dapat ditukar dengan rempah-rempah di Maluku, maupun barang-barang manufaktur asal Timur Tengah, India dan Cina di Nusantara Barat. Dari laporan Saudagar Portugal maupun catatan-catatan lontara setempat, diketahui bahwa peranan penting Saudagar Melayu dalam perdagangannya yang berdasarkan pertukaran surplus pertanian dengan barang-barang impor itu. Dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya, yang pada umumnya berbasis agraris pula, maka Makassar meningkatkan produksi komoditi itu dengan berarti, bahkan, dalam menyerang kerajaan-kerajaan kecil tainnya, para ningrat Makassar bukan hanya menguasai kawasan pertanian lawan-lawannya itu, akan tetapi berusaha pula untuk membujuk dan memaksa para saudagar setempat agar berpindah ke Makassar, sehingga kegiatan perdagangan semakin terkonsentrasi di bandar niaga baru itu. Dalam hanya seabad saja, Makassar menjadi salah satu kota niaga terkemuka dunia yang dihuni lebih 100.000 orang. Pada zaman itu, Makassar termasuk kota ke-20 terbesar dunia. Waktu itu jumlah penduduk kota Amsterdam, Belanda, baru mencapai sekitar 60.000 orang, meskipun sudah merupakan kota kosmopolitan dan multikultural. Perkembangan bandar Makasar yang demikian pesat itu, berkat hubungannya dengan perubahan pada tatanan perdagangan internasional masa itu. Pusat utama jaringan perdagangan di Malaka, ditaklukkan oleh Portugal pada tahun 1511, demikian di Jawa Utara semakin berkurang mengikuti kekalahan armada lautnya di tangan Portugal dan pengkotak-kotakan dengan kerajaan Mataram. Bahkan ketika Malaka diambil-alih oleh Kompeni Dagang Belanda VOC pada tahun 1641, sekian banyak pedagang Portugis ikut berpindah ke Makassar. Sampai pada pertengahan pertama abad ke-17, Makassar berupaya merentangkan kekuasaannya ke sebagian besar Indonesia Timur dengan menaklukkan Pulau Selayar dan sekitarnya, kerajaan-kerajaan Wolio di Buton, Bima di Sumbawa, Banggai dan Gorontalo di Sulawesi bagian Timur dan Utara, serta mengadakan perjanjian dengan kerajaan-kerajaan di Seram dan pulau-pulau lain di Maluku. Secara internasional, sebagai salah satu bagian penting dalam dunia Islam, Sultan Makassar menjalin hubungan perdagangan dan diplomatik yang erat dengan kerajaan-kerajaan Banten dan Aceh di Indonesia Barat, Golconda di India dan Kekaisaran Otoman di Timur Tengah.

Masuknya Islam
Hubungan Makassar dengan dunia Islam diawali dengan kehadiran Abdul Ma’mur Khatib Tunggal atau Dato’ Ri Bandang yang berasal dari Minangkabau Sumatera Barat yang tiba di Tallo (sekarang Makassar) pada bulan September 1605. Beliau mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I Mangngarangi Daeng Manrabia dengan gelar Sultan Hasanuddin, yang memerintah pada tahun 1593-1639, bersama dengan Mangkubumi I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, yang juga sebagai Raja Tallo. Kedua raja inilah yang memulai memeluk Agama Islam di Sulawesi Selatan.

Â

Pada tanggal 9 Nopember 1607, tepatnya hari Jum’at, diadakanlah sembahyang Jum’at pertama di Mesjid Tallo dan dinyatakan secara resmi penduduk Kerajaan Gowa-Tallo tetah memeluk Agama Islam, pada waktu bersamaan pula, diadakan sembahyang Jum’at di Mesjid Mangallekana di Somba Opu. Tanggal inilah yang selanjutnya diperingati sebagai hari jadi kota Makassar sejak tahun 2000 saat pemerintahan Walikota HB Amiruddin Maula, yang sebelumnya hari jadi kota Makassar jatuh pada tanggal 1 April.

Para ningrat Makassar dan rakyatnya dengan giat ikut dalam jaringan perdagangan internasional, dan interaksi dengan komunitas kota yang kosmopolitan itu menyebabkan sebuah “creative renaissance” yang menjadikan Bandar Makassar salah satu pusat ilmu pengetahuan terdepan pada zamannya. Koleksi buku dan peta, sesuatu yang pada zaman itu masih langkah di Eropa, yang terkumpul di Makassar, konon merupakan salah satu perpustakaan ilmiah terbesar di dunia, dan para sultan tak segan-segan memesan barang-barang paling mutakhir dari seluruh pelosok bumi ***

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya