HTTP Status[404] Errno [0]

Jadilah Sang Petarung Sejati

23 December 2012 13:15
Jadilah Sang Petarung Sejati

Oleh : Darmawijaya SS MSi
UntitledALHAMDULILLAH, jika tidak ada aral yang melintang, Insya Allah “Pesta Demokrasi Pilkada Sul-Sel” akan berlangsung pada tanggal 22 Januari 2013, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh KPU Sulawesi Selatan.
“Pesta Demokrasi Pilkada Sul-Sel” ini akan dimeriahkan oleh tiga petarung, yaitu Arief Sirajuddin, Syahrul Yasin Limpo dan Andi Rudiyanto Asapa. Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Rudiyanto adalah petarung baru yang mencoba naik ring untuk bertarung melawan Syahrul Yasin Limpo yang sedang berkuasa.
Siapakah di antara ketiga petarung ini yang akan meraih kemenangan, mungkinkah Syahrul Yasin Limpo mampu mempertahankan gelar juaranya, mungkinkah salah satu diantara yang dua petarung baru ini, Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Rudiyanto Asapa bisa meraih kemenangan. Itu semuanya serba mungkin. Untuk saat ini hanya Allah yang lebih tahu, sementara kita sebagai manusia biasa hanya bisa meraba-raba dan menduga-duga berdasarkan kalkulasi-kalkulasi yang kita pegang, sedangkan hasil akhirnya hanya bisa dilihat secara nyata setelah “Pesta Demokrasi Pilkada Sul-Sel” selesai dilaksanakan.
Penulis tertarik memberikan sedikit ide yang berasal dari gelitik hati dalam upaya ikut menyukseskan “Pesta Demokrasi Pilkada Sul-Sel” yang damai, dan terhindar dari gesekan-gesekan yang bisa melahirkan percikan api, serta bisa melahirkan pemimpin yang berkualitas.
Untuk itu, ada dua tata nilai tradisional yang perlu diperhantikan, yaitu budaya siri’ dan sipakatau yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang kita.
Adanya budaya siri’ dan sipakatau dalam masyarakat Sulawesi Selatan membuktikan bahwa nenek moyang kita dulu adalah orang yang memiliki kemampuan intelektualitas yang mumpuni, sehingga mereka mampu melakukan kreasi berpikir atau berijtihad dalam upaya merumuskan tata nilai yang bisa dijadikan sebagai acuan nilai bersama dalam upaya membangun kehidupan yang lebih beradab.
Hal itu mereka lakukan, karena petunjuk Allah dan rasul-Nya belum datang kepada mereka. Keadaanlah yang memaksa mereka harus memeras otak untuk merumuskan tata nilai. Budaya siri’ dan sipakatau merupakan buah dari ijtihad yang mereka lakukan, yang masih bertahan hingga saat ini.
Siri’ secara sederha artinya adalah rasa malu. Seseorang yang merasa sudah ternoda secara siri’, maka ia akan segera melakukan tindakan-tindakan, sehingga harga dirinya tetap terjaga. Setelah Islam datang, budaya siri’ tetap bertahan, karena budaya siri’ pada hakekatnya sejalan dengan tata nilai yang dianut dalam ajaran Islam. Budaya siri’ itu adalah sebagian dari pada iman. Islam tidak hanya memperkokoh budaya siri’ tetapi juga menempatkan siri’ itu secara tepat, sehingga siri’ itu betul-betul bisa berfungsi dalam rangka menciptakan manusia yang berbudi luhur atau berakhlak mulia, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Shalallhu’alaihi Wasallam beserta para sahabat Beliau yang mulia. Inilah yang dinamakan dengan siri’ ilahiyah, yaitu siri’ yang didasari dengan kalimat “laa ilaha illallah” yang merupakan ideologi para nabi, mulai dari Nabi Adam alahissalam hingga Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi Wasallam. Dengan siri’ ilahiyah, maka mereka mampu meraih kemulian hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Inilah siri’ yang sebenar-benarnya siri’ yang membuat pelakunya menjadi manusia yang mulia di sisi Allah dan di sisi manusia.
Namun dalam realitasnya, budaya siri’ ini mudah sekali terjebak dengan bisikan hawa nafsu, sehingga membuat para pelakunya melakukan tindakan-tindakan destruktif (merusak) yang bisa berujung pada pertumpahan darah. Apalagi kalau budaya siri’ seperti ini dibawa ke dalam arena politik, tentu akan sangat berbahaya. Inilah bentuk siri’ yang tidak ilahiyah, karena siri’ seperti ini tidak akan membawa pelakunya pada kemuliaan, tapi membawa pelakunya menjadi sangat egois, karena hanya masalah sepele, siri’nya mulai berbicara dan ujung-ujungnya adalah pertumpahan darah. Nauzubillah……..
“Pesta Demokrasi Pilkada Sul-Sel” yang akan berlangsung pada 22 Januari 2013 nanti adalah sebuah “Pesta Demokrasi” yang melibatkan tiga petarung , yang dapat dianggap sebagai putra-putra terbaik Sulawesi Selatan. “Pesta Demokrasi” sebagai arena pertarungan politik dalam rangka berjuang meraih posisi orang nomor satu di Sulawesi Selatan, tentu akan melahirkan gesekan-gesekan tajam. Gesekan-gesekan tajam itu, jika tidak ditata dengan baik, akan berpeluang menjadi percikan api yang tidak hanya berpeluang membakar diri para petarung, tapi juga akan membakar rakyat Sulawesi Selatan.
Di sinilah perlunya siri’ ilahiyah itu dipegang dengan seerat-eratnya, sehingga bagaimanapun tajamnya pergesekan yang terjadi, tetapi masing-masing petarung masih mampu mengendalikan diri dengan baik, sehingga “Pesta Demokrasi Sul-Sel 2013” betul-betul menyuguhkan sebuah pertarungan politik yang sangat propesional dan mengagumkan, serta layak untuk diacungi jempol.
Sebagai penutup, ayo kita berdoa semoga tiga petarung ini mampu menjadi para petarung sejati yang berpegang teguh pada siri’ ilahiyah, sehingga mereka mampu memperlihatkan sikap arif dan bijak. Jika menang, maka ia tidak sombong dengan kemenagan itu, tapi kemenagan itu dijadikannya sebagai momen untuk membuktikan bahwa dirinya memang layak dipilih menjadi seorang pemimpin, dan jika kalah, maka ia pun tidak merasa terhina dan menerima kekalahan itu secara lapang dada.
Inilah bentuk nyata dari pengamalan budaya siri’ ilahiyah, sehingga mampu menjaga budaya sipakatau, karena budaya sipakatau ini sangat penting artinya dalam upaya membangun Sulawesi Selatan yang sama-sama kita cintai ini, menjadi daerah yang lebih aman, lebih sejahterah dan lebih maju, karena itulah harapan kita semua. Amin Amin Yarabbul’alamin ***

Darmawijaya SS Msi adalah Dosen Ilmu Sejarah Pada Universitas Khairun Ternate


Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya