HTTP Status[404] Errno [0]

Tokoh Spiritual Surabaya Menerawang Kasus Hambalang

23 December 2012 13:21
Tokoh Spiritual Surabaya Menerawang Kasus Hambalang
Ki Sabdo Jagad Royo
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Ki Sabdo Jagad Royo

Ki Sabdo Jagad Royo

BugisPos — Seorang tokoh spritual asal Surabaya, Ki Sabdo Jagad Royo, mendatangi kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Selasa 18/12/2012 petang.

Seusai menemui pihak KPK, Ki Sabdo mengaku sudah menerawang sejak setahun lalu, bahwa tiga petinggi Partai Demokrat, yakni Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, dan Angelina Sondakh, terlibat kasus dugaan korupsi proyek Hambalang.

“Penerawangan saya sudah sejak setahun lalu, Anas, Andi Mallarangeng, Angelina Sondakh terlibat dalam hal Hambalang,” kata Ki Sabdo di depan Kantor KPK.

Saat ditanya, apakah Anas yang saat ini menjadi Ketua Umum Partai Demokrat (PD) akan menjadi tersangka kasus Hambalang?

“Insya Allah. Tadi, saya dengan KPK berdoa supaya Anas di KPK bisa lebih cepat,” jawabnya.

Pria yang mengenakan blangkon hitam mengaku siap menantang balik Anas jika pernyataannya tidak terbukti.

“Kan katanya Anas kalau terbukti mengambil Rp 1 siap digantung, kalau tidak, saya yang siap digantung,” ujar Ki Sabdo seperti dikutip tribunnews.com

Perihal penerawangannya ini, Ki Sabdo mengakui tak mengantongi bukti formil secara hukum, bahwa Anas terlibat kasus Hambalang.

“Saya punya buktinya secara spritiual,” ucap Ki Sabdo saat membentangkan spanduk bertuliskan dirinya juga siap ‘Sumpah Pocong’.

Satu per satu, orang-orang yang disebutkan mantan Bendahara Umum PD Muhammad Nazaruddin terlibat kasus korupsi, telah menjadi tersangka di KPK.

Terkini, KPK menetapkan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng menjadi tersangka, karena telah menyalahgunakan kewenangan sebagai pengguna anggaran proyek pengadaan Pusat Olahraga Hambalang.

Wawancara dengan Ki Sabdo

Ki Sabdo Jagad Royo, menyoroti dunia hukum dan perpolitikan tanah air. Tidak tanggung-tanggung, orang-orang paling berpengaruh saat ini menjadi rasan-rasan supranaturalis asli Surabaya ini. “Hukum di negeri ini sudah sangat compang-camping. Wong cilik yang melakukan kesalahan begitu mudahnya dijebloskan penjara. Sebaliknya jika pelakunya para pembesar maka seolah-olah tidak ada hukum yang sanggup menyentuhnya. Jadi tunggu saja terjadinya revolusi yang bisa jadi pada tahun ini juga,” jelas Ki Sabdo kepada media Radjawarta, beberapa waktu lalu.

Ki Sabdo berkoar-koar seperti ini bukan tidak ada dasar. Menurutnya, sejak 6 bulan lalu sebenarnya dirinya mengaku sudah mendapatkan terawangan tentang keterlibatan orang-orang Partai Demokrat, yakni Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng dan Angelina Sondakh (Angie) dalam kasus Wisma Atlet Palembang.

Seperti diketahui, ahli supranatural Ki Sabdo Jagad Royo senantiasa memantau persidangan kasus Wisma Atlet yang melibatkan terdakwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat, M. Nazaruddin. Namun orang-orang yang terlibat hingga kini justru bebas berkeliaran. “Susah kalau tetap begitu. Hukum seperti itu tetap bisa direkayasa!” kata Ki Sabdo.

Lebih jauh Ki Sabdo mengungkapkan, terbongkarnya kasus ini ibarat membuka kotak Pandora. Seharusnya aparat penegak hukum bisa leluasa memeriksa semua orang yang terlibat di dalamnya. Tapi ini lain, ada suatu ‘drama’ yang sedang diputar. Ada banyak keruwetan yang sedang mereka atur.

