HTTP Status[404] Errno [0]

Agus Chaeruddin, Office Boy Jujur Ditawari jadi Caleg PKS

01 January 2013 19:16
Agus Chaeruddin, Office Boy Jujur Ditawari jadi Caleg PKS
Agus Chaeruddin (35 tahun) Office Boy (OB) Bank Syariah Mandiri, dianggap jujur karena mengembalikan uang Rp100 juta yang ia temukan di tong sampah.
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Agus Chaeruddin (35 tahun) Office Boy (OB) Bank Syariah Mandiri, dianggap jujur karena mengembalikan uang Rp100 juta yang ia temukan di tong sampah.

Agus Chaeruddin (35 tahun) Office Boy (OB) Bank Syariah Mandiri, dianggap jujur karena mengembalikan uang Rp100 juta yang ia temukan di tong sampah.

BugisPos —Â Dewan Perwakilan Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kota Bekasi mendukung penuh rencana pencalonan Agus Chaerudin sebagai anggota legislatif. Sebab, sifat kejujuran karyawan office boy (OB) pada Bank Syariah Mandiri Bekasi itu dinilai bisa menjadi panutan bagi masyarakat.

 “Kalau jadi wakil rakyat, nantinya masyarakat bisa meniru sosoknya,” ujar Ketua DPD PKS Kota Bekasi Chairoman J. Putro, Senin, (1/1/2013), seperti dikutip dari Tempo.co. Rencana pengusungan Agus sebagai calon legislatif itu merupakan penghargaan dari DPP PKS atas kejujuran pria bersahaja itu.

Menurut Chairoman, apresiasi itu tidak diberikan kepada sembarang orang. PKS menilai sifat kejujuran Agus mampu menjadi keteladanan bagi masyarakat. “Dia bisa memperlihatkan nilai-nilai kemuliaan yang sudah jarang ditemui,” katanya.

Choiruman menilai, di tengah kondisi masyarakat saat ini, kejujuran justru terbukti masih ada di kalangan masyarakat kecil. Fakta itu dianggap sangat berarti bagi pembangunan masyarakat keseluruhan.

Akan tetapi, Chairoman menambahkan, pihaknya belum mengetahui daerah pemilihan yang akan mencalonkan Agus sebagai anggota DPR. Sebab, pencalonan Agus jadi wakil rakyat bisa dari wilayah kelahirannya di Garut, maupun wilayah tempat tinggalnya saat ini di Kota Bekasi.

“Mengenai wilayah pengusungan Agus, saya belum mengetahui pasti,” tutur Chairoman.

Ketua Bidang Humas DPD PKS Kota Bekasi, Ariyanto Hendrata menambahkan, pengusungan wilayah pencalonan legislatif Agus menjadi wewenang DPP PKS. Ariyanto mengaku siap jika Agus diusung dari wilayah Kota Bekasi.

“Tapi terpilih atau tidak, itu semua tergantung masyarakat,” kata dia.

Profil Agus Chaeruddin, Si Office Boy yang Jujur

Sebagaimana dirilis KOMPAS.com, temuan 10 bundel uang kertas pecahan Rp 100.000 yang bernilai total Rp 100 juta tidak mampu menggoda Agus Chaerudin (35) untuk silap dan mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Uang sebanyak itu langsung dia kembalikan tanpa sedikit pun dikorupsi.

Agus bukanlah pegawai tingkat atas. Ia pegawai rendah Bank Syariah Mandiri (BSM) Kantor Cabang Pembantu (KCP) Kalimalang, Plaza Duta Permai, Jakasampurna, Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jawa Barat. Namun, ia memberikan keteladanan yang luar biasa di tengah maraknya korupsi yang dilakukan pejabat negara.

Karena dianggap bertindak terpuji, Agus pun dianugerahi piagam penghargaan dari BSM Cabang Bekasi saat acara kumpul bersama di area wisata di Ciloto, Cianjur, Jawa Barat, pada 2012. Selain sertifikat, Agus juga dihadiahi uang Rp 1,75 juta dari pimpinan BSM se-Bekasi Raya.

Tindakan Agus juga mendapat apresiasi dari BSM Pusat. Dalam Gathering Ke-13 BSM di Dunia Fantasi, Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Minggu (16/12/2012), Agus dianugerahi piagam penghargaan.

”Alhamdulillah, saya tidak mengambilnya karena tidak barokah. Itu bukan rezeki halal kalau saya ambil,” kata Agus kepada Kompas, dengan suara bergetar, mata berlinang, tetapi terpancar aura kebahagiaan.

Agus merasa cukup bahagia bekerja sebagai pegawai rendah dalam manajemen Koperasi Karyawan BSM dengan penempatan di KCP Kalimalang.

“Tidak apa-apa saya jadi pesuruh, yang penting hasilnya halal,” katanya.

Penghasilannya sekitar Rp 2,9 per bulan ia syukuri karena bisa menghidupi istri, Elis Nurjamilah (34), dan ketiga anaknya, Hilman Faturrahman (13), Gina Fatimah Zahroh (8), dan Syifa Robiatul Adawiyah (3). Agus dan Elis menikah pada 1999.

Menemukan Uang Rp 100 Juta Saat Memungut sampah

Kejadian berawal saat Agus hendak memunguti sampah. Saat itu bulan puasa, tepatnya 4 Agustus 2011 pukul 17.30. Pegawai BSM KCP Kalimalang sudah pulang, kecuali Agus dan seorang petugas satpam.

Ia menemukan 10 bundel uang berada di lantai, menumpuk di belakang tempat sampah bagian teller. Uang itu tidak terbungkus apa pun.

Tanpa banyak pikir, Agus langsung berteriak memanggil petugas satpam dan menyerahkan seluruh uang yang ditemukannya itu. Agus dan petugas satpam lalu menghubungi staf dan pimpinan KCP yang lantas tergopoh-gopoh datang.

Uang temuan Agus itu dihitung ulang, dan tepat Rp 100 juta, pembukuan dicek ulang dan ternyata ada kekeliruan. Uang itu bukan milik nasabah, melainkan milik BSM yang tergeletak karena keteledoran bagian teller dan untungnya diselamatkan oleh Agus.

Sebelum mengabdi di BSM, Agus bekerja sebagai pegawai rendah berstatus alih daya pada Usaha Gedung Bank Dagang Negara di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Dia mulai bekerja setelah menamatkan pendidikan di SMEA Pusaka Nusantara 1 Jakarta Timur atas bantuan ayahanda yang juga pegawai rendah di Usaha Gedung Bank Dagang Negara.

Sebelum bekerja di kantor, Agus mengaku pernah menjadi tenaga pencuci piring dan penjual nasi goreng. Ia juga pernah bekerja sebagai pencuci gelas bekas minuman jamu di Klender, Jakarta Timur.

Saat di SMEA, Agus juga pernah berjualan air minum dalam kemasan dan mengecer dompet di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.

”Saya juga pernah ditendang satpol PP, tetapi itulah hidup. Saya jualan di Asrama Haji dengan harapan suatu saat bisa seberuntung mereka, naik haji,” katanya.

Kini Agus dan keluarga menghuni rumah petak sederhana pemberian orangtua di Kampung Curug Raya, Jaticempaka, Pondok Gede, Kota Bekasi. ”Maaf, rumah kami kecil,” kata Elis saat ditemui, Selasa (18/12/2012).

Pagi itu Elis sedang mencuci baju di depan rumahnya. Anaknya, Hilman, bersekolah, sedangkan Gina menikmati nasi goreng, duduk di samping Syifa yang terbaring.

Ketika ditanya apakah ia pernah mendapat cerita bahwa suaminya menemukan uang banyak tetapi mengembalikannya, Elis pun hanya tersenyum dan mengangguk. Baginya, tindakan Agus adalah kebahagiaan.

”Sebenarnya apa yang dilakukan suami saya itu biasa. Masa sih layak diberitakan ke publik,” kata Elis yang sehari-hari juga menjadi guru mengaji sukarela anak-anak di Mushala Al-Misaniyah di seberang rumah.

Elis memang mengenal Agus sebagai sosok lelaki yang polos, jujur, dan taat beribadah. Sang suami adalah lelaki yang sabar, penyayang saudara, dan rela berkorban.

Sepengetahuannya, selepas SMEA pun Agus menolak kuliah demi meringankan beban ekonomi keluarga dan mendorong adik-adiknya berpendidikan lebih tinggi.

Kini Elis dan Agus pun masih menyimpan ambisi untuk menempuh pendidikan lanjutan. Mereka hanya bercita-cita bisa menyekolahkan anak-anak mereka setinggi-tingginya sebagai bekal hidup kelak.

”Kami pasti akan banting tulang demi memastikan pendidikan anak-anak terpenuhi,” katanya.

Impian Agus dan Elis kini adalah menunaikan ibadah haji. ”Semoga, sebelum dipanggil Allah, kami bisa menunaikannya,” kata Elis.(gafar)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya