HTTP Status[404] Errno [0]

Pementasan “Walida”, Tenun Ibarat Keluarga

04 January 2013 23:18
Pementasan “Walida”, Tenun Ibarat Keluarga
Salah satu adegan pementasan Walida
  • share facebook - suara.com
  • share twitter - suara.com
  • share google plus - suara.com
Salah satu adegan pementasan Walida

Salah satu adegan pementasan Walida

BugisPos — Di sudut rumah panggung Bugis, seorang anak kecil memainkan permainan tradisional seorang diri. Rambutnya kusut dan tidak terurus. Kedua kakinya terpasung. Sementara di sudut lain, seorang ibu memandang lurus dengan tatapan sayu. Tangannya masih menggenggam walida (alat tenun).
Dengan gemulai, ia mulai menenun. Lampu hijau menyorot tangga rumah. Seorang perempuan memakai baju bodo turun perlahan dengan menarikan tari pattennung. Sementara alunan kecapi, suling, dan gendang lamat-lamat mengiringi gerakannya. Langkahnya terhenti di depan putaran pemintal. Ia memutar pemintal yang menandai cerita baru dimulai.

Itulah salah satu adegan dalam pementasan berjudul, “Walida” yang disutradarai Erwin Suprianto dan asisten sutradara Hijrah Nasir. Lakonnya dipentaskan Teater Kampus Unhas di Baruga Andi Pangeran Pettarani, Universitas Hasanuddin, Minggu, 14 Oktober 2012. Dengan durasi pementasan 47 menit, pementasan ini mengisahkan kehidupan seorang perempuan penenun yang menghabiskan hampir separuh hidupnya terpasung di bawah tenunan.

Cerita diawali dengan kepergian suaminya merantau ke negeri seberang karena siri. Perempuan ini harus membesarkan anaknya seorang diri. Selama bertahun-tahun ia menunggu kedatangan suaminya dengan terus menenun. Berharap suatu saat sarung-sarung itu akan dipersembahkan kepada suaminya saat ia kembali.

Namun, seiring berjalannya waktu, sang suami tak kunjung kembali. Konflik kemudian hadir ketika orang tua perempuan prihatin melihat kondisi anaknya yang terus saja menunggu dengan setia. Sampai ketika seorang rentenir datang dan berniat menikahinya. Namun, ia tetap bertahan dengan kesetiaannya sampai akhir hidupnya.

Tenun menjadi media yang digunakan oleh ibu untuk mengajari anaknya tentang nilai-nilai kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan menjalani hidup. Seperti yang terlihat dalam penggalan dialog dari naskah Walida yang ditulis lham berikut ini.

“Belajarlah menenun, Anakku agar kau tahu bahwa di setiap benang yang kau tenun kau akan hidup bersama tenunanmu. Putarlah pemintal itu seolah kau memutar waktu hidupmu. Perlakukan benang-benang itu seperti kau memperlakukan orang-orang yang kau cintai. Suatu saat nanti kau akan tahu mengapa perempuan diajarkan untuk menenun benang-benang itu satu per satu. Karena tenun ibarat keluarga. Jika ada yang memutuskan, kitalah, Nak, perempuan yang harus menyatukannya kembali.”

Sutradara mengemas pementasan ini dengan memasukkan beberapa unsur gerakan tari pattennung ke dalamnya, lengkap dengan alunan musik tradisional dengan bunyi kecapi, suling, gendang Makassar, dan gendang Toraja yang semakin menambah penggambaran suasana tradisi dari pementasan ini. Dengan setting Bugis zaman dulu, sutradara menghadirkan gambaran rumah panggung dan balai-balai yang diisi seperangkat alat tenun dan pemintal.

Sepanjang pementasan, tokoh Indo’ memang mendominasi adegan. Hampir semua dialognya dilakukan sambil menenun. Dengan begitu, sedikit gambaran bahwa tenun telah menjelma menjadi pasung buat Indo’ tanpa dia sadari. Di akhir pementasan, tokoh Indo’ digambarkan lepas dari tenunan yang menjadi belenggunya selama ini.

“Pementasan ini berusaha menggambarkan pemasungan yang dialami oleh seorang perempuan lewat media tenun yang dikemas dalam konflik keluarga. Meskipun di sisi lain, tenun mengajarkan perempuan untuk memiliki kesabaran, keikhlasan, kesetiaan, dan kehalusan budi. Namun tenun ini adalah salah satu alat alienasi untuk perempuan. Membatasi ruang geraknya tanpa mereka sadari,” kata Erwin Suprianto, sutradara pementasan ini di sela-sela diskusi.

“Pementasan ini adalah karya Teater Kampus Unhas yang ditujukan untuk pengambilan gambar yang akan diikutkan dalam kurasi Festival Teater Mahasiswa Nasional (FESTAMASIO VI) yang akan digelar oleh Teater Tiyang Alit, ITS Surabaya, Februari 2013. Harapannya, proses yang dijalani selama beberapa bulan terakhir dapat memberikan banyak pembelajaran bagi tim untuk semakin mampu mendisiplinkan diri. Selain itu, juga menghargai proses yang dijalani sehingga penghargaan terhadap hal-hal yang hadir di panggung bukan lagi sekadar sandiwara belaka, tapi benar-benar diresapi.” Ungkap Ilham, Ketua Umum Teater Kampus Unhas yang juga penulis naskah ini.

(HIJRAH NASIR, Divisi Kaderisasi dan Pengembangan Mutu Sumber Daya Teater Kampus Unhas)

Bugispos.com

Bugispos.com adalah media online yang
menyajikan berita terbaru dan populer, baik hukum, kriminal, peristiwa, politik, bisnis, entertainment, event serta berita lainnya