Digambarkan Ki Sabdo, dalam lakon wayang Purwa, diceritakan asal muasal keberadaan Dasamuka atau Rahwana tokoh raksasa yang dikenal angkara murka, berwatak candala dan gemar menumpahkan darah. Dasamuka lahir dari ayah seorang Begawan sepuh sakti linuwih gentur tapanya serta luas pengetahuannya yang bernama Wisrawa dan ibu Dewi Sukesi yang berparas jelita tiada bandingannya dan cerdas haus ilmu kesejatian hidup.

“Begawan, wanita cantik, ilmu kesejatian hidup merupakan pelaksana hukum. Tapi sayang sekali, hukum itu kini sedang dipermainkan. Dipermainkan orang-orang yang sedang berkuasa, yakni Dasamuka,” sindir Ki Sabdo.

Dalam kasus Si Nazaruddin, sudah jelas kalau akar permasalahan mengarah kepada “SATU” orang. Namun Ki Sabdo enggan menyebut siapa ‘satu’ orang tersebut. Yang jelas, menurutnya, terlepas dari kesalahan Nazaruddin, kini aib para penguasa negeri ini telah terbongkar. “Masyarakat kan sudah banyak yang pintar, jadi tanpa dibongkar lewat persidanganpun sudah tahu semuanya. Ini yang menjadi suatu hal riskan. Sebab lama-lama masyarakat yang memiliki negeri ini tidak tahan dan tidak sabar juga. Saya pribadi berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi di negeri ini sebab saya sangat mencintai NKRI,” tandasnya.

Selanjutnya, Ki Sabdo menyayangkan para Wisrawa (ksatria) berwatak wiku yang digadang-gadang dapat menjadi algojo atau pengeksekusi, terlalu lamban bekerja. Padahal para Wisrawa itu termasuk kaum cerdik, pandai dan sakti mandraguna. Mereka mendapat anugerah menguasai Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu, sebuah ilmu mengenai ketatanegaraan. Wisrawa yang dimaksud adalah hakim, polisi, kejaksaan dan KPK.

“Kalau saya melihat, Wisrawa kita mulai melempem. Sebagian dari mereka menyerahkan tahta kerajaaan kepada para penguasa. Lebih suka tunduk pada kebatilan,” kata Ki Sabdo.

Jika para Wisrawa tidak bisa berbuat banyak, maka para terhukum di negeri ini akan semakin asyik bercengkrama dengan dunianya. Malahan, para Dasamuka itu bebas berbuat yang lebih daripada sekarang ini.

Kembali dalam kasus Nazaruddin, Ki Sabdo menerawang, Partai Demokrat pada tahun 2014 nanti dipastikan tidak akan berkuasa lagi. Sebab, begitu banyak masalah yang ‘dipendam’ oleh Demokrat, sehingga yang namanya penghuni gaib di Istana Negara, sangat marah betul terhadap Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Kasus Nazaruddin merupakan contoh satu dari sekian banyak kasus yang terjadi di tubuh Demokrat. Kasus tersebut kini menjadi pelik, karena hukum tidak bisa buru-buru bertindak. “Dari kacamata spiritual, saya berani memastikan ketiga orang ini (Anas Urbaningrum, Andi Mallarangeng, dan Angelina Sondakh) akan menjadi tersangka oleh KPK,” terawang pria yang selama dua periode berhasil membawa SBY menduduki kursi kepresidenan ini.

Yah, meski hukum di negeri ini terlalu lamban bertindak, Ki Sabdo percaya diantara Kisrawa-kisrawa tersebut masih terdapat cahaya kebajikan. “Mereka masih punya kepedulian terhadap keadilan,” lanjutnya.

Karenanya Ki Sabdo mendesak KPK untuk langsung menahan ketiga orang ini. “Jangan boleh pulang, tahan saja!” ujar paranormal yang terbiasa keluar masuk Istana Negara ini. RW (*)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya